Hadiah Blowjob Dari Mama

"Sudah berapa kali kau muncrat hari ini, Doni?" tanya Sandra kepada anaknya yang baru saja selesai mengentot memeknya.
"Aku ndak tahu Mam!" jawab Doni. "Dah gak ke itung."

"Berarti skor kita sama dong, Mama juga udah muncrat puluhan kali sayang, bahkan mungkin ratusan." Sandra tertawa ngakak, terbahak-bahak, memeknya jadi terbelalak.

"Apa kau mau tahu sesuatu sayang? Seumur hidup, baru kali ini Mama bisa muncrat sesering ini hanya dalam waktu satu hari!"

Doni memutar kepalanya ke arah Mamanya, sedangkan kepala kontolnya menghadap ke tanah. "Yang bener Mam?"

Sandra mengangguk tanpa menunduk, padahal memeknya baru saja di tusuk-tusuk sambil memeluk.

Tanpa sungkan-sungkan, anaknya lalu bertanya, "Emang udah berapa banyak laki-laki yang pernah Mama entot?"

Sandra tidak langsung menjawab, pura-pura sedang menghitung. Kemudian, dengan nada yang penuh penyelasan, dia menjawab, "Baru dua."
"Cuma dua! Sungguh tidak bisa dipercaya, Mam. Padahal Mama hot banget, tapi kenapa cuma dua Mam? Kenapa? Apa karena Mama kurang agresif? Padahal Mama kan pernah bilang kalo dulu Mama juga sering memamer-mamerkan memek Mama pada teman-teman Mama disekolah."

"Itu bukan ngentot namanya, dasar bodoh." Sandra membela diri, karena merasa harga dirinya teraniaya.

"Saat itu Mama masih kecil dan cuma pamer aja, bukan minta dientot, bodoh. Mama berkata yang sejujur-jujurnya Doni, dari lobang memek Mama yang terdalam. Dua pria yang pernah Mama entot itu hanyalah kau dan bapak mu."

Sandra pun mulai menceritakan kepada anaknya tentang pengalamannya saat masih sering ngentot dengan bapaknya si anak yang sedang diajaknya bercerita itu.

Tapi Sandra tidak menceritakan tentang hal-hal yang membuat mereka jadi bercerai berai. Dia cuma mengatakan betapa menderitanya dia setelah perceraian itu.
Sandra menceritakan pada anak semata wayangnya tentang fantasinya, tentang rasa hangat yang menjalari kedua pahanya sampai dia jadi harus mengentot memeknya dengan jari-jari tangannya sendiri, sampai dia muncra karena orgasme.

"Tapi sekarang semua itu sudah berlalu dan hanya tinggal kenangan, betul?" kata Sandra, meraih lalu menimang-nimang kontol Doni yang masih basah kuyup dan menggigil kedinginan. "Sekarang Mama nggak perlu masturbasi lagi. Mama sudah punya kontool mu ini."

"Kapan-kapan, aku ingin ngeliat dong Mama masturbasi lagi." usul Doni. "Pasti akan sangat menyenangkan rasanya, bisa melihat Mama sedang masturbasi."

"Apapun yang kau inginkan akan Mama berikan sayang." Sandra tertawa sambil menarik-narik perhatian kontol Doni.

"Beneran Mam?"

Sandra mengangguk, tubuhnya membungkuk, meliuk-liuk, mulai ngantuk.

"Tapi kalo sekarang, aku lagi ndak pingin apa-apa lagi Mam. Aku mau istrahat aja." kata Doni.
"Opo koe yakin?" Sandra menggoda, sambil mengocok-ngocok kontol anaknya, berharap anaknya jadi tergoda dan kembali berdosa karenanya. "Opo koe ndak mau mikir dulu, Doni?"

"Ndak lah Mam. Aku dah muncrat banyak kali hari ini. Rasa-rasanya, aku ndak mungkin bisa ngentot Mama lagi sekarang ini. Biji kontol ku sudah nggak ada isi."

"Mungkin kau benar anak ku, tapi Mama punya sesuatu untuk mu, dan Mama yakin pasti pasti mau!" bisik Sandra ditelinga Doni lalu menjilat telinga itu.

"Mama sangat yakin, Mama bisa membuat kontol mu muncrat lagi, sayang. Mama sangat yakin kalau kontol mu yang lemas itu bisa kembali mengeras lalu muncrat lagi, hanya dalam waktu yang singkat."
Mendengar itu, Doni tetap cuek dan menelentang dengan santainya di atas rumput, sambil menatap Mamanya. "Tapi bagaimana mungkin Mama ku sayang. Biji kontol ku udah nggak ada isinya lagi. Udah di sedot habis oleh memek Mama, tanpa ada yang tersisa."

Sandra cuma tertawa nyengir. "Kita lihat saja nanti."

