Mama Merintih Keenakan

Sandra menggeliat kegelian saat merasakan kontol Doni memasuki memeknya yang hangat. Dia menggoyang dan memutar-mutar pantatnya saat Doni mulai mengayun-ayunkan kontolnya maju mundur.
Sandra menunggingkan pantanya setingggi yang dia bisa sambil tetap berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya di tepi bak mandi itu.

Air di dalam bak itu merendam hingga ke lututnya dan Doni, anaknya, sedang asyik mengentot memeknya dari belakang, tangan Doni mencengkram pinggang Sandra dengan erat.

Sandra merintih-rintih di dalam ekstasinya saat memeknya merenggang dan menyempit di sekitar kontol Doni yang bergerak keluar masuk.

Pantat Sandra bergoyang-goyang dengan lincahnya saat kontol Doni menghujam sedalam-dalamnya, suara-suara perut bawah Doni yang menghantam-hantam pantat Sandra yang menggesek-gesek itu terdengar sangat menghanyutkan.
Sementara Doni sedang asyik mengentot memeknya, Sandra malah jadi berkhayal tentang Surti, tentang tubuh ramping Surti yang telanjang bulat, dengan paha Surti yang mulus dan panajang melingkar diatas bahu Sandra, memompa memek kecilnya ke mulut Sandra.

Sandra tidak merasa heran saat menyadari kalau dirinya jadi berkhayal tentang keinginannya untuk bisa menjilati memek Surti yang lezat itu.

Karena dari dulu dia memang sudah merasa penasaran seperti apa rasanya jika mulutnya sedang menjilati memek wanita lain.

Gambaran-gambaran di dalam pikiran nya itu semakin lama jadi semakin tampak nyata sehingga Sandra menjilat-jilati bibirnya sendiri, saat memeknya sedang menelan, menghisap, dan meremas-remas kontol Doni, anaknya yang sedang mengentotnya dari belakang.
Sandra sudah melihat ekspresi di wajah Surti, dan dia merasa yakin bahwa ada bara api birahi yang membara di dalam tubuh gadis belia itu, api yang ingin membakar sebuah kontol sampai hangus.

Sandra tidak ragu sedikit pun kalau Surti itu seperti sebuah bom waktu, yang sedang menunggu sebuah kontol untuk menyodok dan memicu ledakan nafsunya. Dan tampaknya, Surti mengandalkan kontol Doni untuk jadi pemicunya.

Sandra merasa cocok dengan ide itu. Tapi dia tidak ingin Doni dan Surti bersembungi di balik semak-semak lalu ngentot. Dia ingin agar Doni dan Surti bisa ngentot di tempat yang terilihat olehnya.

Sebelumnya, Sandra tidak pernah menganggap dirinya sebagai wanita petualang, tapi setelah melihat kontol anaknya jadi tegang, Sandra jadi benar-benar ingin melihat memek Surti.

Dia menggoyang-goyangkan pantatnya dengan liar saat Doni mempercepat ayunan kontolnya yang keluar masuk di memeknya.
Khayalan-khayalan nya yang erotis itu telah menciptakan sebuah badai yang dahsyat di memeknya, sehingga Sandra bisa merasakan orgasmenya yang semakin memuncak laksana gunung yang siap meledak.

Denyutan kontol Doni di bibir memeknya terasa semakin kencang, sehingga Sandra jadi memutar-mutar pantatnya yang gatal dengan binal, dia ingin menyedot habis semua sperma yang tersimpan di biji kontol Doni. 

Merasakan goyangan pantat Mamanya itu, Doni jadi mengerang dan kejang-kejang, kontolnya jadi semakin berang dan terus menerjang dengan garang.

Awalnya Sandra hanya mendesah dan merintih dengan perlahan, tapi kemudian sesnsasi nikmat dari orgasmenya yang dahsyat mengguncang-guncang tubuhnya yang telanjang bulat.

Dia jadi menjerit sekuat tenaga, karena tak mampu lagi mengendalikan tubuhnya, saat dia muncrat.
Seketika itu juga, Doni menyemprot ke dalam lobang memek Sandra, lalu roboh di atas tubuh Mamanya itu, kehabisan napas, kontolnya amblas, terasa panas, tapi puas, walau lemas.

Saat Surti kembali, Sandra dan Doni sudah berpakaian. Seperti biasanya, dihari-hari yang panas, Doni selalu mengenakan celana pendeknya.

Sandra menyukai itu, karena akan selalu ada kemungkinan bagi kepala kontol Doni untuk mengintip keluar. Sandra sudah memilih untuk mengenakan sebuah rok mini dan blouse yang tipis.

Dia merasa sangat seksi karena dibalik itu, dia sengaja tidak mengenakan celana dalam dan bra. Bagian bawah rok nya jadi terbuka saat Sandra berjalan, sehingga menampakkan kedua pahanya yang panjang dan mulus.

Sedangkan Surti masih tetap mengenakan baju renangnya, dan sepertinya baju itu selalu terselip ke dalam belahan pantatnya yang indah.

Mata Doni jadi melotot saat dia mengamati gadis berambut pirang itu, dan Sandra tahu betapa sangat inginnya Doni untuk mengentot gadis yang menjadi teman sekolahnya itu.

Sandra bisa merasakan hasrat Doni itu karena dia sendiri juga jadi merasa bernafsu setelah melihat Surti yang tampak sangat lezat itu.
Sandra tidak merasa cemburu walaupun Doni menatap Surti dengan penuh nafsu, bahkan dia malah merasa sangat senang.

Karena merasa lebih berpengalaman di banding anaknya, Sandra tahu bahwa, karena Surti sudah berani menunjukkan tubuh bugilnya kepada Doni, maka hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum Surti akhirnya mengentot Doni dengan buas dan ganas.

Walau Surti terlihat segar, cantik, dan lugu, tapi dari tatapan matanya, tampak jelas kalau Surti sudah sangat siap untuk mengentot. Mata Surti itu berusaha menggoda, bukan cuma kepada Doni, tapi juga Sandra.

Tapi itu tidak mengejutkan bagi Sandra, bukan berdasarkan apa yang sudah dia dengar tentang kelakuan Surti dan Doni. Gadis seumur Surti itu, dengan lendir memeknya yang mendidih, akan selalu siap untuk mengentot anak laki-laki ataupun perempuan.
"Kenapa kau tidak ikut saja bersama kami, Sandra?" kata Surti.

Sikap Surti yang memanggil nama depannya itu tidak membuat Sandra jadi merasa terganggu. Bagi Sandra, umur itu tidak ada bedanya.

Gadis itu memiliki sifat yang sangat bersahabat, juga sangat pemberani, seperti yang dirasakan oleh Sandra.

Daya tarik seksual Surti tampak sangat terasa, memancar laksana sebuah gelombang panas yang.membakar Surti tidak akan bisa menutup-nutupinya.

"Jika kau tidak merasa keberatan dengan seorang wanita tua seperti ku, aku pasti akan senang untuk ikut, Surti." jawab Sandra.

"Aku tidak menganggap mu sudah tua." kata Surti dengan suara yang berbisik, matatnya menatap ke arah tetek Sandra. "Kau jauh lebih muda di banding ibuku, dan kau juga jauh lebih cantik."

"Oh seperti itu, terima kasih, sayang." Sandra merasa teranjung dengan pujian itu. Teteknya jadi semakin membusung, menggeleantung. "Kau sendiri juga sangat cantik."

