Belajar Ngentot

Setelah mengembalikan gaun yang dia pinjam dari kamar tidur Mamanya, Kim, yang sudah kembali mengenakan baju tidurnya, menyelinap masuk ke kamarnya tanpa terlihat siapapun.
Dia tersenyum lebar, karena belum pernah merasa sebahagia selama hidupnya. Dan dia merasa berhutang pada pamannya atas kebahagiaan yang tengah dia rasakan itu, orang yang telah mengoyak keperawanannya serta berjanji untuk mengentotnya lagi besok atau lusa.

Sensasi-sensasi kenikmatan masih terasa di memeknya saat Kim menutup pintu kamarnya dari dalam dan berjingkat-jingkat ke arah tempat tidurnya.

"Apa itu kau, Kim?" lampu tidur tiba-tiba menyala.

"Ya, Teddy, ini aku. Dan aku baru saja mendapatkan sebuah pengalaman yang sangat nikmat."

"Apa kau berhasil menemukan seseorang untuk di entot?"

"Yap, tapi kau tidak akan percaya siapa yang aku ajak ngentot."

"Siapa? Beri tahu aku."

"Om Jack. Percaya nggak, aku benar-benar telah mengentot Om Jack. Dan dia berjanji untuk mengentot ku lagi besok. Oh betapa bahagianya aku, Teddy, sangat bahagia sekali."

"Aku juga punya rahasia," kata Teddy, tidak mau kalah.

"Rahasia apa? Katakan pada ku."

"Tante Sue tadi kesini dan dia membolehkan aku untuk mengentotnya. Dia mengajarkan banyak hal kepada ku. Dan semuanya terasa sangat nikmat."

"Benarkah! Itu bagus sekali, Teddy! Sekarang kau bukan lagi seorang perjaka tingting!"

"Yap."

"Wow! Hey, aku punya ide. Teddy, kenapa kau tidak menunjukkan pada ku semua yang Tante Sue ajarkan pada mu, dan aku juga akan menunjukkan pada mu semua yang Om Jack ajarkan pada ku, bagaimana?"

Kim turun dari atas ranjangnya lalu merangkak naik ke atas ranjang Teddy.

"Okelah kalau begitu, rasanya pasti akan sangat menyenangkan. Lagi pula, memang sudah sangat lama sekali aku ingin memasukkan kontol ku ini ke nonok kecil mu, Kim."

"Oh seperti itu. Aku tidak tahu, kenapa kau tidak bilang pada ku?"

"Aku takut mengatakannya pada mu karena aku belum tau cara mengentot. Tapi sekarang aku sudah tahu." Teddy menggeser tubuhnya untuk memberikan ruang pada Kim, saudari kembarnya.

"Aku juga begitu," kata Kim, dan mereka berdua pun sama-sama tertawa sambil membuka selimut itu kemudian berpelukan.

"Ya ampun, Teddy, kau membuat ku jadi benar-benar terangsang," kata Kim saat dia memperhatikan kontol Teddy yang sudah mengeras dan tegang. "Cepatlah dan tunjukkan apa saja yang sudah diajarkan oleh tante Sue kepada mu. Aku sudah tidak sabar lagi nih."
Saat Teddy mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap nonoknya, Kim mengangkat baju tidurnya beberapa inchi dan memperlihatkan memeknya secara sekilas kepada Teddy.

Teddy menunduk dan mulai membaui gundukan memek Kim.

Kim membelai-belai rambut Teddy saat Teddy sedang menciumi aroma memeknya. Napas Teddy menyalakan api nafsu yang berada di paha dan bibir memeknya. Tidak lama kemudian Kim sudah bisa merasakan napas Teddy yang hangat di belahan memeknya. Dia melihat ke arah pintu kamar saat sebuah getaran yang kuat mengguncang tubuhnya.

"Ini sangat menyenangkan, Teddy. Jika orang-orang dewasa di lantai bawah sana mengira bahwa mereka sedang bersenang-senang, seharusnya mereka naik ke sini dan melihat apa yang sedang kita lakukan. Kita akan mengajari mereka satu atau dua hal, betul?"

