Digoda Nyonya Muda

"Nak Joni!" Nikita memanggil dari balik pintu, sambil mengeraskan suaranya untuk mengatasi suara bising dari mesin pemotong rumput. "Ayo sini, istirahat, minum dulu sayang!  Kau pasti merasa sangat kepanasan!"
"Baiklah, Nyonya Nikita!" Joni membalas teriakann Nikita, mematikan mesin kemudian berlari untuk mengambil kausnya yang dia letakkan diatas rumput.

Nikita juga sedang merasa kepanasan, tapi rasa panas yang dirasakannya itu tidak ada hubungannya dengan cuara. Rumah Nikita itu sejuk dan nyaman, tapi memeknya terasa seperti sedang terbakar, mendidih karena nafsunya kepada bocah remaja yang sedang sibuk memotong rumput di halaman rumah Nikita, pada siang hari dimusim panas itu.

Nikita sadar bernar bahwa hasratnya kepada bocah remaja itu adalah sesuatu yang tidak pantas dan tabu. Dia tahu bahwa seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki dua orang anak itu tidak diperbolehkan untuk merasa bernafsu dengan seorang bocah yang masih berusia remaja.

Dia tahu bahwa apa yang akan segera dia lakukan itu tidak benar, tapi dia sangat lama bertarung dengan kata hatinya, dan akhirnya kata hatinya itu harus mengaku kalah. Nikita merasa harus bisa mendapatkan bocah itu, dan dia harus mendapatkannya sekarang.

Nikita sudah menunggu selama satu pekan agar mendapatkan peluang untuk merayu Joni, dan hari ini adalah waktu yang paling tepat.

Suaminya, Mamad, sedang membawa kedua putra mereka, Toni dan Roni, untuk pergi memancing ke sebuah danau. Butuh waktu satu minggu penuh untuk merayu suaminya agar mau berlibur satu hari dari bisnis asuransinya, agar bisa menghabiskan waktu bersama kedua anaknya itu.

Mamad tampaknya tidak peduli dengan apapun kecuali bisnisnya. Dia menghabiskan seluruh waktunya untuk membangun bisnis tersebut, hidup dan napasnya hanya untuk asuransi. Dia telah berhasil dalam membuat bisnis asuransinya sebagai yang paling sukses di wilayah tersebut, dengan dedikasi total yang diberikan Mamad untuk pekerjaannya.

Mamad juga telah sukses di dalam membina rumah tangganya. Di masa-masa bahagia, pada tahun-tahun awal pernikahan mereka, Nikita tidak akan pernah berpikir sedetik pun untuk merayu seorang bocah remaja, tapi itu karena di tahun-tahun awal pernikahan mereka, Nikita selalu bisa mendapatkan semua kebutuhannya untuk ngentot, sebanyak yang bisa dia handle.

Tapi sayangnya, Mamad telah kehilangan semua ketertarikannya pada seks. Selama lebih dari satu tahun terakhir ini, dia bahkan tidak mampu lagi untuk membuat kontolnya ngaceng.

Pria yang pernah mampu membuat Nikita jadi selalu bernafsu untuk ngentot setiap malam, sekarang pulang kerumah setelah bekerja seharian di kantornya, bekerja dengan buku-bukunya selama beberapa jam lagi di rumah, lalu segera terlelap begitu dia naik ke atas ranjang.

Tidak satu pun dari yang Nikita lakukan bisa membuat Mamad jadi bernafsu.

Nikita tahu bahwa bukan dirinya yang harus disalahkan atas ketidaktertarikan Mamad terhadap seks. Dia masih tetap secantik dan seseksi dulu, seperti 20 tahun yang lalu. Andaipun memang ada yang berubah, itu tidak lain hanyalah usianya.

Mamad telah memilih untuk mencurahkan dirinya secara total kepada pekerjaannya dan tidak ada yang bisa Nikita katakan ataupun lakukan untuk mengubah Mamad.
Nikita tidak menginginkan sebuah perceraian. Mamad adalah seorang pemberi nafkah yang baik, dan saat Mamad sedang punya waktu, dia bisa menjadi seorang ayah yang baik.

Sejauh yang diketahui oleh Toni dan Roni, tidak ada masalah di rumah, meskipun mereka berharap ayahnya bisa punya waktu lebih banyak untuk mereka.

Nikita sudah mempertimbangkan solusinya dengan mencari pria lain untuk memuaskan nafsu sekssualnya, tapi akhirnya dia memutuskan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. Di lingkungan kota Carterville yang kecil itu,  setiap terjadi hubungan seks diluar nikah pasti akan segera menjadi bahan gosip.

Orang-orang di kota itu pasti akan terkejut dan  murka kalau mereka tahu bahwa kepala perpustakaan mereka memiliki sebuah hubungan gelap.

Orang-orang di kota itu mugkin akan mencurigai Nikita punya hubungan gelap dengan pria lain, jika Nikita memberikan mereka kesempatan, tapi bagaimana mungkin mereka akan merasa curiga jika Nikita punya hubungan gelap dengan seorang bocah remaja? Hal-hal seperti itu tidak pernah terjadi di Carterville.

Nikita adalah seorang wanita dengan nafsu seksual yang sangat besar. Dia selalu senang ngentot. Sebagai seorang remaja, dia punya reputasi sebagai tukang ngentot.