"Gue tahu itu." Surti mendesah, tidak memperdulikan pujian Sandra.  "Semua orang mengatakan itu pada ku. Sampai-sampai terkadang aku jadi muak mendengarnya, pingin muntah!"

"Tapi seharusnya kau merasa bangga, Surti." kata Sandra.

"Oh, aku rasa aku memang merasa bangga dengan penampilan ku, tapi terkadang itu malah menimbulkan banyak masalah."

"Oh, seperti itu? Masalahnya apa?" Sandra jadi ingin tahu, karna sudah keburu nafsu.

"Cowok-cowok." jawab Surti dengan kesal.

"Memangnya ada masalah apa dengan mereka?" Sandra masih tetap ingin tahu.

"Mereka jadi mengira kalau aku ini lemah, rapuh." jawab Surti. "Aku pernah mendengar salah seorang cowok yang berkata pada temannya kalau aku ini terlalu cantik untuk disentuh."

"Oh, seperti itu." Sandra mengangguk-angguk.

Cowok dan juga sebagian pria sangat idiot, Sandra tahu itu. Mereka mengira cuma karena seorang cewek atau wanita itu luar biasa cantiknya, maka mereka jadi tidak bisa disentuh, padahal sesungguhnya mereka juga sangat ingin disentuh dan disetubuhi.

Mereka memberikan tempat yang terlalu tinggi kepada seorang gadis yang cantik lalu menempatkannya di sebuah tempat pemujaan, hanya untuk dipandang dan dipuja, tapi merasa sangat takut untuk menyentuhnya karena mudah rusak.
Mereka mengira kalau seorang gadis yang sangat cantik seperti itu sampai ditusuk dengan sebuah kontol yang keras, maka kecantikannya akan hilang untuk selama-lamanya

"Tapi Doni tidak seperti cowok-cowok itukan?" tanya Sandra.

"Untunglah, Doni tidak seperti mereka." Surti tertawa genit. "Doni itu lain. Dia memahami ku."

"Oh, seperti itu, benarkah Doni seperti itu?" Sandra tersenyum, merasa geli.

Dengan mata yang bersinar, Surti menatap Sandra.

"Ya, seperti itu." jawab Surti, seperti itu, sepertinya dia seperti itu.

"Hmmm." Sandra mendesah. "Okelah kalau begitu, ayo kita jalan-jalan naik sepeda."

Dipaksa Mengentot Mama

Gadis muda itu muncul dari pintu geser yang terbuat dari kaca. Dia melambaikan tangannya, menyapa lalu duduk di salah satu bangku.
Sandra segera menengok ke arah air untuk melihat apakah gadis itu bisa tahu kalau mereka sedang telanjang bulat.

Gadis itu tidak bisa melihat banyak, hanya bayangan dari bentuk tubuh mereka saja. Tapi puting Sandra bisa terdeteksi jika gadis kecil itu menunduk untuk melihat lebih dekat.

Surti memiliki rambut pirang yang panjang, dan sebuah wajah yang tampak sangat manis dan lugu. Hari ini, dia mengenakan baju renang yang membungkus seluruh tubuhnya dengan sangat ketat.

Dua tonjolan kecil membentuk teteknya. Sandra memandangi gadis kecil itu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. 

Cara Sandra memandangi Surti sama seperti cara Doni memandangi Sandra saat dia sedang telanjang.

Sandra membayangkan seperti apa kira-kira memek gadis kecil itu, dan teteknya yang baru tumbuh. Dia jadi terkejut saat menyadari kalau gambaran tersebut ternyata cukup menyenangkan.
Tersembunyi di bawah permukaan air, tangan Sandra bergerak ke paha Doni dan ternyata kontolnya sedang berdiri dengan tegang.

Sandra tersenyum sendiri, karena tahu kalau Doni jadi terangsang bukan cuma karena baru saja selesai menjilati memeknya, melainkan juga karena gadis kecil yang berpakaian sangat ketat itu.

Dengan segera, Sandra mengocok-ngocok kontol Doni, merasa geli saat melihat wajah Doni jadi memerah karena malu.

Tapi Doni tidak berani berkata apa-apa atau membuat gerakan untuk menjauhkan tangan Mamanya itu. Dia takut Surti jadi tahu apa yang sedang dilakukan Sandra pada kontolnya.

Sambil mengocok-ngocok kontol anaknya di bawah air, Sandra ngobrol dengan gadis kecil itu, merasa geli oleh tingkah anaknya yang jadi tersipu-sipu tapi nafsu.
Sandra merasa terangsang oleh kecantikan gadis berambut pirang itu, oleh kedua pahanya yang panjang dan mulus. 

Dia bisa melihat gundukan kecil di selangkangan Surti dari balik baju renangnya yang ketat.

"Apa kau mau jalan-jalan naik sepeda Doni?" tanya Surti.

Doni jadi gelagapan, dan saat Sandra meremas kontolnya dengan gemas di bawah air itu, Doni jadi mampu untuk menjawab, "Tentu."

Sambil berbisik dengan suara yang rendah, Sandra bertanya, "Gimana caranya kau bisa keluar dari bak ini lalu mengambil pakaian, sayang?"

Sandra melakukan itu untuk menggoda Doni, sambil terus meremas-remas kontolnya.

Doni memandang Sandra dengan tatapan yang sangat cemas. Sandra jadi tertawa geli karenanya. 

Sambil memandang ke arah Surti, Sandra berkata. "Sayang, apa kau bisa kembali satu jam lagi. Aku masih ada tugas untuk Doni."
"Baiklah, Sandra." Surti setuju sambil mengedipkan matanya. Dia berdiri lalu berjalan menjauh, melewati bak mandi itu dan memandang ke arah Doni. 

Sandra melihat sebuah kilatan cahaya di mata gadis kecil itu sebelum Surti berbalik.

Sandra memandangi pantat gadis itu. Baju renangnya yang ketat membuat pantat Surti jadi terbelah menjadi dua bagian yang sangat lezat. 

Setengah dari pantat Surti bagian bawah bisa terlihat dengan bebas, daging berwarna putih yang sangat lezat itu tampak sangat kontras dengan pahanya yang panjang dan berwarna kuning kecoklatan.

Karena masih memegangi kontol anaknya, Sandra jadi bisa merasakan kalau kontol Doni jadi berdenyut-denyut saat Doni sedang memandangi pantat Surti yang kecil dan sangat menantang itu.
"Kau menyukainya kan, sayang?" tanya Sandra saat Surti sudah pergi. "Kau pasti sangat ingin bisa mengentot pantat kecil gadis itu, benar bukan?"

Doni mengangguk, dia memandang ke arah Mamanya, "Aku jadi berpikir apa dia tahu kalau kita sedang telanjang bulat. Aku yakin dia bisa melihatnya, Mam."

"Emangnya kau peduli?" tanya Sandra. 

Sambil nyengir Doni menggelengkan kepalanya.

"Mama juga nggak peduli, koq." Sandra tertawa. "Itu mungkin malah membuatnya jadi terangsang. Dia mengedipkan matanya yang berarti dia mengetahui sesuatu."

"Aku jadi penasaran apa dia mau mengijinkan aku untuk mengentotnya." kata Doni.

"Mama sangat yakin dia pasti mau, sayang." Sandra meremas biji kontol Doni di dalam air, "Apa kau sudah siap untuk menyelesaikan tugas yang Mama berikan padamu?"