Kim merentangkan kedua pahanya lebar-lebar dan mengangkat baju tidurnya beberapa inchi lagi. Kemudian dia membuka ikatan rambut agar terurai. Dia sudah siap sekarang. Pesta ngentot pun segera di mulai!
Getaran-getaran terasa menjalari punggungnya saat hidung Teddy, saudara kembarnya, mulai menekan gundukan memeknya. Kim menggigit giginya dan menggerak-gerakkan pantatnya lalu melihat ke arah pintu kamar. Semuanya masih aman.

Teddy membaui dan mengendus saat dia menikmati memek saudari kembarnya yang hot. Bulu jembut Kim adalah yang paling membuat Teddy mengeluarkan suara mengendus.

Saat Teddy mengendus memek Kim, hidungnya menggosok-gosok daging memek Kim yang lembut. Memek Kim jadi kejang-kejang tak terkendali saat gelombang-gelombang listrik mengalir ke sekujur tubuhnya. Kim memompa memeknya dengan kuat agar bisa mengatasi kenikmatan-kenikmatan yang tak tertahankan itu.

Kim mulai menggeliat dan mengejang. Dia berusaha semaksimal mungkin agar tidak banyak bergerak, karena tidak ingin orang tuanya atau siapapun mendengar apa yang sedang terjadi di kamar itu.

Dia jadi merasa aneh, karena saat dia sedang ngentot dengan pamannya, dia sama sekali tidak merasa takut untuk ketahuan. Dia selalu merasa aman dan nyaman saat itu.

Tapi sekarang, dengan saudara kembarnya sendiri, dia merasa gugup dan cemas, seolah-olah dia tahu bahwa seseorang bisa saja tiba-tiba masuk ke kamar itu.

Tapi meski merasa selalu waspada, Kim benar-benar bertekad untuk mendapatkan banyak sekali kenikmatan malam ini.

Tiba-tiba, lidah Teddy menjulur dan menusuk-nusuk gundukan memeknya. Kim jadi hampir jatuh pingsan. Dia jari harus berpegangan pada leher Teddy.

LIdah Teddy menjulur-julur, melata, menjilat-jilat bulu jembut Kim, membuat bulu-bulu itu jadi basah. Dia menjilati memek Kim dengan jilatan-jilatan yang menyeluruh, lidahnya menyisir, menyibak, dan mengacak-ngacak bulu jembut Kim.

Kim menggigit bibirnya dengan keras, tubuhnya jadi kejang-kejang.
"Ya, seperti itu, jilati terus memek ku, dasar penjilat memek! Jilati dengan kuat!"

Tidak butuh waktu yang lama bagi Teddy untuk menemnukan belahan memek Kim. Dia pun mulai segera menjilati belahan itu dari atas sampai ke bawah, bolak-balik, karena ingin merasakan lendir-lendirnya.

Karena semangatnya yang terlalu menggelora Teddy membuat memek Kim jadi memperlihatkan daging-dagingnya yang berwarna pink, dan Teddy pun segera menjilatinya juga.

Memek kecil Kim akhirnya mulai tampak berkilauan karena air liur Teddy. Dengan lidahnya, Teddy membuat bibir-bibir memek Kim jadi terbuka, melebar, lalu menutupnya lagi, berulang-ulang kali. Kemudian dia memutar-mutar lidahnya di atas bibir memek itu.

Dengan napas yang terengah-engah, Kim mulai menggoyang-goyang pantatnya. Air liur mulai mengalir membasahi pahanya, dan dia segera mengelapnya secepat mungkin, sehingga tangannya jadi basah.

Kim jadi mulai berpikir apakah mungkin rasanya akan bisa lebih nikmat lagi dibanding saat ini. Jika saja dia membiarkannya, maka lidah tebal Teddy bisa membuatnya muncrat dengan mudah.

Teddy menjilati memek Kim dengan rakusnya, menghirup-hirup lendir memek Kim saat lendir itu keluar dari lobang persembunyiannya. Lidahnya menyelinap kesana kemari untuk mencari lendir lagi. Dan Kim hanya bisa menahan getaran-getaran yang mengguncang tubuhnya setiap kali lidah Teddy meliuk-liuk.
"Oh, Teddy, lidah mu hebat sekali!" Dia membuka baju tidurnya dan membiarkan teteknya terlihat jelas. Kemudian dia mulai meremas-remas teteknya itu.

Sementara itu, Teddy, berhasil menemukan lobang nonok saudari kembarnya lalu segera menyelipkan lidahnya.