Akan tetapi, saat dia sudah menikahi Mamad dan pindah ke Carterville, dia sudah merasa sangat mantap. Mamad telah memberikan semua kontol yang Nikita butuhkan untuk membuatnya tetap bahagia, tapi itu semua tinggal kenangan.

Nikita amat sangat merindukan untuk merasakan lagi kejantanan dari kontol seorang pria muda, seperti yang telah Mamad berikan di masa-masa awal pernikahan mereka.

Dia sangat merindukan untuk bisa merasakan lagi sebuah kontol besar yang terbenam di dalam lobang memeknya. Dia sangat rindu untuk merasakan sebuah kontol hangat yang memompa keluar masuk dari memeknya yang gatal, sampai dia orgasme berkali-kali.

Dia tersiksa, merana, dan menderita karena hasrat yang tidak terpenuhi, dan dia merasa sudah tidak tahan lagi. Dia tahu bahwa Joni bisa memberikan apa yang dibutuhkannya untuk merasa bahagia.

Nikita tahu bahwa Joni bukan cuma sekedar terkejut saat melihat Nikita berdiri di pintu dengan hanya mengenakan sebuah daster yang sangat tipis sambil tersenyum hangat.

Dia tahu bahwa bocah itu bisa melihat melalui daster Nikita yang tipis, bahwa Joni bisa melihat tetek Nikita yang lezat dengan puting-putingnya yang keras. Dia tahu bahwa Joni bisa melihat bayangan dari memeknya yang hangat dan lembut, yang bersarang diantara kedua pahanya.

Dia mengamati mata bocah remaja itu jadi melotot dan mulutnya ternganga saat sedang menatap benttuk tubuh Nikita yang montok, dari atas hingga ke bawah.

"Nah, nak Joni,, apa kau tidak mau masuk?" tanya Nikita sambil tersenyum genit.

"Eh... tentu.... tentu, Nyonya Nikita," bocah itu tersipu-sipu, jadi tidak mampu untuk menatap kedua mata Nikita.

"Memangnya ada apa Joni?" tanya Nikita, sambil menaruh tangan diatas pinggangnya, membuat dasternya jadi semakin menampakkan paha-pahanya yang mulus.

"Ya ampun.. A.. Aku rasa tidak ada apa-apa ..." bocah itu gelagapan.

"Apa kau merasa tidak nyaman karena aku berpakaian seperti ini, sayang? Bukankah hari ini sangat panas dan pakaian ini begitu tipis serta terbuka," kata wanita berpantat seksi itu, merapatkan kain diatas teteknya yang besar sehingga bocah itu bisa melihat puting-puting Nikita yang menonjol.

Joni merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya. Dia belum pernah melihat Nyonya Nikita berpakaian seperti itu.

Nikita mungkin bisa saja berdiri di depan pintu itu tanpa mengenakan apapun. Joni selalu tahu bahwa Nikita adalah seorang wanita yang cantik dan seksi, tapi dengan melihatnya seperti itu amat sangat mempengaruhinya.

Joni belum pernah melihat seorang wanita yang hampir telanjang seperti itu, kecuali di photo-photo, dan Nyonya Nikita itu sudah pasti lebih cantik dan seksi dibanding photo manapun yang pernah dia lihat.

Dengan berdiri di depan Nikita dan mengawasi Nikita menggerak-gerakkan tangannya diatas tubuhnya yang hampir telanjang membuat kaki Joni terasa lemas. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Apa kau merasa kepanasan seperti aku, Joni?"

"Ha?" Joni gelagapan.

"Aku yakin kau juga merasa kepanasan, sayang," kata Nikita, "Nah kalo begitu kenapa kita tidak masuk ke ruang tengah saja dan minum minuman dingin?"
Joni sedang mengancingkan kausnya saat dia mendatangi pintu belakang itu. Saat dia melihat Nikita sedang berdiri disana laksana seorang bidadari yang turun dari panggung erotis, tangannya jadi terasa lemas.

Dan sekarang entah bagaimana dia sudah mampu mengandalikan diri untuk mengontrol jari-jarinya agar bisa mengancingkan kausnya sampai selesai, sebelum dia mengikuti Nikita untuk masuk ke ruang tengah, tapi Nikita punya pemikiran lain.

"Kau tidak harus mengancingkan kaus mu Joni," kata Nikita, sambil meraih tangan Joni. "Malah, bukankah sebaiknya kau lepaskan saja kaus mu itu, sayang? Kau benar-benar tidak perlu mengenakannya untuk masuk ke dalam. Aku lebih senang melihat seorang pemuda tampan seperti mu yang bertelanjang dada, Joni. Aku mengamati mu saat sedang memotong rumput. Aku sangat suuka mengamati otot-otot mu yang bergerak saat kau sedang bekerja!"

Joni hanya berdiri saja dengan bengong saat Nikita membukakan kaus itu untuknya. Tangan Nikita menggesek-gesek dada Joni. Jarak antara Nikita dengannya begitu  dekat sehingga Joni bisa saja menjangkau dan menyentuh Nikita jika dia punya keberanian.

Tetek Nikita yang indah tepat berada di depan matanya. Dia bisa melihat puting-puting Niikita yang telanjang dan mengintip dari balik dasternya yang tipis. Joni mengamati tetek Nikita yang naik turun seiring dengan napasnya. Aroma dari parfum yang Nikita pakai memenuhi lobang hidungnya, membuat Joni jadi mabuk kepayang.