"Tugas apa?" tanya Doni. "Mama ndak ngomong apa-apa tentang tugas pagi ini."

"Tugas ini," kata Sandra, berdiri lalu menunduk ke atas deck untuk mempersembahkan pantatnya kepada Doni. "Tugas untuk mengentot Mama."

Sandra menggoyang-goyangkan pantatnya, memberikan undangan terbuka kepada Doni. "Mama menginginkan kontol mu di dalam lobang memek Mama, sayang. Dengan menjilati memek Mama itu hanya membuat nafsu Mama jadi semakin terbakar tapi kemudian Surti datang, jadi..."

Doni membelai-belai pantat Mamanya yang montok itu, menimang-nimang pantat itu sambil merangkak ke atas deck.

Sandra mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar lalu menunggingkan pantanya ke atas untuk Doni.

Dia merasakan kontol Doni mengintip dan menyelinap masuk ke belahan memeknya. 

Tapi kemudian Doni jadi merasa enggan, "Gimana kalo Surti datang lagi, Mam?"
"Dia tidak akan datang lagi." kata Sandra. "Tidak sebelum satu jam lagi. Ayolah, entot Mama!"

"Dia mungkin saja datang lagi Mam." Doni bersikeras.

"Ya kalo begitu dia harus menunggu gilirannya, setan!" Sandra mulai kesal. "Entot Mama, Doni! Kalo nanti Surti datang lagi dia boleh nonton dulu sambil menunggu. Kau boleh mengentotnya nanti kalo kau sudah selesai dengan Mama! Nah, masukkan kontol mu itu ke dalam memek Mama, Doni!"

Ku Cium Memek Mama

Saat air hangat merendam tubuh bugil mereka, Sandra memegang kontol Doni, mengocok-ngocoknya agar tetap keras. Sesekali dia juga menciumi anaknya itu, lidahnya menjilati bibir dan mulut Doni.
Doni menimang-nimang tetek Sandra, dengan satu tangan yang melingkar di bahu Mamanya.

Matahari sudah semakin tinggi dan panas, membakar kulit mereka. Tidak ada awan diatas langit sehingga terlihat sangat biru dan jernih. Angin sejuk bertiup di pepohonan pinus. Itu adalah sebuah hari untuk bermalas-malasan, sebuah hari untuk bersantai diluar, saling membelai, mencium dan mengentot.

Hanya dalam waktu lima belas menit atau lebih, keduanya sudah tidak lagi saling menyentuh dan merasakan, Sandra mengangkat tubuh bugilnya yang basah dari dalam bak lalu duduk di tepi sambil merentangkan kakinya lebar-lebar dan bersandar ke belakang pada kedua tangannya.

Doni masih berada di dalam bak sambil membelai bibir-bibir memek Mamanya, merasakan dan memijat clitorisnya, sehingga membuat Sandra jadi menggeliat dan memutar-mutar pantatnya.

Sandra menengok ke selangkangannya, memperhatikan anaknya yang sedang asyik bermain-main dengan memeknya, semakin lama dia jadi semakin terangsang dan mengangkang.
"Ciumilah itu untuk Mama, Doni." Sandra memelas. "Ciumilah memek Mama itu. Sekaliiiii saja, ya sayang! Ciumilah memek Mama yang hot itu walau cuma sekali!"

Mendengar permohonan Mamanya itu, hati Doni merasa pilu, lidahnya kelu, bibirnya beku, matanya sayu, kontolnya nafsu.

Doni menatapi dan meratapi bibir-bibir memek yang berwarna pink itu, clitoris Sandra tampak menyembul dan mengintip keluar dari balik tempat persembunyiannya.

Kemudian, dengan menguatkan hati dan memberanikan diri, Doni pun mulai bergerak untuk menciumi dan menjilati bibir-bibir memek Mamanya.

Melihat pergerakan itu, Sandra segera melengkungkan selangkangannya ke arah wajah anaknya yang telah menjadi korban nafsu memeknya.
"Ayolah sayang." Sandra memberikan semangat dan dorongan memeknya. "Ciumlah sekali saja. Coba aja dulu, siapa tahu kau mungkin jadi menyukai dan ketagihan karenanya, Doni. Kaum pria umumnya sangat sedang menjilati memek!"

"Benarkah?" tanya Doni, merasa tidak percaya dengan rayuan maut Mamanya.

"Tentu saja sayang, masak Mama bohong. Walaupun memek Mama bolong, tapi Mama gak bohong." jawab Sandra, berusaha meyakinkan anaknya. "Yang namanya laki-laki itu sejati itu pasti senang menjilati memek, begitu juga perempuan, pasti sangat senang kalo di suruh menghisap kontol. Kalo lo gak percaya, coba aja."

Dengan rasa terpaksa dan tak berdaya, Doni membenamkan wajahnya ke selangkangan Mamanya. Dia memonyongkan mulutnya ke memek Mamanya yang sudah basah.

Melihat itu, Sandra tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya, tangannya segera menjambak rambut Doni lalu membenturkan kepala Doni ke memeknya yang berbulu lebat, dan menahannya disana dengan sekuat tenaga serta segenap jiwa raganya.

Karena tak mampu lagi untuk menghindar dan melarikan diri, Doni akhirnya menciumi memek Mamanya, dengan rakus.

Hanya setelah beberapa kali Doni menciumi memeknya, barulah Sandra akhirnya melepaskan cengkramannya dan membebaskan kepala anaknya dari memeknya.

"Nah, tidak terlalu buruk bukan? Walaupun tampilannya sangat mengerikan, tapi rasanya tidaklah terlalu menjijikkan, bukan?" tanya Sandra.
Doni menjilati bibirnya sendiri, matanya tampak bercahaya. "Cita rasa memek Mama ternyata enak juga!" jawab Doni, terkejut.

"Nah, Mama nggak bohong kan!" Sandra tertawa terbahak-bahak, sampai memeknya jadi membengkak.

Karena sudah tahu rasanya, kali ini tanpa disuruh lagi, Doni membenamkan wajahnya ke selangkangan Sandra, mencumbui dan menciumi memek yang ada di depan batang hidungnya.

Sandra jadi merasa sangat bahagia karenanya, akhirnya dia berhasil membuat anaknya percaya sehingga tak lagi harus dipaksa. Dia menggeliat dan menggosok-gosokkan memeknya ke bibir Doni. "Gunakan juga lidah mu sayang! Jilati juga, jangan cuma diciumi saja!"

Setelah mengatakan itu, Sandra merasakan lidah Doni menjulur keluar lalu menjilat-jilati bibir-bibir memeknya. Saat lidah itu bergerak-gerak di clitorisnya, Sandra mengerang, menggeliat, menggoyang-goyangkan pinggulnya dan menyodok-nyodokkan memeknya ke wajah Doni.

Dia merasakan lidah Doni mengelap-ngelap dan mengepel bibir-bibir memeknya, sehingga dia jadi amat tersiksa karena rasa nikmatnya.

Sandra menjepitkan pahanya ke pipi Doni, kemudian merasakan tangan anaknya itu berada di bawah pantatnya, mencengkram dan menahan memeknya agar tak pernah menjauh dari mulutnya.

"Tusukkan lidah mu ke dalam memek Mama sayang!" Sandra merasa masih ada yang kurang, walau bibir memek dan clitorisnya sudah dicium dan dijilati sampai dia ekstasi, dan kehilangan harga diri.