Di bergerak turun ke bawah tubuh Doni. Kedua tangan Doni berada dibelakang kepalanya, memandang ke bawah ke arah Mamanya.

Sandra menciumi perut Doni, lidahnya menjilati pusar Doni. Sambil melakukan itu, Sandra mengocok-ngocok kontol Doni dan meremas-remas bijinya.

Dia menarik celana Doni ke bawah hingga bulu-bulu jembut di pangkal kontolnya terlihat. Dia menjulur-julurkan dan memutar-mutar lidahnya di bulu-bulu jembut Doni.

Napas Doni jadi semakin memburu dan Sandra menatapnya saat lidahnya berputar-putar diatas jembut Doni, matanya tampak menyala-nyala karna nafsunya.

Setelah puas menjilati selangkangan Doni, Sandra bergerak ke bawah lalu menjilati paha Doni. Dia menjilat, menghisap lalu menggigit paha Doni
Sambil menjilat-jilati paha Doni dari atas sampai bawah, Sandra merentangkan kedua kaki Doni lebar-lebar, agar lidahnya bisa masuk dan menjilati kulit paha Doni bagian dalam yang sensitif.

Sandra kembali menarik celana Doni ke bawah sejauh yang dia bisa, sehingga biji-biji dan batang kontol Doni jadi terlihat semua oleh matanya yang buas.

"Apa kau menyukainya sayang?" bisik Sandra dari bawah kontol Doni. "Apa rasanya enak? Apa kau menyukai lidah Mama yang menjilat-jilati mu seperti ini?"

"Tentu saja, Mam!" Doni mengerang, pinggangnya menggeliat.

Sandra mengluarkan suara desahan saat dia kembali menjilati paha Doni, lidahnya bergerak di sepanjang kaki Doni.

Dia menyundul-nyundul biji kontol Doni dengan hidungnya, lalu menjilat-jilati kulit yang membungkus biji-biji itu.

Lidah Sandra menyusup ke bawah biji kontol Doni lalu menggoyang-goyang kedua biji kembar itu dengan riang, kedua matanya jadi hot saat mengintip ke arah wajah Doni yang sedang keenakan.

Setelah selesai menjilati biji-biji kontol Doni, lidah Sandra mulai bergerak di bagian pangkal kontol Doni. Dia mencicipi lendir memeknya yang masih menempel di sana, secara relflek Doni mengejang hingga memek Sandra jadi ikut-ikutan mengejang.

Lidah Sandra kemudian menjilat-jilati batang kontol Doni, lalu mengelilingi kepala kontol anaknya itu.

Untuk sesaat Sandra bermain-main dengan biji-biji dan batang kontol Doni, kedua tangannya menahan pinggang Doni.

Kemudian tangan Sandra menyelinap ke selangkangan Doni, untuk merasakan daging yang ada disana.

"Mama kasih blowjob mau ya? Mau dong! Ya?" tanya Sandra, berharap, sambil mendesah, karena memeknya semakin basah.

"Apa Mama ingin mengulum kontol ku?" tanya Doni, harap-harap cemas, kontolnya jadi panas dan gemas.

"Itu kalau kau mau," jawab Sandra dengan genit. "Kalau kau memang mau dan tidak malu, Mama tentu akan mau mengulum kontol mu, Doni."

"Beneran?" tanya Doni, walau masih ragu tapi sudah keburu nafsu. "Mama nggak bohong kan?"

Mamanya menggangguk, memeknya jadi gatal pengen di garuk.
"Wow! Super sekali! Lakukanlah Mam! Aku pasrah! Asalkan Mama bahagia!"

Mendengar kata-kata yang indah dari anaknya itu, Sandra segera menggerakkan lidahnya disepanjang kontol Doni, menjilati setiap inchinya dengan perlahan, dari pangkal sampai ke ujung.

Setelah itu, dia kembali ke biji-biji kontol Doni, menghisap biji-biji itu dengan mulutnya yang hot dan basah.

Sambil menghisap biji-bijinya, Sandra tak lupa juga untuk tetap memandangi wajah anaknya yang tampak sangat bahagia, sementara batang kontolnya bersandar dan menanti dengan sabar di pipi Sandra.

Setelah merasa puas dengan dua biji kembar itu, lidah Sandra kembali bergerak ke batang kontol Doni.

Saat bibirnya sudah mencapai ujung kepala kontol Doni, lidah Sandra menepuk-nepuk lobang yang ada disana, kemudian menjilati helm itu sambil mengamati wajah anaknya.

Bibirnya menempel diatas kepala kontol yang lembut itu, Sandra membuka mulutnya lebar-lebar lalu memasukkan dan mengapit kepala bagian pengentotan itu dengan mulutnya.

