Tante Pengen Ngentot

Sebuah meja bundar menempati bagian tengah dari kamar tidur mereka. Savita berdiri di depan kaca sambil mengenakan BH. Sedangkan suaminya sedang mengenakan celananya.


"Percayalah suami ku, di bawah itu sedang ada pesta gila-gilaan. Aku rasa kita harus segera kembali ke bawah sebelum semuanya jadi semakin tak terkendali."

"Baiklah istri ku, walaupun aku sebenarnya merasa enggan untuk meninggalkan kamar. Bukankah kau sendiri tadi yang ngajak aku ngentot, masih ingat?"

"Ya aku masih ingat, itu karena aku selalu di cubit dan diraba setiap kali aku menyajikan minuman. Wanita mana yang tidak akan menjadi horny kalau diperlakukan seperti itu. Selain itu, kau sendiri juga tampak sangat ingin mengentot ku."

"Mungkin kau benar istri ku, tapi aku merasa senang karena kita mengadakan pesta ini. Hal itu sepertinya hal yang wajar untuk dilakukan, mengingat anak-anak kita sedang pulang untuk berlibur di rumah. Dan kakak ku, Jack, serta adik mu Sue, juga sedang berlibur di sini. Maksud ku, bukankah akan lebih menyenangkan jika kita ikut mengundang para tetangga agar ikut membantu meramaikan pesta keluarga ini?"

"Dengan mengadakan pesta ini memang jadi sangat menyenangkan," kata Savita sambil mengenakan celana dalam berwarna hitam yang cuma menutupi belahan pantatnya. "Aku senang anak-anak kita berlibur di rumah. Mereka sudah benar-benar besar sekarang. Larry begitu tampan, begitu maskulin. Dia mengingatkan aku akan diri mu, 20 tahun yang lalu suami ku. Mmmm. Andai saja aku ini pacarnya, tentu aku akan meminta dia untuk mengentot ku setiap malam."

"Oh, tentu saja kau akan memintanya untuk mengentot mu setiap malam, iyakan? Tapi ingat, kau itu ibunya, bukan pacarnya.... tapi kau ada benarnya juga istri ku, dia sudah jadi pria yang dewasa sekarang. Dan begitu juga dengan Terry, putri kita. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi wanita yang dewasa, dengan tubuh yang benar-benar montok hingga membuat pria manapun jadi pengen mengentotnya."


"Waduh, lebih baik aku tidak membuat mu jadi mengkhayal tentang putri kita," kata Savita sambil mulai mengenakan stocking.

"Siapa, aku?" Tanya suami Savita, terlihat merasa bersalah. Saat ini dia sedang mengencangkan dasinya.

"Ya, kau!" Jawab Savita dengan ketus. "Kau dan gadis itu selalu saja menempel. Sebagai seorang anak, dia selalu saja menghabiskan waktunya untuk berada di dekat mu, dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggang mu. Atau duduk dipangkuan mu, sambil menggoyang-goyangkan pantat kecilnya, saat kau sedang membacakan cerita untuknya."

Savita mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

"Tunggu dulu Savita, kau tahu kan bahwa semua itu adalah hal yang wajar. Dia itukan putri ku."

"Dia memang putri mu dengan tubuh yang sangat seksi. Jadi jangan coba-coba untuk memancingnya." Savita kemudian mulai mengenakan gaun pestanya, sebuah gaun putih yang tipis dengan bagian dada yang terbuka. Dia merasa sangat seksi.

"Oh, jangan konyol." Kata suaminya sambil duduk di tepi ranjang untuk mengikat tali sepatunya. "Selain itu, aku yakin sekarang putri kita sudah benar-benar dewasa untuk tidak lagi bersikap seperti seorang gadis kecil yang manja."

"Tapi aku koq tidak begitu yakin," kata Savita.

"Baiklah, tapi bagaimana dengan adik mu, Sue? Apa dia sudah cukup dewasa untuk tidak lagi merasa takut dengan pria? Atau apa dia masih merasa takut saat melihat pemandangan kontol yang tampak menonjol dibalik celana pria?"

"Adik ku tidak takut dengan pria, dia itu cuma pemalu."

"Omong kosong! Kita mengundangnya dan juga Jack ke pesta ini, dengan harapan mereka akan berjodoh. Tapi adik mu menolak berada di dekat pria itu."

Savita mulai mengenakan sepatu hak tinggi berwarna hitam.

"Adik ku itu sekarang sudah berusia 30 tahun, jadi dia berhak untuk memilih sendiri teman-temannya." Savita menyisir rambutnya kemudian menambahkan lipstick dan eyeshadow sebelum keluar kamar. Sambil berjalan dia berkata, "Aku akan memeriksa si kembar dulu sebelum aku kembali ke pesta di bawah."