Kim jadi merasa seperti sedang terbang ke awan. Kepalanya mengangguk-angguk dengan riang gembira dan meraih kedua buah dadanya lalu meremas-remas tetek yang besar itu dengan kuat. "Entot aku, Teddy! Entot aku dengan lidah mu!"

Dengan lidahnya, Teddy membuka dan melebarkan lobang nonok Kim. Sambil mendesah, Kim menarik kakinya ke atas, mengangkang selebar-lebarnya, sampai lututnya menyentuh bahunya. Dan sekarang, Teddy jadi punya ruangan yang lebih luas untuk menjilatinya.

Suara-suara jilatan yang berisik terdengar di telinga Kim saat Teddy sedang asyik bekerja dengan lidahnya, naik turun di lobang ngentot Kim. Tubuh Kim jadi menggigil, bukan karena kedinginan, melainkan karena tidak tahan menahan sentakan-sentakan arus gelombang kenikmatan.

Kim mengerang, mendesah, merintih dan berdoa, saat urat-urat syaraf di dalam lobang memeknya jadi menegang. Semakin lama, semakin banyak air liur yang membasahi pahanya. Bulu-bulu jembutnya jadi semakin basah dan lengket. Dia menutup kedua matanya agar lebih bisa menikmati sensasi-sensasi yang membahagiakan itu.
Kedua matanya jadi terbuka lagi saat lidah Teddy menggesek-gesek clitorisnya. Dia menarik napas yang panjang dan mengejang diatas kasur yang empuk itu. Dia berharap akan lebih sering lagi merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti ini.

Napas Kim terdengar berat dan sesak, seolah-olah dia sedang terserang penyakit asthma. Dia tidak bisa berhenti mengejang-ngejangkan tubuhnya atau pun menggeliat, karena lidah Teddy yang sedang mengaduk-aduk lobang nonoknya itu terasa sangat nikmat.

Yang bisa Kim lakukan hanyalah bertahan dan menunggu orgasmenya untuk membebaskan dia dari semua siksaan yang membahagiakan itu.

Saat Kim sedang menunggu orgasmenya, Teddy mulai menghujam-hujam lobang ngentotnya. Lidahnya berputar--putar mengelilingi lobang yang sempit, pengap, gelap, dan lembab itu, melebarkan dinding-dindingnya dan menggesek-gesek clitorisnya. Sedangkan Kim cuma bisa pasrah, tak berdaya.

"Aagh!" Kim menjerit. "Aku ndak sanggup lagi. Kau membuat ku muncrat, bangsat!"

Selimut diatas kasur Teddy jadi morat-marit tak karuan saat tubuh Kim menggeliat-geliat seperti kerasukan. Kedua bola matanya berputar-putar dan bibirnya gemetar, pantatnya bundar, memeknya mekar, wajahnya sangat, dadanya kekar.

Kim jadi hilang kendali. Dan sementara dia merintih serta mendesah, menggeliat dan menghujat, lobang ngentotnya menyemburkan lendir yang banyak sekali ke mulut Teddy yang menganga.

"Oh, yeah, seperti itu!" Kim menjerit, otot-ototnya seperti sedang ditarik-tarik, memeknya mengeras dan menjepit. "Luar biasa Teddy! Tante Sue mengajari mu dengan sangat baik!"

Kim menggosok-gosokkan nonoknya ke atas dan ke bawah di wajah Teddy selama beberapa detik, membuat wajah Teddy jadi basah kuyup oleh lendir-lendirnya. Kemudian dia ambruk, terkulai lemas dan tak bertenaga diatas kasur, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman, senyum kebahagiaan.
Beberapa menit telah berlalu. Tawa, canda dan teriakan dari pesta yang ada di lantai bawah sampai juga ke telinga Kim. Semua orang tampaknya sedang bersenang-senang, pikir Kim, jadi kenapa dia dan saudara kembarnya tidak boleh bersenang-senang juga?

Teddy masih bersama dengannya, tampak semakin tertarik dengan memeknya. Dan dia sendiri pun masih merasa sangat horny, tidak sabar untuk merasakan lagi nikmatnya sebuah kontol yang panjang dan besar.

"Sekarang giliran ku, Teddy. Aku akan menunjukkan pada mu apa yang telah diajarkan oleh Om Jack pada ku."