Ngentot di Shower

Tak perah terpikirkan oleh Savita bahwa dia akan mengalami hari dimana suaminya akan memintanya untuk berhenti menghisap kontolnya. Biasanya, sebuah blow job yang nikmat adalah salah satu yang selalu diminnta oleh suaminya itu.


Tapi permintaan sang suami tersebut tidak membuat Savita jadi khawatir. Savita memahami bahwa suaminya itu cuma ingin memuntahkan air maninya ke jauh di dalam nonoknya, bukan ke dalam mulutnya. Pemikiran tersebut membuat Savita jadi bergairah.

Savita melepaskan kontol besar suaminya dari dalam mulutnya. Si pengentot itu sedang berdiri tegak, lurus dan kuat serta siap untuk melakukan aksi berikutnya. Sambil tersenyum, Savita menyundul kontol besar itu dengan hidungnya kemudian berdiri dan membalikan tubuhnya. Sang suami kemudian memegang pinggang Savita lalu mencoba untuk menusuk nonok Savita dari belakang.


"Ooooiiiii...", Savita merintih, sambil membungkukkan punggungnya. "Tusukan kontol mu tepat mengenai sasaran, tukang ngentot. Ayo hujamkan lagi kontol besar mu itu."

Savita, dengan air shower yang terus membasahi wajah dan teteknya, membungkukkan tubuhnya dan sambil berpegangan pada dinding kamar mandi dia meregangkan kedua kakinya lebar-lebar.


Suaminya mengencangkan pegangannya pada pingggang Savita lalu kembal mengayunkan pantatnya agar kontol besarnya bisa kembali masuk jauh ke dalam nonok istrinya. Kepala kontolnya merasuk jauh ke dalam lubang memek istrinya dan membelah bibir memek Savita menjadi dua.

Savita kembali merintih, lalu kemudian secara tiba-tiba dan tak terduga, dia mengeluarkan suara lolongan yang panjang dan terdengar mengerikan serta menyayat hati dan sanubari, saat suaminya yang berkontol panjang dan besar itu kembali menghujamkan senjata warisannya ke dalam nonok Savita.

Dalam waktu sekejab saja, kontol besar sang suami pun telah masuk semua dan hilang lenyap hingga jauh ke dalam lubang nonok Savita yang terasa lembab dan hangat serta berdenyut-denyut. Savita pun sangat menyukai rasanya, saat nonoknya itu dihujam oleh kontol besar suaminya, sungguh luar biasa nikmatnya.

"Oooohhh...., sedaaaap...., nikmaaaa....t," kata suaminya, dia pun mencium punggung istrinya dengan penuh nafsu hingga membuat istrinya jadi semakin bernafsu.


"Mmmmmm!" Savita meringkih dan merintih, kepalanya terangkat kebelakang, matanya terpejam, rambutnya kusut, teteknya membesar, nonoknya semakin mekar, hidungnya panjang, dan telinganya lebar-lebar. "Entot aku dengan kuat dan cepat. Aku pingin merasakan kontol besar mu itu saat sedang beraksi," kata Savita.

Secara perlahan sang suami mulai menggerakkan lidahnya di sepanjang batang leher Savita, sambil terus mengayun-ayunkan pinggulnya agar kontol besarnya bisa tetap keluar masuk di lubang nonok Savita. Dia mengayunkan pingggulnya dengan ayunan yang kuat dan mantap sehingga membuat Savita mengeluarkan suara-suara rintihan yang indah.

Savita menggigit bibirnya saat dia merasakan memeknya semakin menghangat. Dia mengerang, jari jemari tangannya mengalami kesulitan untuk tetap menempel pada dinding kamar mandi yang basah itu. "Kontol mu besar amat sayang. Pelan-pelang dong ngentotnya, sakit tau!"

Sambil menciumi dan menjilati punggung istrinya, Wilson terus saja menghujam-hujamkan kontol besarnya ke dalam memek Savita yang basah dan hangat itu.

Kepala kontol Wilson menusuk-nusuk dan menggesek-gesek setiap bagian dari dinding memek Savita, meregangkannya selebar mungkin. Batang kontolnya yang gemuk itu menggosok-gosok setiap syaraf yang ada di lubang memek Savita dan menggeseknya tanpa ampun.

Bulu jembut Wilson juga tidak mau ketinggilan untuk ikut ambil bagian. Bulu-bulu yang tebal dan keriting itu menggelitik dan mengusik clitoris Savita. Begitu juga dengan biji kontol Wilson, ikut sibuk berayun-ayun ke depan dan ke belakang untuk menghantam bibir memek Savita, sehingga membuat bibir memek yang biasanya berwarna putih susu itu berubah warna mejadi merah.

"Memek mu selalu terasa enak Savita, tak peduli seberapa seringpun kita ngentot."

Wilson kemudian mulai memompa kontolnya lebih keras lagi, dan sebagai respon atas ayunan kontol itu, Savita pun menjerit dan merintih. Tubuh Savita pun jadi ikut bergoyang maju mundur tanpa terkendali, seperti orang yang sedang kerasukan setan mesum.


Napasnya jadi terngah-engah, mirip tukang becak yang sedang naik tanjakan. Teteknya yang besar itu pun jadi terayun-ayun kesana kemari. Savita mengerang dan merintih saat tetek dan memeknya jadi semakin membengkak.

"Aku akan segera keluar!" teriak Savita "Tinggal sedikit lagi!" Air shower terus mengucur ke tubuhnya, membasahi setiap inchi dari tubuhnya yang montok itu. Dia merasa tak tahan lagi.

"Oh, yeeessss, Yeeessss! I'm coming!" Savita mendorong memeknya ke belakang, ke arah kontol besar suaminya dan menegangkan setiap otot dari tubuhnya untuk menjaga agar bibir memeknya tetap merapat dan menjepit kontol besar itu dengan kuat.

Sambil menjepitkan memeknya, Savita pun akhirnya memasrahkan dirinya untuk jatuh ke dalam pelukan orgasme yang memuaskan dan melemaskan.

Setelah beberapa lama, akhirnya Savita berucap, "Oh... nikmatnya..... rasanya seperti di surga."

"Oh sayang, kau akan benar-benar segera merasakan sorga dunia, karena itu tadi baru pemasanan saja."

Wajah Savita jadi memerah saat mendengar kata-kata Suaminya itu. Selama ini suaminya itu memang selalu menunjukkan keperkasaannya dalam hal ngentot, dan dia tidak akan pernah mau membuat istrinya merasa kecewa. Dia akan terus mengentot istrinya sampai Savita benar-benar merasa lemas dan tak mampu lagi untuk melanjutkan.