"Ide yang bagus. Sebentar lagi aku akan menyusul ke bawah."

Si kembar, Kim dan Teddy, adalah dua anak mereka yang lainnya. Kamar tidur mereka berada di ujung lorong. Savita membuka pintu dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan mereka. Tapi yang membuat dia kaget, ternyata ranjang mereka kosong, kamar itu telah ditinggalkan.

"Kurang ajar!" teriak Savita. "Mereka tidak mematuhi ku dan pergi ke bawah. Aku tahu itu. Awas ya, akan ku cubit pantat kecil mereka begitu mereka berhasil aku tangkap."


Tapi saat itu juga tiupan angin dingin meredakan amarah Savita dan membuat tubuhnya jadi menggigil. Rupanya, setan kembar itu telah membiarkan jendela kamar mereka terbuka.

Savita pun segera menutup jendela itu dan buru-buru turun ke bawah untuk mencari kedua monster kecil itu.

"Dasar anak-anak nakal! Singkirkan tangan mu dari tetek ku atau akan aku adukan pada ayah ku!" teriak gadis itu. Dan tante Sue pun buru-buru menyelamatkan keponakannya.

Hanya beberapa yang lalu, tante Sue sedang menikmati pesta. Pesta tersebut berlangsung meriah. Canda dan tawa terdengar di semua ruangan, baik itu ruang tengah, dapur, maupun ruang tamu. Savita, kakaknya, sudah mengunci pintu ruang kerja, dengan harapan setidaknya kamar itu tidak masuki oleh para tamu.

Tante Sue sedang berada ditengah para tamu undangan, saling bertegur sapa dan berbagi senyum serta kata-kata yang sopan, menghindari jari-jari yang meraba dan bibir-bibir yang nyosor, berpura-pura tidak melihat sesekali ada pasangan yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam kamar mandi, dan berusaha sebaik mungkin untuk bisa membaur.

Dan saat itulah, saat tante Sue sedang berjalan menuju dapur untuk mengambil es, dia mendengar teriakan dari keponakannya.

"Dasar anak-anak nakal! Singkirkan tangan mu dari tetek ku atau akan aku adukan pada ayah ku!"

Tante segera mencari dan mendatangi dari mana suara tersebut berasal lalu dia melihat sebuah pemandangan yang horor. Keponakannya, Terry, sedang bersandar di dinding, dengan tiga orang bocah pria yang masih berusia remaja sedang menggerayangi seluruh tubuh Terry.


Tante Sue merasa sangat kaget sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa, cuma bengong dan menatap dengan kedua mata yang terbelalak dan mulut yang terbuka lebar.

Ketiga bocah pria itu telah berhasil membuka gaun keponakannya dari atas hingga ke pinggulnya dan saat itu mereka sedang berusaha untuk membuka dan melorotkan celana dalam keponakannya tersebut.

Terry, keponakannya, sedang berjuang mati-matian untuk menutupi memeknya agar tidak terlihat oleh ketiga bocah nakal itu. Tapi geliat dan gerakan dari Terry malah membuat ketiga bocah itu jadi makin bersemangat dan bernafsu.

"Ayolah, Terry," kata salah seorang bocah, "kami tidak akan menyakiti mu. Kami cuma ingin melhat memek mu, cuma itu."

"Ya, itu benar," kata bocah yang lainnya, "kau sudah besar sekarang. Kau sudah cukup dewasa. Bahkan, kau sudah benar-benar jadi wanita yang dewasa. Aku heran, kenapa kau masih saja takut dengan cowok."

"Biarkan kami melihat memek mu," kata bocah yang satunya lagi, "dan kami juga akan membolehkan mu untuk melihat kontol-kontol kami, adil bukan?"

"Dasar anak-anak berandal! Akan aku adukan kalian pada ayah ku!"

"Kau itu sudah terlalu tua untuk tetap mengadu pada ayah mu," kata salah seorang bocah, tangannya menangkup belahan memek Terry. "Ayolah, kita keluar dan masuk ke kursi belakang mobil ku. Kami bertiga akan bergantian untuk memasukkan kontol kami ke memek mu. Kami akan membantu mu agar bisa tumbuh dewasa dengan lebih cepat. Yuk!"


"Dasar anak-anak jorok! Menjauhlah atau aku akan berteriak. Aku serius. Ayah ku akan menghajar kalian semua. Tunggu saja nanti!"

"Ah, kami sudah capek menunggu," kata salah seorang bocah. Kemudian dia merangkul pinggang Terry lalu membopongnya. Teman-temannya ikut membantu, mereka bertiga mencoba untuk membawa Terry ke luar dari pintu belakang, sementara Terry berteriak histeris dan memberontak.

