Dipaksa Mengentot Mama

Gadis muda itu muncul dari pintu geser yang terbuat dari kaca. Dia melambaikan tangannya, menyapa lalu duduk di salah satu bangku.
Sandra segera menengok ke arah air untuk melihat apakah gadis itu bisa tahu kalau mereka sedang telanjang bulat.

Gadis itu tidak bisa melihat banyak, hanya bayangan dari bentuk tubuh mereka saja. Tapi puting Sandra bisa terdeteksi jika gadis kecil itu menunduk untuk melihat lebih dekat.

Surti memiliki rambut pirang yang panjang, dan sebuah wajah yang tampak sangat manis dan lugu. Hari ini, dia mengenakan baju renang yang membungkus seluruh tubuhnya dengan sangat ketat.

Dua tonjolan kecil membentuk teteknya. Sandra memandangi gadis kecil itu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. 

Cara Sandra memandangi Surti sama seperti cara Doni memandangi Sandra saat dia sedang telanjang.

Sandra membayangkan seperti apa kira-kira memek gadis kecil itu, dan teteknya yang baru tumbuh. Dia jadi terkejut saat menyadari kalau gambaran tersebut ternyata cukup menyenangkan.
Tersembunyi di bawah permukaan air, tangan Sandra bergerak ke paha Doni dan ternyata kontolnya sedang berdiri dengan tegang.

Sandra tersenyum sendiri, karena tahu kalau Doni jadi terangsang bukan cuma karena baru saja selesai menjilati memeknya, melainkan juga karena gadis kecil yang berpakaian sangat ketat itu.

Dengan segera, Sandra mengocok-ngocok kontol Doni, merasa geli saat melihat wajah Doni jadi memerah karena malu.

Tapi Doni tidak berani berkata apa-apa atau membuat gerakan untuk menjauhkan tangan Mamanya itu. Dia takut Surti jadi tahu apa yang sedang dilakukan Sandra pada kontolnya.

Sambil mengocok-ngocok kontol anaknya di bawah air, Sandra ngobrol dengan gadis kecil itu, merasa geli oleh tingkah anaknya yang jadi tersipu-sipu tapi nafsu.
Sandra merasa terangsang oleh kecantikan gadis berambut pirang itu, oleh kedua pahanya yang panjang dan mulus. 

Dia bisa melihat gundukan kecil di selangkangan Surti dari balik baju renangnya yang ketat.

"Apa kau mau jalan-jalan naik sepeda Doni?" tanya Surti.

Doni jadi gelagapan, dan saat Sandra meremas kontolnya dengan gemas di bawah air itu, Doni jadi mampu untuk menjawab, "Tentu."

Sambil berbisik dengan suara yang rendah, Sandra bertanya, "Gimana caranya kau bisa keluar dari bak ini lalu mengambil pakaian, sayang?"

Sandra melakukan itu untuk menggoda Doni, sambil terus meremas-remas kontolnya.

Doni memandang Sandra dengan tatapan yang sangat cemas. Sandra jadi tertawa geli karenanya. 

Sambil memandang ke arah Surti, Sandra berkata. "Sayang, apa kau bisa kembali satu jam lagi. Aku masih ada tugas untuk Doni."
"Baiklah, Sandra." Surti setuju sambil mengedipkan matanya. Dia berdiri lalu berjalan menjauh, melewati bak mandi itu dan memandang ke arah Doni. 

Sandra melihat sebuah kilatan cahaya di mata gadis kecil itu sebelum Surti berbalik.

Sandra memandangi pantat gadis itu. Baju renangnya yang ketat membuat pantat Surti jadi terbelah menjadi dua bagian yang sangat lezat. 

Setengah dari pantat Surti bagian bawah bisa terlihat dengan bebas, daging berwarna putih yang sangat lezat itu tampak sangat kontras dengan pahanya yang panjang dan berwarna kuning kecoklatan.

Karena masih memegangi kontol anaknya, Sandra jadi bisa merasakan kalau kontol Doni jadi berdenyut-denyut saat Doni sedang memandangi pantat Surti yang kecil dan sangat menantang itu.
"Kau menyukainya kan, sayang?" tanya Sandra saat Surti sudah pergi. "Kau pasti sangat ingin bisa mengentot pantat kecil gadis itu, benar bukan?"

Doni mengangguk, dia memandang ke arah Mamanya, "Aku jadi berpikir apa dia tahu kalau kita sedang telanjang bulat. Aku yakin dia bisa melihatnya, Mam."

"Emangnya kau peduli?" tanya Sandra. 

Sambil nyengir Doni menggelengkan kepalanya.

"Mama juga nggak peduli, koq." Sandra tertawa. "Itu mungkin malah membuatnya jadi terangsang. Dia mengedipkan matanya yang berarti dia mengetahui sesuatu."

"Aku jadi penasaran apa dia mau mengijinkan aku untuk mengentotnya." kata Doni.

"Mama sangat yakin dia pasti mau, sayang." Sandra meremas biji kontol Doni di dalam air, "Apa kau sudah siap untuk menyelesaikan tugas yang Mama berikan padamu?"

"Tugas apa?" tanya Doni. "Mama ndak ngomong apa-apa tentang tugas pagi ini."

"Tugas ini," kata Sandra, berdiri lalu menunduk ke atas deck untuk mempersembahkan pantatnya kepada Doni. "Tugas untuk mengentot Mama."

Sandra menggoyang-goyangkan pantatnya, memberikan undangan terbuka kepada Doni. "Mama menginginkan kontol mu di dalam lobang memek Mama, sayang. Dengan menjilati memek Mama itu hanya membuat nafsu Mama jadi semakin terbakar tapi kemudian Surti datang, jadi..."

Doni membelai-belai pantat Mamanya yang montok itu, menimang-nimang pantat itu sambil merangkak ke atas deck.

Sandra mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar lalu menunggingkan pantanya ke atas untuk Doni.

Dia merasakan kontol Doni mengintip dan menyelinap masuk ke belahan memeknya. 

Tapi kemudian Doni jadi merasa enggan, "Gimana kalo Surti datang lagi, Mam?"
"Dia tidak akan datang lagi." kata Sandra. "Tidak sebelum satu jam lagi. Ayolah, entot Mama!"

"Dia mungkin saja datang lagi Mam." Doni bersikeras.

"Ya kalo begitu dia harus menunggu gilirannya, setan!" Sandra mulai kesal. "Entot Mama, Doni! Kalo nanti Surti datang lagi dia boleh nonton dulu sambil menunggu. Kau boleh mengentotnya nanti kalo kau sudah selesai dengan Mama! Nah, masukkan kontol mu itu ke dalam memek Mama, Doni!"