"Entotlah lobang memek Mama dengan lidah mu, sayang! Ohhhhh, tolonglah, Mama mohon, entot lobang memek Mama itu dengan lidah mu! Memek Lobang Mama terasa gatal sekali, dia membutuhkan lidah mu sayang!"

Karena sudah kepalang, Doni menghujamkan lidahnya ke dalam lobang nonok yang hot dan kempat-kempot itu. Hidungnya jadi tenggelam dan terbenam di bulu-bulu jembut Mamanya, dan dagunya menekan ke arah belahan pantat sang Mama.

Lidah Doni ternyata bisa masuk cukup dalam dan saat Doni memutar-mutar lidahnya di dalam lobang yang sempit itu, Sandra jadi merengek kagelian.

Sandra menggesek-gesek memeknya ke mulut Doni saat lidah Doni bergerak keluar masuk, menusuk-nusuk memeknya sampai gemuk.
Dia tidak perlu lagi memegangi dan menahan wajah Doni ke selangkangannya, karena Doni sendiri yang menekan dan membenamkan mulutnya ke memek Sandra dengan penuh sukacita dan hati yang pasrah menerima semua akibatnya.

Pikiran Sandra melayang-layang ke alan fantasi yang erotis, dia mengangkat pantatnya lalu menekan memeknya yang panas ke wajah anaknya yang beringas.

"Oooohhh, entotlah Mama dengan mulut mu, sayang!" dia merintih. "On, entot memek Mama dengan mulut mu Doni! Berikan lidah mu pada Mama! Ohhhh, entotlah memek Mama dengan lidah mu yang nikmat itu! Jilati memek Mama, hisapi juga bulu-bulunya... jangan lupa clitoris dihisapnya juga ya Doni!"

Lidah Doni menusuk dan meliuk-liuk, dia jadi sering menelan karena memek Mamanya begitu banyak mengeluarkan lendir.

Memek Sandra meremas-remas lidah anaknya dengan gemas saat dia memompa pantatnya naik turun, kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam.

Perus Sandra jadi bergelombang karena gerakan-gerakannya saat dia menggiling-giling memeknya ke mulut Doni. Teteknya membusung dan mengencang, puting-putingnya jadi mengeras.

Sandra sekarang sudah meletakkan kaki-kakinya diatas kedua bahu Doni, dan menjepit erat kepala Doni dengan pahanya.

Dia tak henti-hentinya merintih saat bara orgasme membakar tubuhnya. Dia memutar-mutar memeknya ke wajah Doni dengan lebih kencang dan lebih gila lagi saat orgasmenya semakin membludak.

Doni menjilati dan menusuk-nusukkan lidahnya dengan garang, jari-jemarinya mencengkram ke daging pantat Mamanya.

Memek Mamanya menghantam-hantam mulut Doni dengan begitu keras sehingga dia jadi kesulitan untuk bernapas.
"Ooooo! Ohhhh, kau hampir membuat Mama muncrat sayang!" teriak Sandra dengan suara yang bergetar. "Lidah mu.... di memek Mama.... akan membuat Mama jadi.... muncrat!"

Memek Sandra mengejangkan, otot-ototnya perutnya jadi tegang. Sandra membuka mulutnya lalu berteriak sekencang-kencangnya saat dia muncrat dalam ekstasinya, bibir-bibir memeknya menutup dan membuka di lidah anaknya yang sedang menusuk-nusuk.

Sandra menahan kepala Doni dengan erat diantara kedua pahanya, tidak mampu untuk menghentikan goyangan pinggulnya.

Orgasmenya berlangsung cukup lama dan banyak menghabiskan tenaganya, itu adalah orgasme terbaik yang pernah dirasakannya.

Saat semuanya usai, Sandra roboh diatas deck, pahanya mulai rileks dan membebaskan wajah Doni yang terjepit di tengah-tengah, teteknya naik turun dengan berat.

Napasnya berat dan terdengar kuat di udara yang masih cukup pagi itu. Dia merasakan anaknya sedang membelai-belai pahanya yang masih bergetar dan memeknya yang masih berdenyut-denyut.

Sandra sebenarnya tidak ingin bergerak lagi, tapi dia jadi terpaksa bergerak.

"Apa ada orang di rumah?"

Suara itu membuat Sandra jadi buru-buru kembali masuk ke dalam bak mandi. Dia dan Doni jadi saling memandang dengan rasa cemas. Mereka tidak mendengar ada orang yang mengetuk pintu dan suara teriakan itu membuat mereka jadi merasa sangat ketakutan.

"Itu Surti," bisik Doni.

Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Sandra membalas teriakan itu. "Kami sedang diluar sini, Surti... di halaman belakang."

Mama Ngajak Mandi Bareng

Keesokan paginya Sandra bangun dengan rasa bahagia. Dia meregangkan tubuhnya sambil menatap ke arah anaknya yang sedang tidur disampingnya.
Wajahnya tampak sangat lugu, seperti belum punya dosa, padahal neraka sudah menunggunya..

Setelah menyingkirkan selimut yang menutupiya, Sandra memandangi tubuh anaknya. Doni tampak begitu perkasa, tubuhnya kekar, seperti pendekar, dengan kontol yang besar.

Doni tidur terlentang, dengan satu kakinya yang menekuk. Kontolnya bersandar lemah tak berdaya dipahanya, dengan biji-biji yang menggantung di bawahnya.

Sandra jadi ingin menundukkan kepalanya disana dan memberikan ciuman yang hangat pada kontol Doni, tapi kemudian dia membatalkan niatnya.

Bocah malang yang berkontol panjang itu kemarin telah mengentotnya sepanjang hari, dan Sandra juga sudah menghisap habis semua spermanya.

Kasihan dia, pikir Sandra, mengamati anaknya. Doni masih perlu beristirahat, dia masih membutuhkan tidurnya.

Setelah menurunkan kaki-kakinya yang panjang ke tepi ranjang, Sandra berdiri dan kembali menatapi anaknya dengan penuh cinta kasih sayang plus agak terangsang, kemudian masuk ke kamar mandi, tentu saja untuk mandi pagi, bukan masturbasi, apalagi onani.

Siraman air membuat tubuhnya jadi kembali segar, dia berdendang dengan riang sambil menyabuni tubuhnya yang telanjang. Puting-putingnya terasa keras, sehingga Sandra jadi menyadari kalau puting-putingnya itu memang selalu keras, terutama sejak kemarin.

Dia menyabuni bulu-bulu jembutnya yang keriting, dan untuk sesaat Sandra menggoda iman nya dengan cara memasukkan sepotong jari ke dalam lobang memeknya.

Tapi kemudian dia tersadar dan merasa tidak perlu lagi untuk mengentot dirinya dengan jari, seperti yang selalu dilakukannya setiap hari, tidak akan pernah lagi.

Itu karena Sandra sudah memiliki anaknya beserta kontolnya yang besar dan panjang, ditambah lagi dengan urat-urat yang melingkari batangnya, juga biji-biji yang menampung spermanya.

Sambil memblias sabun dari tubuh montoknya, janda itu berpikir betapa beruntungnya dia karena memiliki Doni.

Sebagian bocah, Sandra rasa, mungkin akan merasa malu untuk mengentot Mama mereka, tapi pada umumnya mereka pasti pernah merasa pingin mengentot Mama mereka.

Sedangkan Doni sudah melakukannya, dan bukannya merasa malu, Doni malah tampak sangat bahagia, bahkan jadi ketagihan dan tergila-gila sama memek Sandra.

