Ku Cium Memek Mama

Saat air hangat merendam tubuh bugil mereka, Sandra memegang kontol Doni, mengocok-ngocoknya agar tetap keras. Sesekali dia juga menciumi anaknya itu, lidahnya menjilati bibir dan mulut Doni.
Doni menimang-nimang tetek Sandra, dengan satu tangan yang melingkar di bahu Mamanya.

Matahari sudah semakin tinggi dan panas, membakar kulit mereka. Tidak ada awan diatas langit sehingga terlihat sangat biru dan jernih. Angin sejuk bertiup di pepohonan pinus. Itu adalah sebuah hari untuk bermalas-malasan, sebuah hari untuk bersantai diluar, saling membelai, mencium dan mengentot.

Hanya dalam waktu lima belas menit atau lebih, keduanya sudah tidak lagi saling menyentuh dan merasakan, Sandra mengangkat tubuh bugilnya yang basah dari dalam bak lalu duduk di tepi sambil merentangkan kakinya lebar-lebar dan bersandar ke belakang pada kedua tangannya.

Doni masih berada di dalam bak sambil membelai bibir-bibir memek Mamanya, merasakan dan memijat clitorisnya, sehingga membuat Sandra jadi menggeliat dan memutar-mutar pantatnya.

Sandra menengok ke selangkangannya, memperhatikan anaknya yang sedang asyik bermain-main dengan memeknya, semakin lama dia jadi semakin terangsang dan mengangkang.
"Ciumilah itu untuk Mama, Doni." Sandra memelas. "Ciumilah memek Mama itu. Sekaliiiii saja, ya sayang! Ciumilah memek Mama yang hot itu walau cuma sekali!"

Mendengar permohonan Mamanya itu, hati Doni merasa pilu, lidahnya kelu, bibirnya beku, matanya sayu, kontolnya nafsu.

Doni menatapi dan meratapi bibir-bibir memek yang berwarna pink itu, clitoris Sandra tampak menyembul dan mengintip keluar dari balik tempat persembunyiannya.

Kemudian, dengan menguatkan hati dan memberanikan diri, Doni pun mulai bergerak untuk menciumi dan menjilati bibir-bibir memek Mamanya.

Melihat pergerakan itu, Sandra segera melengkungkan selangkangannya ke arah wajah anaknya yang telah menjadi korban nafsu memeknya.
"Ayolah sayang." Sandra memberikan semangat dan dorongan memeknya. "Ciumlah sekali saja. Coba aja dulu, siapa tahu kau mungkin jadi menyukai dan ketagihan karenanya, Doni. Kaum pria umumnya sangat sedang menjilati memek!"

"Benarkah?" tanya Doni, merasa tidak percaya dengan rayuan maut Mamanya.

"Tentu saja sayang, masak Mama bohong. Walaupun memek Mama bolong, tapi Mama gak bohong." jawab Sandra, berusaha meyakinkan anaknya. "Yang namanya laki-laki itu sejati itu pasti senang menjilati memek, begitu juga perempuan, pasti sangat senang kalo di suruh menghisap kontol. Kalo lo gak percaya, coba aja."

Dengan rasa terpaksa dan tak berdaya, Doni membenamkan wajahnya ke selangkangan Mamanya. Dia memonyongkan mulutnya ke memek Mamanya yang sudah basah.

Melihat itu, Sandra tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya, tangannya segera menjambak rambut Doni lalu membenturkan kepala Doni ke memeknya yang berbulu lebat, dan menahannya disana dengan sekuat tenaga serta segenap jiwa raganya.

Karena tak mampu lagi untuk menghindar dan melarikan diri, Doni akhirnya menciumi memek Mamanya, dengan rakus.

Hanya setelah beberapa kali Doni menciumi memeknya, barulah Sandra akhirnya melepaskan cengkramannya dan membebaskan kepala anaknya dari memeknya.

"Nah, tidak terlalu buruk bukan? Walaupun tampilannya sangat mengerikan, tapi rasanya tidaklah terlalu menjijikkan, bukan?" tanya Sandra.
Doni menjilati bibirnya sendiri, matanya tampak bercahaya. "Cita rasa memek Mama ternyata enak juga!" jawab Doni, terkejut.

"Nah, Mama nggak bohong kan!" Sandra tertawa terbahak-bahak, sampai memeknya jadi membengkak.

Karena sudah tahu rasanya, kali ini tanpa disuruh lagi, Doni membenamkan wajahnya ke selangkangan Sandra, mencumbui dan menciumi memek yang ada di depan batang hidungnya.

Sandra jadi merasa sangat bahagia karenanya, akhirnya dia berhasil membuat anaknya percaya sehingga tak lagi harus dipaksa. Dia menggeliat dan menggosok-gosokkan memeknya ke bibir Doni. "Gunakan juga lidah mu sayang! Jilati juga, jangan cuma diciumi saja!"

Setelah mengatakan itu, Sandra merasakan lidah Doni menjulur keluar lalu menjilat-jilati bibir-bibir memeknya. Saat lidah itu bergerak-gerak di clitorisnya, Sandra mengerang, menggeliat, menggoyang-goyangkan pinggulnya dan menyodok-nyodokkan memeknya ke wajah Doni.

