Dientot Lesbian

Tante Sue segera melepaskan celana dalam dan sepatu gadis itu lalu memandu tubuh telanjang gadis itu agar naik ke tempat tidur.


Sambil melepaskan gaunnya sendiri, wanita tersebut memuaskan kedua bola matanya untuk memandangi tubuh keponakannya yang sangat montok, kencang, putih, bersih lagi mulus itu.

Tubuh montok keponakannya itu tampak begitu lembut dan kencang; bulu-bulu jembutnya tampak rapi dan lezat; teteknya, kencang dan kenyal. Tante Sue sampe kehabisan napas saat dia selesai menelanjangi dirinya sendiri dan tidak sabar lagi untuk segera naik ke tempat tidur bersama dengan keponakannya.

Saat sudah berada diatas tempat tidur, tante Sue segera mengarahkan lidahnya ke tetek kanan Terry. Dia juga melapisi tetek itu dengan air liurnya. Terry jadi menggigil karena gugup dan menutup mulutmya yang terbuka dengan kedua tangannya.

Tante Sue melumat habis dan menikmnati semua bagian dari tetek keponakannya itu, lidahnya menjilat ke semua arah. Dia menyundul-nyundul tetek yang besar itu.

Dia membuat tetek itu jadi berguncang-guncang ke kanan dan ke kiri. Dia juga menyebabkan puting-puting Terry jadi membesar dan mengeras. Tidak berapa lama kemudian tetek keponakannya itu jadi sekeras batu dan berdenyut kencang.

"Oh, wow!" Terry merintih, sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. "Mmmmm, ueenaaak!"

Tante Sue memindahkan serangannya ke tetek Terry yang satunya lagi, menangkupnya dengan satu tangan, lalu mulai bermain-main dengan tetek itu. Lidahnya menjilat ke atas dan ke bawah, ke kanan dan ke kiri, ke semua arah dan semua bagian.

Keponakannya, Terry, hampir merasa tidak percaya pada apa yang dia lihat. Teteknya jadi bergetar setiap kali tantenya menjilati tetek itu. Tetek itu di buat jadi menggembung dan mengempis secara berulang-ulang kali. Puting-puting susunya jadi membesar dan mengeras dan tampak memohon untuk segera dihisap.

Tante Sue segera memberikan bibir dan lidah serta giginya untuk memberikan kenikmatan pada tetek Terry yang besar itu, dari tetek yang satu ke tetek yang lainnya. Dalam waktu yang tidak berapa lama, tetek Terry pun telah berubah warna menjadi kemerahan, dan tante Sue tahu bahwa tetek itu juga berdenyut-denyut.


"Aaampuuun tante!" rintih Terry, wajahnya mengejang.

Tante Sue terlihat tersenyum senang saat dia mengangkat kepalanya untuk memberikan waktu istirahat barang sejenak pada keponakannya yang akan dia entot itu. Keponakannya itu tampak lemas, tubuhnya gemetar wajahnya memerah. Dan tante Sue bahkan belum mengentotnya.

Mulai sejak saat dia berlutut disamping gadis itu, tante Sue sudah bisa mencium aroma yang sedap dari memek keponakannya itu. Memek itu tampak seperti sedang menanti tante Sue. Dia mendekatkan kepalanya ke arah memek itu agar bisa melihat dengan lebih jelas.

"Balikkan tubuh mu Terry, tante ingin melihat pantat kecil mu. Ya, seperti itu, itu baru namanya gadis yang baik!"

"Kau tidak akan menyakiti ku kan tante Sue?"

"Tentu saja tidak keponakan ku sayang. Kau pasti akan sangat menikmati apa yang nanti akan tante lakukan."

Terry menelungkp dengan kepala yang berada diatas bantal, kedua tangan dan kakinya merentang lebar. Tante Sue memandang ke arah pantat putih yang berbentuk indah tersebut dan merasa bahwa itu adalah pantat terindah yang pernah dia lihat.

Tante Sue menjulurkan tangannya lalu meraih pinggul keponakannya itu, dia membenamkan jari-jarinya ke daging yang lembut itu. Dan seketika itu juga, keponakannya menarik lututnya ke bawah lalu mengangkat pantatnya ke atas, ke arah tante Sue.

"Kau cepat mengerti keponakan ku. Sekarang pertahankan posisi mu seperti itu."

"Aku akan menahan pantat ku agar tetap seperti itu tante, karena aku ingin kau menjilatinya."

Sambil tetap memegang pada pinggul keponakannya, tante Sue mulai menebarkan ciuman-ciuman lembut ke seluruh bagian pantat keponakannya itu. Dia ingin merasakan daging putih yang kenyal itu, dan ternyata rasanya sangat nikmat. Dia mencium aroma parfum lalu menghirupnya dalam-dalam. Kemudian dia menekan wajahnya ke dalam belahan pantat itu dan merasakan getaran-getaran yang hangat.


Karena merasa sudah sangat terangsang, tante Sue menjulurkan lidahnya untuk menjilati pantat keponakannya itu. Dia membuat pantat keponakannya itu jadi bergelombang, basah dan tak berapa lama kemudian tampak berkilauan seperti dua bulan kembar yang bersinar dilangit malam yang cerah.

"Eeeeee!" Terry merintih dan menyodokkan lagi pantatnya ke belakang. "Saya suka. Saya suka," katanya. Dengan sebelah tangannya, dia meremas-remas teteknya sendiri, yang telah menjadi rata karena tertindih badannya.