Setelah melangkahkan kakinya keluar dari shower lalu mengambil sebuah handuk yang tebal, Sandra mengeringkan tubuhnya. Dia menggulung rambutnya lalu kembali masuk ke kamarnya.

Doni masih tertidur. Saat melihat ke arah jam Sandra jadi tahu kalau saat itu sudah jam 10 pagi. Aku tidak pernah tidur sampai sesiang ini, pikir Sandra, dengan takjub.

Tapi itu adalah sebuah kesenangan yang layak dan Sandra jadi nyengir saat berjalan menuruni tangga untuk membuat sarapan.

Sandra sudah hampir selesai masak saat menyadari kalau dirinya masih telanjang bulat.

"Sandra jadi tertawa genit. "Ah, sudahlah, lagian sekarang sudah tidak ada pengaruh nya koq." kata Sandra, sambil menaruh sebuah piring.

Sarapan sudah siap, Sandra memanggil Doni dari atas tangga.

Doni turun sambil mengucek-ngucek matanya. Tapi dia sudah mengenakan celana piyamanya, seperti yang dilihat Sandra.

Saat Doni melihat Mamanya telanjang bulat, dia tertawa lalu segera membuka dan melepaskan celananya. Dia melempar celana itu ke dapur lalu duduk untuk sarapan.

"Apa kau ingin berendam di bak air hangat itu pagi ini bersama Mama, Doni?" tanya Sandra.

Dulu Doni memang pernah berendam bersama Mamanya di dalam bak itu dan mereka sama-sama mengenakan baju renang. Tapi sejak itu mereka tidak pernah lagi melakukannya.

Sekarang Sandra jadi teringat alasannya. Saat mereka duduk di dalam air yang hangat itu, kedua paha mereka melakukan kontak, dan Doni  segera bergerak menjauh, merasa malu.

Sandra sudah melupakan kejadian itu, hingga hari ini.

"Tentu." jawab Doni, tersenyum sambil melanjutkan sarapannya. "Rasanya pasti akan sangat nikmat."

Setelah sarapan, Sandra segera membersihkan dapur dengan dibantu Doni. Kedua pinggul mereka sering bersentuhan, dan Sandra sangat senang saat melihat kontol Doni jadi tegang.

Sandra tidak dapat menahan diri  dia meraih dan mengocok-ngocok kontol Doni. 

Doni memegang dan menimang tetek Sandra, menjilati puting-putingnya.

Sandra menekan tubuh bawahnya ke selangkangan Doni, menggosok-gosokkan kepala kontol Doni ke bibir memeknya yang berada di balik bulu-bulu jembutnya.

"Sebaiknya kita menghentikan perbuatan kita ini," bisik Sandra, "sebelum akhirnya kita mulai ngentot sehingga jadi lupa untuk berendam di bak itu."
"Aku lebih suka ngentot, Mam." jawab Doni sambil tertawa, tapi tetap menjauhkan kontol nya dari memek Mama nya, Sandra juga.

Sambil bergendengan tangan, dua beranak yang telanjang bulat itu pun berjalan menuju ke halaman belakang.

Sandra merangkak ke dalam bak lalu duduk, teteknya tenggelam di dalam air.

Doni menyusul masuk ke dalam air, duduk di dekat Sandra, pahanya menekan tetek Mamanya. 

Kali ini, Doni tidak lagi menjauh dan merasa malu.

Hadiah Blowjob Dari Mama

"Sudah berapa kali kau muncrat hari ini, Doni?" tanya Sandra kepada anaknya yang baru saja selesai mengentot memeknya.
"Aku ndak tahu Mam!" jawab Doni. "Dah gak ke itung."

"Berarti skor kita sama dong, Mama juga udah muncrat puluhan kali sayang, bahkan mungkin ratusan." Sandra tertawa ngakak, terbahak-bahak, memeknya jadi terbelalak.

"Apa kau mau tahu sesuatu sayang? Seumur hidup, baru kali ini Mama bisa muncrat sesering ini hanya dalam waktu satu hari!"

Doni memutar kepalanya ke arah Mamanya, sedangkan kepala kontolnya menghadap ke tanah. "Yang bener Mam?"

Sandra mengangguk tanpa menunduk, padahal memeknya baru saja di tusuk-tusuk sambil memeluk.

Tanpa sungkan-sungkan, anaknya lalu bertanya, "Emang udah berapa banyak laki-laki yang pernah Mama entot?"

Sandra tidak langsung menjawab, pura-pura sedang menghitung. Kemudian, dengan nada yang penuh penyelasan, dia menjawab, "Baru dua."
"Cuma dua! Sungguh tidak bisa dipercaya, Mam. Padahal Mama hot banget, tapi kenapa cuma dua Mam? Kenapa? Apa karena Mama kurang agresif? Padahal Mama kan pernah bilang kalo dulu Mama juga sering memamer-mamerkan memek Mama pada teman-teman Mama disekolah."

"Itu bukan ngentot namanya, dasar bodoh." Sandra membela diri, karena merasa harga dirinya teraniaya.

"Saat itu Mama masih kecil dan cuma pamer aja, bukan minta dientot, bodoh. Mama berkata yang sejujur-jujurnya Doni, dari lobang memek Mama yang terdalam. Dua pria yang pernah Mama entot itu hanyalah kau dan bapak mu."

Sandra pun mulai menceritakan kepada anaknya tentang pengalamannya saat masih sering ngentot dengan bapaknya si anak yang sedang diajaknya bercerita itu.

Tapi Sandra tidak menceritakan tentang hal-hal yang membuat mereka jadi bercerai berai. Dia cuma mengatakan betapa menderitanya dia setelah perceraian itu.
Sandra menceritakan pada anak semata wayangnya tentang fantasinya, tentang rasa hangat yang menjalari kedua pahanya sampai dia jadi harus mengentot memeknya dengan jari-jari tangannya sendiri, sampai dia muncra karena orgasme.

"Tapi sekarang semua itu sudah berlalu dan hanya tinggal kenangan, betul?" kata Sandra, meraih lalu menimang-nimang kontol Doni yang masih basah kuyup dan menggigil kedinginan. "Sekarang Mama nggak perlu masturbasi lagi. Mama sudah punya kontool mu ini."

"Kapan-kapan, aku ingin ngeliat dong Mama masturbasi lagi." usul Doni. "Pasti akan sangat menyenangkan rasanya, bisa melihat Mama sedang masturbasi."

"Apapun yang kau inginkan akan Mama berikan sayang." Sandra tertawa sambil menarik-narik perhatian kontol Doni.

"Beneran Mam?"

Sandra mengangguk, tubuhnya membungkuk, meliuk-liuk, mulai ngantuk.

"Tapi kalo sekarang, aku lagi ndak pingin apa-apa lagi Mam. Aku mau istrahat aja." kata Doni.
"Opo koe yakin?" Sandra menggoda, sambil mengocok-ngocok kontol anaknya, berharap anaknya jadi tergoda dan kembali berdosa karenanya. "Opo koe ndak mau mikir dulu, Doni?"

"Ndak lah Mam. Aku dah muncrat banyak kali hari ini. Rasa-rasanya, aku ndak mungkin bisa ngentot Mama lagi sekarang ini. Biji kontol ku sudah nggak ada isi."

"Mungkin kau benar anak ku, tapi Mama punya sesuatu untuk mu, dan Mama yakin pasti pasti mau!" bisik Sandra ditelinga Doni lalu menjilat telinga itu.