Doni mengerang dan mengejang saat kepala kontolnya jadi terasa hangat dan basah saat memasuki mulut Mamanya.

Dengan mata yang berbinar-binar dan nafsu yang berkobar-kobar, Sandra menggerakkan mulut nya ke bawah, bibirnya meluncur dengan lancarnya.

Kontol Doni membuat bibir Sandra jadi merenggang dan mengembang, sehingga memeknya jadi mengejang karena terbayang-bayang.

Sandra melanjutkan perjalanan bibirnya, memasukkan sebanyak mungkin kontol anaknya ke dalam mulutnya, sampai ke pangkalnya.

Setelah bibirnya sampai di pangkalan, Sandra menahan dan menawan serta memenjarakan kontol Doni di dalam mulutnya yang pengap.

Dia kemudian memutar-mutar bibirnya di pangkalan itu, hingga kepala kontol Doni jadi pusing dan terasa berdenyut-denyut di tenggorokan Sandra.

Setelah merasa siap, Sandra memasukkan tangannya ke bawah tubuh anaknya. Doni mengangkat pantatnya dan Sandra pun mulai mengangguk-anggukkan kepalanya, ke atas dan ke bawah.

Rambutnya jadi terawur-awur, matanya kabur, hidungnya mendengkur, saat wajahnya bergerak maju mundur, dengan teratur, sangat lentur.

Awalnya, Sandra menghisap dengan perlahan karna ingin menikmati aroma dan cita rasa dari kontol yang menyelip di bibirnya dan memenuhi mulutnya.

Setelah puas, dia mulai menghisap dengan lebih cepat, dia mengangkat tubuhnya dari atas selangkangan Doni,  jembutnya masuk ke rumput, pantatnya berguncang-guncang.

Erangan, desahan dan rintihan terdengar keluar mulutnya saat bibir Sandra menghisap dan lidahnya menjilat.

"Mmmmmmm." kata Sandra. "Ahhhmmmm! Ooommmm!"

"Oh! Ohhhh!" jawab Doni.

Mulut Sandra menghisap kontol Doni dengan rakusnya. Dia sangat menyukai daging keras yang sedang di garap oleh bibir dan lidahnya.

Meski awalnya menghisap dengan perlahan, tapi karena tidak tahan, bibirnya melesat tanpa lawan.

Hasratnya untuk segera merasakan semburan kontol Doni di mulutnya telah mengalahkan hasratnya untuk menahan kontol Doni agar tetap diam di dalam.

Sandra menghisap-hisap dengan cepat, sambil merintih-rintih dengan nikmat, jari-jarinya mencengkram pantat Doni dengan kuat.

Dia mencoba memasukkan kontol Doni lebih dalam lagi ke tenggorokannya, hingga jadi tersedak, bukan karena mual, tapi karena gerakan reflek.

Tapi Sandra segera pulih dari ketersedakannya, lalu mulai menghisap semua batang kontol Doni dengan lebih kuat lagi.

Dia merasakan kepala kontol Doni menusuk masuk ke tenggorokannya yang sempit sehingga memeknya hampir muncrat karna orgasmenya.

Dia menarik bibirnya ke atas lalu mengapit kepala kontol Doni dengan bibirnya, lidahnya menjilati lobang kencing Doni, sehingga membuat Doni jadi berguncang karena ekstasi.

Kontol Doni semakin lama terasa semakin besar dan keras di bibir Sandra yang hot dan lapar.
Doni mulai memutar dan menggoyang pantatnya, mengerang karena rasa nikmatnya.

Sandra tahu kalau Doni sudah pengen muncrat, denyutan-denyutan kencang yang terasa di bibirnya, adalah buktinya.

Sandra menahan kepala kontol Doni di bibirnya dan menekan ujung lidahnya ke lobang kencing Doni saat semprotan pertama meledak dari kontol itu.

Sandra menggeliat dengan nikmat sambil memejamkan matanya, menghayati makna dari semua perbuatannya.

Lendir yang kental dan gurih itu membanjiri lidahnya, dan Sandra segera menelan semuanya. Lidahnya menjilat-jilati lobang kencing Doni, bibirnya menyedot-nyedot, pipinya sampai kempot.

Sandra menelan habis semua sperma Doni yang berhasil tersedot ke dalam mulutnya, sudah lama sekali dia tidak menghisap, dan merasakan kontol yang berada di dalam mulutnya.

Memeknya jadi mengejang dan meregang-regang saat Doni membanjiri mulutnya dengan lendir yang muncrat dari kontolnya.

Bahkan saat kontol Doni sudah selesai memuntahkan semua isinya, Sandra masih saja enggan untuk melepaskan kontol itu dari cengkraman mulutnya.

Dia hanya berbaring di antara ke dua paha Doni untuk waktu yang lama, sambil tetap mengulum dan menahan kontol Doni di mulutnya.