Aunt Sue terus menjilati pantat Terry, lidahnya menjulur kesana kemari, membasahi seluruh permukaan pantat itu dengan air liurnya. Tubuh Terry mengigil dan bergetar karena menahan rasa nikmat yang tiada duanya hingga tempat tidurnya jadi mulai berderak.

Tante Sue menjilati pantat Terry dengan rakusnya. Dia membuat tubuh keponakannya itu jadi mengejang dan mengejang, berulang-ulang kali. Terry mengeluarkan suara-suara rintihan dan mendorong pantatnya ke belakang, dia minta lagi.

Sementara Terry menggeliat, merintih dan mengerang, tantenya terus saja menjilati pantat Terry. Dia menjilati dengan cukup keras hingga membuat pantat itu jadi berguncang-guncang dengan berat. Dia juga membasahi belahan pantat itu dengan air liurnya, begitu banyak air liur yang sudah dia semprotkan, hingga mulai merembes ke paha Terry.

Rintihan dan erangan Terry terdengar semakin keras, tampak jelas bahwa dia menikmatinya.


Semakin lama, tante Sue jadi semakin terangsang dan agresif, dia beralih ke pipi pantat Terry yang satunya lagi dan mulai menjilatinya juga. Terry mengeluarkan suara erangan sebagai tanda bahwa dia menyetujuinya.

Terry kemudian mengangkat tubuhnya agar berada pada posisi membungkuk dengan bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Dengan teteknya yang menggantung ke bawah, dia melihat kebelakang, ke arah sang tante yang sedang menjilati pantatnya.

Tante Sue menahan tubuh keponakannya itu dengan kedua tangannya, membenamkan kuku-kuku jarinya ke dalam daging yang ada dipinggang gadis itu. Dia kemudian memutar-mutar lidahnya di belahan pantat gadis itu dan mulai menjelajahi ruagan yang ada di dalamnya.

Terry merintih, menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.

Tante Sue menjilati ke dua sisi dari belahan pantat Terry, dan kemudian disepanjang belahan pantat itu. Dia menyiksa semua syaraf yang ada di sana. Terry memohon agar tantenya tidak berhenti menjilati, rintihan-rintihan gadis itu terdengar seprti suara musik yang indah ditelinga tante Sue.


Wanita itu menjilat dengan lebih keras lagi. Dia bahkan mulai menyedot dengan kuat dan ganas. Dia membanjiri belahan pantat Terry dengan air liurnya sampai air liur itu merembes ke paha Terry.

Dan Terry menikmati semua itu. Pantatnya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Teteknya berguncang kesana kemari. Dia mulai menjilati bibirnya dan tampaknya tak mampu lagi mengendalikan diri akibat jilatan-jilatan hangat dari lidah tantenya itu.

Lidah tantenya mulai menjalar ke arah lobang burit Terry sehingga membuat Terry jadi makin gelagapan. Terry mengencangkan otot-otot lobang buritnya, dalam usaha untuk meredakan sensasi-sensasi nikmat yang tidak diragukan lagi berasal dari lobang itu.


Tante Sue berusaha berhati-hati agar lidahnya tidak terjebak di dalam perangkap yang mematikan itu. Dengan lobang pantat yang terus menerus dipompa oleh keponakannya itu, tante Sue menggerakkan kepalanya kesana kemari, menghujam-hujamkan lidahnya yang basah ke lobang pantat Terry. Karena terlalu bersemangat untuk membenamkan lidahnya ke lobang itu, tante Sue hampir membuat keponakannya itu jadi hilang kendali.

Terry menggeliat, mengerang, merintih dan mendesah saat lidah hangat tantenya menyerang lobang pantatnya berulang-ulang kali. Tante Sue bisa membayangkan dengan mudah apa yang tengah dirasakan oleh keponakannya itu, karena sebelumnya, lobang pantatnya sudah sangat sering dijilati orang.

Dia tahu bahwa lidahnya yang hangat itu terasa seperti sebuah parutan di daging pantat Terry yang lembut, sebuah parutan yang memarut pantat gadis itu dengan kasar. Sebuah jeritan yang tiba-tiba, meyakinkan tante Sue bahwa perkiraannya memang tepat.

Tante Sue juga tahu bahwa rasa hangat juga sedang menjalari lobang pantat gadis montok itu. Dia penasaran apa gadis itu mampu menahannya. Kalau dia sendiri yang harus mengalaminya, maka tante Sue mungkin sudah roboh sekarang karena lemas.


Rasa kagum kepada keponakannya itu mulai tumbuh di hati tante Sue saat dia terus memutar-mutar lidahnya di lobang pantat Terry.

"Tante membuat ku jadi kewalahan!" akhirnya Terry berteriak, sambil meremas-remas teteknya. "Aku sudah tidak sanggup lagi menerima semua kenikmatan ini!"

"Apa aku juga boleh memasukkan lidah ku ke dalam lobang memek mu?" tanya tante Sue sambil mengangkat kepalanya.

"Oh, iya, tentu, harus itu. Masukkan lidah mu kemana pun yang tante mau, asalkan jangan lagi ke lobang pantat ku. Aku bisa gila jadinya!" Terry merentangkan kedua pahanya lebar-lebar, untuk memberikan ruang di memeknya agar bisa di masuki oleh lidah tante Sue.