Tante Sue merasa sudah cukup melihat. "Turunkan gadis itu, dasar kalian para pemerkosa keparat! Turunkan kata ku!"

"Sial! Siapa wanita keparat itu?"

"Aku ya ndak tahu toh, tapi lebih baik kita kabur saja dari sini!"

"Yeah, lebih baik kita kabur dan mencari lonte ditempat lain saja!"

Mereka pun meletakkan tubuh Terry dan segera melarikan diri. Tante Sue tidak mengejar mereka, dia lebih memilih untuk menenangkan keponakannya, yang masih merasa ketakutan dengan tubuh yang gemetar. Untungnya, tubuh gadis itu sama sekali tidak mengalami cidera, hanya harga dirinya saja yang terluka.

"Kau sudah aman sekarang, Terry, ayu tante bantu berdiri." Tante Sue merasa yakin bahwa keponakannya itu masih perawan. Seorang gadis belia di dalam tubuh seorang wanita dewasa. Dan tubuhnya benar-benar indah lagi menggoda. Tetek yang besar dengan puting-puting yang runcing, tampak menyembul di balik gaunnya yang tipis.

Karena gaun Terry masih berantakan, tante Sue bisa melihat dengan jelas kedua paha Terry yang putih mulus. Dia bahkan bisa melihat sebagian dari bulu jembut Terry yang menyembul keluar dari balik celana dalamnya. Tante Sue menatap Terry dengan tatapan yang lama dan panjang saat membantu keponakannya itu untuk berdiri.


"Kenapa cowok-cowok itu begitu kasar?" tanya Terry, sambil menghela rambut yang menghalangi pandangan kedua matanya. "Mereka pasti akan memperkosa dan mengentot aku secara bergiliran seandainya tante tidak segera muncul. Oh, membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup."

"Cobalah untuk melupakannya," kata tante Sue. Dia merapikan gaun keponakannya yang berantakan, sambil mengambil kesempatan untuk meraba-raba tubuh keponakannya itu.

"Bapak dimana tante? Aku pengen mencarinya."

"Aku akan mencarikannya untuk mu. Tapi sebelum itu, tante akan membantu mu untuk pergi ke kamar mu, agar kamu bisa berbaring dan beristirahat disana." Tante Sue meletakkan tangannya di pinggang Terry dan menganjurkan gadis itu agar menyandarkan kepalanya ke tetek tante Sue. Mereka pun berjalan ke arah tangga, pinggang mereka bergesekan, begitu juga dengan kedua paha mereka.

"Bersama mu aku merasa aman tante Sue."

Kamar tidur Terry sudah di rapikan oleh ibunya untuk masa-masa selama liburan sekolah dan musim panas. Tidak terlihat satupun orang di lorong saat tante Sue membawa gadis itu ke dalam kamarnya lalu menutup pintu kamar tersebut.

Tante Sue membawa gadis itu ke tempat tidurnya lalu membaringkannya, dan kemudian mulai membuka gaun gadis itu.

"Apa kau benar-benar tidak suka sama cowok?" tanya wanita itu sambil membuka gaun Terry.

"Ya, mereka itu selalu berpikiran mesum. Aku benci mereka semua."

"Apa kau sama sekali tidak pernah merasa horny?" Tante Sue mulai melepaskan gaun Terry dari tubuhnya. Tetek Terry yang besar mulai menyembul keluar. Kedua benda yang menonjol itu dilapisi dengan kulit yang putih bersih, dan di ujungnya terdapat dua puting yang berwarna pink. Pemandangan tersebut membuat tante Sue menahan napasnya.

"Terkadang, tapi seorang cewek di sekolah mengajarkan aku tentang cara untuk memainkan memek ku sendiri dengan jari-jemari ku. Katanya, menggunakan jari itu tidaklah sesakit kalau di tusuk dengan kontol. Kau tidak akan mengadukan hal ini pada ayah kan, tante?"


"Tentu saja tidak," kata tante Sue, sambil menjangkau dan menangkup salah satu dari tetek Terry. "Kenapa aku harus mengadukannya? Ini akan menjadi rahasia diantara kita berdua saja."

Tante Sue meremas-remas tetek Terry dan membuat putingnya jadi semakin mengeras.

Terry mengerang, "Apa yang sedang kau lakukan tante?"

"Oh, tidak apa-apa. Kau percaya pada tante kan, Terry?"

"Ya, tentu aku percaya. Kau kan tante ku."

"Apa kau mau tante ajarkan cara lain untuk memuaskan nafsu seksual mu, sebuah cara yang membutuhkan seorang partner?"

"Ya, tentu aku mau. Tapi nggak sakit kan?"

"Sama sekali tidak. Kau cuma perlu melakukan apa yang aku katakan, keponakan ku."

"Baiklah, tante."