"Mama sangat yakin, Mama bisa membuat kontol mu muncrat lagi, sayang. Mama sangat yakin kalau kontol mu yang lemas itu bisa kembali mengeras lalu muncrat lagi, hanya dalam waktu yang singkat."
Mendengar itu, Doni tetap cuek dan menelentang dengan santainya di atas rumput, sambil menatap Mamanya. "Tapi bagaimana mungkin Mama ku sayang. Biji kontol ku udah nggak ada isinya lagi. Udah di sedot habis oleh memek Mama, tanpa ada yang tersisa."

Sandra cuma tertawa nyengir. "Kita lihat saja nanti."

Di bergerak turun ke bawah tubuh Doni. Kedua tangan Doni berada dibelakang kepalanya, memandang ke bawah ke arah Mamanya.

Sandra menciumi perut Doni, lidahnya menjilati pusar Doni. Sambil melakukan itu, Sandra mengocok-ngocok kontol Doni dan meremas-remas bijinya.

Dia menarik celana Doni ke bawah hingga bulu-bulu jembut di pangkal kontolnya terlihat. Dia menjulur-julurkan dan memutar-mutar lidahnya di bulu-bulu jembut Doni.

Napas Doni jadi semakin memburu dan Sandra menatapnya saat lidahnya berputar-putar diatas jembut Doni, matanya tampak menyala-nyala karna nafsunya.

Setelah puas menjilati selangkangan Doni, Sandra bergerak ke bawah lalu menjilati paha Doni. Dia menjilat, menghisap lalu menggigit paha Doni
Sambil menjilat-jilati paha Doni dari atas sampai bawah, Sandra merentangkan kedua kaki Doni lebar-lebar, agar lidahnya bisa masuk dan menjilati kulit paha Doni bagian dalam yang sensitif.

Sandra kembali menarik celana Doni ke bawah sejauh yang dia bisa, sehingga biji-biji dan batang kontol Doni jadi terlihat semua oleh matanya yang buas.

"Apa kau menyukainya sayang?" bisik Sandra dari bawah kontol Doni. "Apa rasanya enak? Apa kau menyukai lidah Mama yang menjilat-jilati mu seperti ini?"

"Tentu saja, Mam!" Doni mengerang, pinggangnya menggeliat.

Sandra mengluarkan suara desahan saat dia kembali menjilati paha Doni, lidahnya bergerak di sepanjang kaki Doni.

Dia menyundul-nyundul biji kontol Doni dengan hidungnya, lalu menjilat-jilati kulit yang membungkus biji-biji itu.

Lidah Sandra menyusup ke bawah biji kontol Doni lalu menggoyang-goyang kedua biji kembar itu dengan riang, kedua matanya jadi hot saat mengintip ke arah wajah Doni yang sedang keenakan.

Setelah selesai menjilati biji-biji kontol Doni, lidah Sandra mulai bergerak di bagian pangkal kontol Doni. Dia mencicipi lendir memeknya yang masih menempel di sana, secara relflek Doni mengejang hingga memek Sandra jadi ikut-ikutan mengejang.

Lidah Sandra kemudian menjilat-jilati batang kontol Doni, lalu mengelilingi kepala kontol anaknya itu.

Untuk sesaat Sandra bermain-main dengan biji-biji dan batang kontol Doni, kedua tangannya menahan pinggang Doni.

Kemudian tangan Sandra menyelinap ke selangkangan Doni, untuk merasakan daging yang ada disana.

"Mama kasih blowjob mau ya? Mau dong! Ya?" tanya Sandra, berharap, sambil mendesah, karena memeknya semakin basah.

"Apa Mama ingin mengulum kontol ku?" tanya Doni, harap-harap cemas, kontolnya jadi panas dan gemas.

"Itu kalau kau mau," jawab Sandra dengan genit. "Kalau kau memang mau dan tidak malu, Mama tentu akan mau mengulum kontol mu, Doni."

"Beneran?" tanya Doni, walau masih ragu tapi sudah keburu nafsu. "Mama nggak bohong kan?"

Mamanya menggangguk, memeknya jadi gatal pengen di garuk.
"Wow! Super sekali! Lakukanlah Mam! Aku pasrah! Asalkan Mama bahagia!"

Mendengar kata-kata yang indah dari anaknya itu, Sandra segera menggerakkan lidahnya disepanjang kontol Doni, menjilati setiap inchinya dengan perlahan, dari pangkal sampai ke ujung.

Setelah itu, dia kembali ke biji-biji kontol Doni, menghisap biji-biji itu dengan mulutnya yang hot dan basah.

Sambil menghisap biji-bijinya, Sandra tak lupa juga untuk tetap memandangi wajah anaknya yang tampak sangat bahagia, sementara batang kontolnya bersandar dan menanti dengan sabar di pipi Sandra.

Setelah merasa puas dengan dua biji kembar itu, lidah Sandra kembali bergerak ke batang kontol Doni.

Saat bibirnya sudah mencapai ujung kepala kontol Doni, lidah Sandra menepuk-nepuk lobang yang ada disana, kemudian menjilati helm itu sambil mengamati wajah anaknya.

Bibirnya menempel diatas kepala kontol yang lembut itu, Sandra membuka mulutnya lebar-lebar lalu memasukkan dan mengapit kepala bagian pengentotan itu dengan mulutnya.

Doni mengerang dan mengejang saat kepala kontolnya jadi terasa hangat dan basah saat memasuki mulut Mamanya.

Dengan mata yang berbinar-binar dan nafsu yang berkobar-kobar, Sandra menggerakkan mulut nya ke bawah, bibirnya meluncur dengan lancarnya.

Kontol Doni membuat bibir Sandra jadi merenggang dan mengembang, sehingga memeknya jadi mengejang karena terbayang-bayang.

Sandra melanjutkan perjalanan bibirnya, memasukkan sebanyak mungkin kontol anaknya ke dalam mulutnya, sampai ke pangkalnya.

Setelah bibirnya sampai di pangkalan, Sandra menahan dan menawan serta memenjarakan kontol Doni di dalam mulutnya yang pengap.

Dia kemudian memutar-mutar bibirnya di pangkalan itu, hingga kepala kontol Doni jadi pusing dan terasa berdenyut-denyut di tenggorokan Sandra.

Setelah merasa siap, Sandra memasukkan tangannya ke bawah tubuh anaknya. Doni mengangkat pantatnya dan Sandra pun mulai mengangguk-anggukkan kepalanya, ke atas dan ke bawah.

Rambutnya jadi terawur-awur, matanya kabur, hidungnya mendengkur, saat wajahnya bergerak maju mundur, dengan teratur, sangat lentur.

Awalnya, Sandra menghisap dengan perlahan karna ingin menikmati aroma dan cita rasa dari kontol yang menyelip di bibirnya dan memenuhi mulutnya.

Setelah puas, dia mulai menghisap dengan lebih cepat, dia mengangkat tubuhnya dari atas selangkangan Doni,  jembutnya masuk ke rumput, pantatnya berguncang-guncang.

Erangan, desahan dan rintihan terdengar keluar mulutnya saat bibir Sandra menghisap dan lidahnya menjilat.

"Mmmmmmm." kata Sandra. "Ahhhmmmm! Ooommmm!"

"Oh! Ohhhh!" jawab Doni.