Dia merasakan lidah Doni mengelap-ngelap dan mengepel bibir-bibir memeknya, sehingga dia jadi amat tersiksa karena rasa nikmatnya.

Sandra menjepitkan pahanya ke pipi Doni, kemudian merasakan tangan anaknya itu berada di bawah pantatnya, mencengkram dan menahan memeknya agar tak pernah menjauh dari mulutnya.

"Tusukkan lidah mu ke dalam memek Mama sayang!" Sandra merasa masih ada yang kurang, walau bibir memek dan clitorisnya sudah dicium dan dijilati sampai dia ekstasi, dan kehilangan harga diri.

"Entotlah lobang memek Mama dengan lidah mu, sayang! Ohhhhh, tolonglah, Mama mohon, entot lobang memek Mama itu dengan lidah mu! Memek Lobang Mama terasa gatal sekali, dia membutuhkan lidah mu sayang!"

Karena sudah kepalang, Doni menghujamkan lidahnya ke dalam lobang nonok yang hot dan kempat-kempot itu. Hidungnya jadi tenggelam dan terbenam di bulu-bulu jembut Mamanya, dan dagunya menekan ke arah belahan pantat sang Mama.

Lidah Doni ternyata bisa masuk cukup dalam dan saat Doni memutar-mutar lidahnya di dalam lobang yang sempit itu, Sandra jadi merengek kagelian.

Sandra menggesek-gesek memeknya ke mulut Doni saat lidah Doni bergerak keluar masuk, menusuk-nusuk memeknya sampai gemuk.
Dia tidak perlu lagi memegangi dan menahan wajah Doni ke selangkangannya, karena Doni sendiri yang menekan dan membenamkan mulutnya ke memek Sandra dengan penuh sukacita dan hati yang pasrah menerima semua akibatnya.

Pikiran Sandra melayang-layang ke alan fantasi yang erotis, dia mengangkat pantatnya lalu menekan memeknya yang panas ke wajah anaknya yang beringas.

"Oooohhh, entotlah Mama dengan mulut mu, sayang!" dia merintih. "On, entot memek Mama dengan mulut mu Doni! Berikan lidah mu pada Mama! Ohhhh, entotlah memek Mama dengan lidah mu yang nikmat itu! Jilati memek Mama, hisapi juga bulu-bulunya... jangan lupa clitoris dihisapnya juga ya Doni!"

Lidah Doni menusuk dan meliuk-liuk, dia jadi sering menelan karena memek Mamanya begitu banyak mengeluarkan lendir.

Memek Sandra meremas-remas lidah anaknya dengan gemas saat dia memompa pantatnya naik turun, kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam.

Perus Sandra jadi bergelombang karena gerakan-gerakannya saat dia menggiling-giling memeknya ke mulut Doni. Teteknya membusung dan mengencang, puting-putingnya jadi mengeras.

Sandra sekarang sudah meletakkan kaki-kakinya diatas kedua bahu Doni, dan menjepit erat kepala Doni dengan pahanya.

Dia tak henti-hentinya merintih saat bara orgasme membakar tubuhnya. Dia memutar-mutar memeknya ke wajah Doni dengan lebih kencang dan lebih gila lagi saat orgasmenya semakin membludak.

Doni menjilati dan menusuk-nusukkan lidahnya dengan garang, jari-jemarinya mencengkram ke daging pantat Mamanya.

Memek Mamanya menghantam-hantam mulut Doni dengan begitu keras sehingga dia jadi kesulitan untuk bernapas.
"Ooooo! Ohhhh, kau hampir membuat Mama muncrat sayang!" teriak Sandra dengan suara yang bergetar. "Lidah mu.... di memek Mama.... akan membuat Mama jadi.... muncrat!"

Memek Sandra mengejangkan, otot-ototnya perutnya jadi tegang. Sandra membuka mulutnya lalu berteriak sekencang-kencangnya saat dia muncrat dalam ekstasinya, bibir-bibir memeknya menutup dan membuka di lidah anaknya yang sedang menusuk-nusuk.

Sandra menahan kepala Doni dengan erat diantara kedua pahanya, tidak mampu untuk menghentikan goyangan pinggulnya.

Orgasmenya berlangsung cukup lama dan banyak menghabiskan tenaganya, itu adalah orgasme terbaik yang pernah dirasakannya.

Saat semuanya usai, Sandra roboh diatas deck, pahanya mulai rileks dan membebaskan wajah Doni yang terjepit di tengah-tengah, teteknya naik turun dengan berat.

Napasnya berat dan terdengar kuat di udara yang masih cukup pagi itu. Dia merasakan anaknya sedang membelai-belai pahanya yang masih bergetar dan memeknya yang masih berdenyut-denyut.

Sandra sebenarnya tidak ingin bergerak lagi, tapi dia jadi terpaksa bergerak.

"Apa ada orang di rumah?"

Suara itu membuat Sandra jadi buru-buru kembali masuk ke dalam bak mandi. Dia dan Doni jadi saling memandang dengan rasa cemas. Mereka tidak mendengar ada orang yang mengetuk pintu dan suara teriakan itu membuat mereka jadi merasa sangat ketakutan.

"Itu Surti," bisik Doni.

Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Sandra membalas teriakan itu. "Kami sedang diluar sini, Surti... di halaman belakang."