Ngintip Orang Ngentot

Savita tidak berhasil menemukan si kembar di ruang tengah maupun di ruang makan, sehingga dia menjadi khawatir. Dimana mereka berada?


Dia bertekad untuk meneruskan pencariannya, terutama demi keselamatan Kim. Putrinya itu punya tetek yang terlalu besar untuk dibiarkan berkeliaran bebas di sekitar begitu banyak pria yang kasar.

Saat Savita bergerak ke arah ruang kerja untuk melanjutkan pencariannya, dia melihat butir-butir air hujan yang membasahi kaca jendela, dan sesekali kilatan petir yang menyambar-nyambar dilangit malam itu.

Dia berhenti disana dan menemukan dirinya tengah berada diantara para tetangganya, yang semuanya mengenakan gaun malam sambil menggenggam minuman. Salah seorang wanita cantik yang menjadi tetangganya mendatangi Savita sambil tersenyum. "Savita, dari tadi aku mencari mu."

"Dan aku juga sudah berkeliling untuk mencari anak kembar ku. Apa kau melihat mereka, Joy?"

"Tidak, tapi aku sudah bertemu dengan Larry. Itulah yang ingin aku bicarakan dengan mu." Gaun wanita itu tampak membungkus tubuh montoknya dengan ketat. Joy adalah salah satu dari sedikit wanita yang bisa menyainyi Savita dalam hal kemolekan tubuh.

"Larry, emang dia sudah melakukan apa?"

"Dia sudah gede sekarang, itulah yang sudah dia lakukan. Anak mu Larry, sudah bukan bocah kecil lagi. Dia berani merayu banyak wanita yang ada di sini, termasuk aku, dengan cara memberi tahu mereka bahwa dia punya kejutan sepanjang 10 inchi untuk mereka kalo mereka mau. Sial. Aku tentu akan mau menerima tawarannya seandainya saja suami ku sedang tidak ada di sini. Tapi kau kan tahu kalau suami ku itu pencemburu."

"Sekarang Larry ada dimana?"

"Aku nggak tahu, mungkin seseorang telah menerima tawarannya." Joy mengedipkan matanya dan mencubit Savita, kemudian pergi meninggalkannya, pinggulnya bergoyang saat dia berjalan.

"Dasar lonte!" Savita menggerutu. "Kalau dia berani menerima tawaran dari anak ku, akan ku gantung dia!"

Apa anak lelakinya itu benar-benar mengira bahwa dia sudah cukup dewasa untuk mengentor wanita dewasa? Pikir Savita. Atau itu cuma karena dia sedang mabuk karena kebanyakan minum?

Sepuluh inchi!

Savita tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa anaknya itu mungkin sudah cukup dewasa untuk membuat keputusannya sendiri. Pemikiran seperti itu tidak pernah terlintas di pikirannya.


Tidak bagi Savita, Larry itu masih tetap seorang anak kecil. Anaknya. Rasanya masih baru kemarin Savita masih memandikan dan membantu dia berpakaian sebelum berangkat ke sekolah.

Namun tetap saja, masih ada rasa keraguan dihati Savita. Apa mungkin aku cuma tidak ingin Larry tidur dengan wanita lain selain aku? Pikir Savita.

Omong kosong, Savita memutuskan.

"Savita, apa kau sedang melamun? Aku sedang bicara dengan mu, hoi, sadar!"

Savita tersadar dari lamunannya lalu memalingkan wajahnya dan menemukan seorang pria muda sedang tersenyum padanya. ""Oh, ma'af, aku sedang memikirkan sesuatu. Kau tadi bilang apa?"

Pria itu adalah Rojer yang tinggal di ujung jalan. Sebelumnya, dia sudah sering bertegur sapa dengan Savita sehingga Savita jadi mengenalnya. Savita berharap kali bukan cuma untuk bertegur sapa saja.

"Aku tadi bilang apa kau tahu kalau kedua anak mu yang kembar itu sedang berkeliaran sambil mengenakan piyama. Maksud ku, aku tahu itu bukan urusan ku, tapi untuk Kim itu masalah lain, dan jika nanti ada pria yang mendapati dia sedang sendirian di suatu tempat...."

"Dimana mereka?"

"Aku kurang tahu, tapi aku yakin mereka berlarian di lorong itu beberapa menit yang lalu." Rojer menunjuk ke pintu yang ada di sisi lain dari ruangan itu. Pintu itu menuju ke arah sebuah gang, yang mana gang mengarah ke ruang baca.

"Makasih yang Rojer. Aku akan mencari mereka."