Mulut Sandra menghisap kontol Doni dengan rakusnya. Dia sangat menyukai daging keras yang sedang di garap oleh bibir dan lidahnya.

Meski awalnya menghisap dengan perlahan, tapi karena tidak tahan, bibirnya melesat tanpa lawan.

Hasratnya untuk segera merasakan semburan kontol Doni di mulutnya telah mengalahkan hasratnya untuk menahan kontol Doni agar tetap diam di dalam.

Sandra menghisap-hisap dengan cepat, sambil merintih-rintih dengan nikmat, jari-jarinya mencengkram pantat Doni dengan kuat.

Dia mencoba memasukkan kontol Doni lebih dalam lagi ke tenggorokannya, hingga jadi tersedak, bukan karena mual, tapi karena gerakan reflek.

Tapi Sandra segera pulih dari ketersedakannya, lalu mulai menghisap semua batang kontol Doni dengan lebih kuat lagi.

Dia merasakan kepala kontol Doni menusuk masuk ke tenggorokannya yang sempit sehingga memeknya hampir muncrat karna orgasmenya.

Dia menarik bibirnya ke atas lalu mengapit kepala kontol Doni dengan bibirnya, lidahnya menjilati lobang kencing Doni, sehingga membuat Doni jadi berguncang karena ekstasi.

Kontol Doni semakin lama terasa semakin besar dan keras di bibir Sandra yang hot dan lapar.
Doni mulai memutar dan menggoyang pantatnya, mengerang karena rasa nikmatnya.

Sandra tahu kalau Doni sudah pengen muncrat, denyutan-denyutan kencang yang terasa di bibirnya, adalah buktinya.

Sandra menahan kepala kontol Doni di bibirnya dan menekan ujung lidahnya ke lobang kencing Doni saat semprotan pertama meledak dari kontol itu.

Sandra menggeliat dengan nikmat sambil memejamkan matanya, menghayati makna dari semua perbuatannya.

Lendir yang kental dan gurih itu membanjiri lidahnya, dan Sandra segera menelan semuanya. Lidahnya menjilat-jilati lobang kencing Doni, bibirnya menyedot-nyedot, pipinya sampai kempot.

Sandra menelan habis semua sperma Doni yang berhasil tersedot ke dalam mulutnya, sudah lama sekali dia tidak menghisap, dan merasakan kontol yang berada di dalam mulutnya.

Memeknya jadi mengejang dan meregang-regang saat Doni membanjiri mulutnya dengan lendir yang muncrat dari kontolnya.

Bahkan saat kontol Doni sudah selesai memuntahkan semua isinya, Sandra masih saja enggan untuk melepaskan kontol itu dari cengkraman mulutnya.

Dia hanya berbaring di antara ke dua paha Doni untuk waktu yang lama, sambil tetap mengulum dan menahan kontol Doni di mulutnya.

Ku Entot Mama Ku yang Janda

Doni menatap memek Mamanya yang terbuka itu. Entah kenapa, hatinya jadi berbunga-bunga, sehingga kontolnya jadi  berbusa.
Mamanya sedang terlentang mengangkang disana, tak berdaya, dengan rok mininya yang tersingkap sampai ke pinggul, kedua kakinya terkangkang menantang, sedangkan tangannya tampak kokoh menahan celana dalamnya yang ditarik ke samping.

Melihat kesiap-siagaan Mamanya itu, Doni segera mengocok-ngocok kontol dan biji-bijinya. Dia ingin menghangatkan dulu kontolnya. Setelah cukup hangat, Doni pun segera bergerak ke arah selangkangan Mamanya yang janda.
Melihat perbuatan anaknya itu, Sandra mengangkat pinggulnya ke atas lalu diputar-putarnya, menunggu dengan tidak sabar tapi tetap sadar.

Doni menguatkan tekadnya, menahan tubuhnya dengan kedua tangannya dimasing-masing sisi tubuh Mamanya, lalu mengarahkan kepala kontolnya ke lobang memek yang sudah terbuka untuknya.

Sandra menaruh telapak tangannya diatas rumput disamping pinggulnya, kemudian menggoyangkan pinggulnya ke atas dan ke bawah, untuk menyambut dan menelan habis kontol Doni dengan memeknya yang lapar.

"Oooo, baby." Sandra merintih kegelian.

"Oh, Mama!" Doni mendesah keenakan.

Sandra memutar-mutar memeknya saat biji-biji kontol Doni menampar pantatnya, merasa kegelian.

Jari-jari Sandra mencengkram rerumputan yang menyaksikan perbuatan mereka, saat sensasi-sensasi ekstasi mulai menjalari sekujur tubuhnya yang terbujur dan subur.
Sandra merasakan kalau kontol Doni sekarang ternyata bisa masuk jauh lebih dalam dibanding sebelumnya.

Dia jadi merasa kagum dengan kemampuan kontol anaknya itu, bisa meningkat dengan amat pesat dalam waktu yang amat singkat.

Memek janda yang hot itu begitu basah sehingga dia bisa mendengar suara-suara cairan yang berdecit saat kontol anaknya menggesek-gesek dinding gua memeknya yang lembab.
Pinggul Sandra tak pernah berhenti berputar dan mengayun. Rengekan-rengekan keluar dari mulutnya saat Sandra menatap dengan mata yang hot dan tidak fokus, anaknya yang sedang asyik memompa diatasnya.

Mulutnya sedikit terbuka dan lidahnya yang lembab dan berwarna pink itu bergerak-gerak diatas bibirnya.

Napas Sandra terengah-engah, memeknya terasa gerah, saat pinggulnya mengaduk-ngaduk lobang memeknya yang sedang di isi dengan kontol anaknya. 

Dia mengamati wajah anaknya yang tampak sangat bahagia diatasnya, dan melihat anaknya sedang keenakan seperti itu bagi Sandra sama nikmatnya dengan di entot oleh kontolnya.

Gerakan meremas-remas dari memeknya itu pasti memberikan kenikmatan yang luar biasa pada kontol anaknya, Sandra tahu itu, karena dia juga merasakan kenikmatan yang sama.
Kemampuan memeknya untuk mengencang, menyempit, menjepit, meremas dan menghisap lalu meregang lagi itu, adalah bakat yang dibawa Sandra sejak lahir.

Jadi Sandra tidak perlu melakukan apa-apa untuk mengontrol memeknya, lagi pula dia memang tidak ingin mengontol nya, yang dia inginkan adalah kontol anaknya.

Sensasi-sensasi dari memeknya yang melentur di kontol anaknya yang ngawur itu membuat napas Sandra jadi tak teratur, apalagi Doni yang masih bau kencur.

Sandra bisa merasakan setiap lekukkan dan urat syaraf yang berdenyut-denyut dari kontol Doni di dalam lobang memeknya yang sensitif.

Saat Doni memasukkan kontolnya, dia akan memasukkan kontol itu sedalam-dalamnya, lalu menariknya lagi.

Dalam setiap hujamannya, Sandra bisa merasakan biji-biji kontol Doni yang menggosok-gosok bibir pantatnya, dan pangkal kontol Doni yang menghantam-hantam clitorisnya yang berdenyut-denyut dan bersembuyi di antara bibir-bibir memeknya.

Saat Doni menarik kontolnya, dia hampir menarik semuanya, sehingga kontolnya itu hampir terlepas bebas seutuh-utuhnya.