"Apa kau butuh bantuan?" Tangan Rojer menjangkau ke belakang Savita lalu mencubit pantat Savita. "Kau kan tahu betapa aku sangat ingin membantu mu."

"Jangan sekarang Rojer. Nikmati saja pestanya." Kemudian, untuk membuatnya tetap tertarik, Savita berkata, "Mungkin nanti. Saat aku sudah siap."

Dia memberikan sebuah senyuman yang seksi kemudian meninggalkan ruangan yang sedang dipenuhi oleh para tamu itu.

Sebelum mencapai pintu itu, Savita melihat Jack sedang duduk diatas sofa bersama dua pasangan lainnya. Dia tidak bersama dengan Sue seperti yang Savita harapkan, malahan dia sedang melingkarkan tangannya di leher seorang gadis belia berambut pirang.

Savita tidak terlalu merasa terkejut jika melihat seorang pria dewasa yang berwajah tampan lebih suka merayu seorang cewek yang umurnya cukup muda untuk menjadi putrinya. Tapi tetap saja, hal itu menurutnya kurang pantas.

Savita ingin mengemukakan pikirannya itu kepada Jack, tapi dia taku hal itu akan mengganggu kedamaian pesta tersebut. Pemandangan itu membuat Savita menjadi tidak yakin apakah dia bisa mempercayai Jack untuk berdua saja dengan kedua putrinya, keponakan-keponakan Jack sendiri.


Beberapa lama kemudian akhirnya Savita menemukan si kembar. Dia melihat mereka sedang berada di depan pintu ruang baca, dimana tidak terlihat satupun orang lain. Sebelumnya, Savita mendengar suara cekikkan dan bisikan, dan saat dia melihat ke arah disekitar sudut, disanalah mereka berada.

Savita hendak segera memanggil mereka, sampai dia menyadari apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan. Pemandangan itu membuatnya jadi shock.

Kedua anak kembar itu sedang berlutut, mengintip melalui lubang kunci dari pintu yang terkunci. Kepala pirang mereka bergerak maju mundur saat mereka bergantian untuk mengintip.

Dan sambil mengintip, tangan kanan Teddy bergerak-gerak dibawah baju tidur saudarinya, meraba-raba pantat saudari kembarnya itu; semntara tangan kiri Kim bergerak-gerak di dalam celana piyama saudara kembarnya, mengocok kontol saudara kembarnya itu.

"Baiklah, kalian berdua, sudah cukup." Kemunculan Savita yang secara tiba-tiba itu membuat kedua bocah kembar itu sangat terkejut dan ketakutan.


Mereka langsung berdiri, dengan mulut yang menganga dan wajah yang memerah. Tampak jelas kontol Teddy lagi ngaceng; dan tetek saudari kembarnya sudah menggembung.

Savita merasa amat sangat terkejut; selama ini dia mengira kedua bocah kembar itu adalah anak-anak yang baik dan lugu. Dia tidak mampu berkata apa-apa.

"Nakal! Nakal! Nakal! Kalian sudah tidak mau lagi patuh pada ku. Sekarang pergi ke kamar kalian dan langsung tidur. Kalian dengar?"

"Ya, Mommy," jawab mereka berbarengan.


"Cepat sana pergi! Besok mami dan papi akan memarahi kalian berdua. Ingat ya!"

Sial, aku hampir tidak percaya semua ini. Baru kemarin mereka masih menjadi anak-anak yang lugu, dan sekarang mereka sudah mulai tertarik dengan seks. Wah, kalo begitu, hal pertama yang harus aku lakukan adalah menempatkan mereka di kamar tidur yang terpisah.

Savita mengawasi kedua anak kembar itu berlari ke arah kamar mereka, lalu dia berkata pada dirinya sendiri, "Aku jadi penasaran, mereka sedang mengintip apa?"

Savita mengangkat gaunnya agar tidak robek kemdian dia berlutut diatas karpet yang lembut lalu mengintip ke lubang kunci. Butuh beberapa lama bagi mata Savita untuk terbiasa dengan cahaya remang yang ada di dalam, tapi semuanya tampak jadi lebih jelas, dia kembali mengalami shock.

Anaknya Larry sedang berada di dalam ruangan itu. Larry pasti sudah mengambil kunci dan masuk ke ruangan itu. Dia tidak sendirian. Si janda, Jill, yang tinggal diseberang jalan sedang bersamanya. Keduanya sedang telanjang dan berbaring diatas karpet yang ada di depan meja. Mereka tidak sedang tidur.


Savita memutuskan untuk tidak buru-buru menggedor dan menggerebek mereka. Dia tetap berlutut disana, mengintip dan mendengarkan semua yang sedang terjadi di dalam ruangan itu.