Sehingga Sandra jadi mengira kalau kepala kontol Doni itu hendak pergi meninggalkan lobang memeknya, untuk selama-lamanya, sehingga dia jadi merasa sangat kecewa, merana dan menderita.
Tapi untunglah, bahwa ternyata, Doni kemudian kembali menghujamkan dan memasukkan kontolnya, sedalam-dalamnya, hingga ke lubuk-lubuk memeknya yang terdalam.

"Oh, perbuatan kita ini sungguh nikmat sekali sayang." Sandra merengek-rengek kepada Doni, sambil memutar-mutar pinggulnya. "Apa kau juga merasa enak sayang? Apa memek Mama membuat kontol mu terasa geli? Apa kau bisa merasakan betapa hot dan licinnya memek Mama di kontol mu yang indah itu sayang?"

Doni cuma bisa mengerang, dia sedang terlalu sibuk untuk sempat menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dari Mamanya yang hot itu.
Melihat kesibukan anaknya itu, Sandra mengangkat lututnya ke atas, ikut menggesek-gesek bersama dengan pinggul dan pinggangnya. Dia menarik lututnya itu hingga ke depan bahunya.

Pose itu mengakibatkan pantat Sandra terangkat semakin tinggi, sehingga posisi anaknya hampir tegak lurus saat dia mengentot Sandra.

Dengan posisi seperti itu, Sandra berharap bisamerasakan kontol Doni dengan lebih baik lagi, agar bisa merasakan ekstasi yang full dari Doni yang sedang mengentot memeknya.
"Oooo, Doni, Doni!" janda muda itu merintih-rintih saat memeknya semakin mendidih.

"Hujamkan lebih kuat lagi, sayang! Oh Tuhan... saksikanlah perbuatan kami ini! Oooooh, Mama suka sekali Doni, anak ku, sayang ku, tukang ngentot memek ku! Entot terus Mama mu nak! Jangan berhenti ya nak! Teruskan perbuatan mu yang keji dan kejang itu!"

Sandra mengayun-ayunkan pantatnya yang terangkat, berharap itu akan menyingkirkan celana dalamnya. Tapi sekarang sudah terlambat untuk itu. Dia tidak akan mau berhenti walau apapun yang akan terjadi nanti.

Sekarang Sandra mulai merintih-rintih, ekstasinya berada di titik didih, kontol Doni jadi terasa perih, tapi dia terus menindih.

Doni menaruh tangannya diatas tetek Sandra, kadang yang kanan kadang yang kiri, sehingga Sandra jadi bingung dibuatnya.

Meski bingung tapi Sandra tetap cuek dan terus mengayun-ayunkan memeknya, menggiling-giling kontol Doni dengan galaunya, karena tak mampu lagi menahan orgasmenya.

Kontol Doni terasa berdenyut-denyut di memeknya, meregang-regangkan dinding lobangnya. Clitorisnya jadi mengeras, karena digilas dengan ganas, sehingga jadi panas, minta di bilas, amblas.

"Mama akan muncrat Doni!" teriak Sandra, suaranya menggema ke seluruh penjuru hutan belantara, membuat kaget para penghuninya.

"Mama akan muncraaaaat! Keparaaaat!"

Mendengar teriakan Mamanya yang memekakkan telinga itu, Doni pun jadi mempercepat ayunan pinggulnya, memperkuat gesekan-gesekan kontolnya, hingga paha Sandra jadi merah karenanya.

Saat orgasmenya meledak, Sandra memberontak, darahnya bergolak, kakinya menghentak-hentak, napasnya tersedak, jantungnya berdetak, lendir memeknya membludak.

Memeknya meremas-remas kontol Doni dengan gemas, hingga Doni jadi cemas, was-was, hampir lemas, tak mampu lagi mempertahankan kecepatan dan kekuatan ayunan kontolnya yang panas.

Meski wajah Doni masih berada diatasnya, tapi Sandra tak mampu lagi melihatnya. Orgasmenya sungguh luar biasa, dia jadi buta karenanya.

Dia tak bisa merasakan apa-apa lagi, selain biji dan batang kontol Doni, dan orgasmenya yang meledak di dalam memeknya.

Dia bahkan tidak bisa merasakan kehangatan dari sinar matahari yang mulai terbenam, ataupun mendengar suara burung-burung yang bernyanyi dan berdendang.

Yang bisa dia rasakan hanyalah burung Doni yang terus bergoyang dan bersenang-senang.

Saat orgasmenya menyurut dan menyusut, barulah Sandra sadar kalau jembutnya kusut, dan kontol Doni yang belum menyusut, masih terus membesut.

Dia tertawa gembira, memeluk punggung Doni dengan eratnya, menyemangatinya agar mempercepat entotannya, lalu muncrat di dalam memeknya.

Rasa geli dari orgasme masih menjalarinya, menghangatkan dan menggetarkan tubuh Sandra.

Sekali lagi, Sandra jadi tersadar akan nasib anaknya. Tersadar akan nasib kontol anaknya yang sedang berdenyut-denyut di dalam memeknya, dan biji-biji kontol anaknya yang sedang menampar-nampar pantatnya.

Sandra menarik kepala Doni ke lehernya dan menahannya disana, tangannya mencengkram pantat Doni yang berayun-ayun, lalu menggesek-gesek memeknya ke kontol Doni.

"Mamaaaaaa.....a!" Tiba-tiba Doni berteriak histeris, kontolnya seperti sedang di iris, dia jadi pengen nangis. Najis!

Doni menghantam untuk terakhir kalinya, lalu menekan dan menahan kontolnya sangat rapat di memek Mamanya, biji-biji kontolnya bersemayam diantara belahan pantat Mamanya, menekan ke arah lobang pantat sang Mama.

Kontol Doni jadi terbenam sangat mendalam, berendam di lobang yang demam.
"Lakukanlah, anak ku! Kerahkan dan curahkan semua lendir mu! Semprotkan semuanya, sampai kering! Jangan ada sisa diantara kita!"

Doni merasakan memek Sandra seperti menyedot-nyedot saat kontolnya sedang menyemprot-nyemprot, sampai kempot. 

Dengan sebuah jeritan ekstasi, memek Sandra menutup disekitar kontol Doni, menahan, mencengkram, memerah dan menghisap habis lendir-lendir yang tersimpan di biji kontol Doni.

Tubuh Doni jadi kaku dan kejang-kejang diatas tubuh Sandra, jari-jari Sandra mencengkran pantat Doni, menahan dengan sekuat tenaga agar kontol Doni tetap berada di dalam memeknya.
Setiap kali kontol Doni menyemburkan lendirnya, tubuh Sandra jadi menggigil, dan setiap kali Doni berteriak, Sandra ikut menjerit, suara mereka terdengar sampai ke seluruh penjuru nusantara.

Setelah keduanya merasa puas dan lemas, barulah Doni turun dari atas tubuh Sandra, kontolnya tampak berkilau dibawah cahaya mentari senja.

Napasnya tersendat-sendat, tubuhnya terasa penat, Doni pun beristirahat, karena abis muncrat.

Sandra menurunkan pantat dan pahanya ke atas rumput, rasa geli di memeknya mulai menyusut.

Dia meraba-raba memeknya lalu menggosok-gosok clitorisnya dengan penuh kasih sayang, seolah-olah dia sedang mengungkapkan rasa syukurnya, atas anugerah yang telah diterimanya dari kontol Doni yang baru saja mengentotnya.

Setelah selesai melakukan ritualnya, Sandra berbalik lalu menciumi Doni dengan mulut dan lidahnya.