Ku Entot Mama Ku yang Janda

Doni menatap memek Mamanya yang terbuka itu. Entah kenapa, hatinya jadi berbunga-bunga, sehingga kontolnya jadi  berbusa.
Mamanya sedang terlentang mengangkang disana, tak berdaya, dengan rok mininya yang tersingkap sampai ke pinggul, kedua kakinya terkangkang menantang, sedangkan tangannya tampak kokoh menahan celana dalamnya yang ditarik ke samping.

Melihat kesiap-siagaan Mamanya itu, Doni segera mengocok-ngocok kontol dan biji-bijinya. Dia ingin menghangatkan dulu kontolnya. Setelah cukup hangat, Doni pun segera bergerak ke arah selangkangan Mamanya yang janda.
Melihat perbuatan anaknya itu, Sandra mengangkat pinggulnya ke atas lalu diputar-putarnya, menunggu dengan tidak sabar tapi tetap sadar.

Doni menguatkan tekadnya, menahan tubuhnya dengan kedua tangannya dimasing-masing sisi tubuh Mamanya, lalu mengarahkan kepala kontolnya ke lobang memek yang sudah terbuka untuknya.

Sandra menaruh telapak tangannya diatas rumput disamping pinggulnya, kemudian menggoyangkan pinggulnya ke atas dan ke bawah, untuk menyambut dan menelan habis kontol Doni dengan memeknya yang lapar.

"Oooo, baby." Sandra merintih kegelian.

"Oh, Mama!" Doni mendesah keenakan.

Sandra memutar-mutar memeknya saat biji-biji kontol Doni menampar pantatnya, merasa kegelian.

Jari-jari Sandra mencengkram rerumputan yang menyaksikan perbuatan mereka, saat sensasi-sensasi ekstasi mulai menjalari sekujur tubuhnya yang terbujur dan subur.
Sandra merasakan kalau kontol Doni sekarang ternyata bisa masuk jauh lebih dalam dibanding sebelumnya.

Dia jadi merasa kagum dengan kemampuan kontol anaknya itu, bisa meningkat dengan amat pesat dalam waktu yang amat singkat.

Memek janda yang hot itu begitu basah sehingga dia bisa mendengar suara-suara cairan yang berdecit saat kontol anaknya menggesek-gesek dinding gua memeknya yang lembab.
Pinggul Sandra tak pernah berhenti berputar dan mengayun. Rengekan-rengekan keluar dari mulutnya saat Sandra menatap dengan mata yang hot dan tidak fokus, anaknya yang sedang asyik memompa diatasnya.

Mulutnya sedikit terbuka dan lidahnya yang lembab dan berwarna pink itu bergerak-gerak diatas bibirnya.

Napas Sandra terengah-engah, memeknya terasa gerah, saat pinggulnya mengaduk-ngaduk lobang memeknya yang sedang di isi dengan kontol anaknya. 

Dia mengamati wajah anaknya yang tampak sangat bahagia diatasnya, dan melihat anaknya sedang keenakan seperti itu bagi Sandra sama nikmatnya dengan di entot oleh kontolnya.

Gerakan meremas-remas dari memeknya itu pasti memberikan kenikmatan yang luar biasa pada kontol anaknya, Sandra tahu itu, karena dia juga merasakan kenikmatan yang sama.
Kemampuan memeknya untuk mengencang, menyempit, menjepit, meremas dan menghisap lalu meregang lagi itu, adalah bakat yang dibawa Sandra sejak lahir.

Jadi Sandra tidak perlu melakukan apa-apa untuk mengontrol memeknya, lagi pula dia memang tidak ingin mengontol nya, yang dia inginkan adalah kontol anaknya.

Sensasi-sensasi dari memeknya yang melentur di kontol anaknya yang ngawur itu membuat napas Sandra jadi tak teratur, apalagi Doni yang masih bau kencur.

Sandra bisa merasakan setiap lekukkan dan urat syaraf yang berdenyut-denyut dari kontol Doni di dalam lobang memeknya yang sensitif.

Saat Doni memasukkan kontolnya, dia akan memasukkan kontol itu sedalam-dalamnya, lalu menariknya lagi.

Dalam setiap hujamannya, Sandra bisa merasakan biji-biji kontol Doni yang menggosok-gosok bibir pantatnya, dan pangkal kontol Doni yang menghantam-hantam clitorisnya yang berdenyut-denyut dan bersembuyi di antara bibir-bibir memeknya.

Saat Doni menarik kontolnya, dia hampir menarik semuanya, sehingga kontolnya itu hampir terlepas bebas seutuh-utuhnya.

Sehingga Sandra jadi mengira kalau kepala kontol Doni itu hendak pergi meninggalkan lobang memeknya, untuk selama-lamanya, sehingga dia jadi merasa sangat kecewa, merana dan menderita.
Tapi untunglah, bahwa ternyata, Doni kemudian kembali menghujamkan dan memasukkan kontolnya, sedalam-dalamnya, hingga ke lubuk-lubuk memeknya yang terdalam.

"Oh, perbuatan kita ini sungguh nikmat sekali sayang." Sandra merengek-rengek kepada Doni, sambil memutar-mutar pinggulnya. "Apa kau juga merasa enak sayang? Apa memek Mama membuat kontol mu terasa geli? Apa kau bisa merasakan betapa hot dan licinnya memek Mama di kontol mu yang indah itu sayang?"

Doni cuma bisa mengerang, dia sedang terlalu sibuk untuk sempat menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dari Mamanya yang hot itu.
Melihat kesibukan anaknya itu, Sandra mengangkat lututnya ke atas, ikut menggesek-gesek bersama dengan pinggul dan pinggangnya. Dia menarik lututnya itu hingga ke depan bahunya.

Pose itu mengakibatkan pantat Sandra terangkat semakin tinggi, sehingga posisi anaknya hampir tegak lurus saat dia mengentot Sandra.

Dengan posisi seperti itu, Sandra berharap bisamerasakan kontol Doni dengan lebih baik lagi, agar bisa merasakan ekstasi yang full dari Doni yang sedang mengentot memeknya.
"Oooo, Doni, Doni!" janda muda itu merintih-rintih saat memeknya semakin mendidih.

"Hujamkan lebih kuat lagi, sayang! Oh Tuhan... saksikanlah perbuatan kami ini! Oooooh, Mama suka sekali Doni, anak ku, sayang ku, tukang ngentot memek ku! Entot terus Mama mu nak! Jangan berhenti ya nak! Teruskan perbuatan mu yang keji dan kejang itu!"

Sandra mengayun-ayunkan pantatnya yang terangkat, berharap itu akan menyingkirkan celana dalamnya. Tapi sekarang sudah terlambat untuk itu. Dia tidak akan mau berhenti walau apapun yang akan terjadi nanti.

Sekarang Sandra mulai merintih-rintih, ekstasinya berada di titik didih, kontol Doni jadi terasa perih, tapi dia terus menindih.

Doni menaruh tangannya diatas tetek Sandra, kadang yang kanan kadang yang kiri, sehingga Sandra jadi bingung dibuatnya.

Meski bingung tapi Sandra tetap cuek dan terus mengayun-ayunkan memeknya, menggiling-giling kontol Doni dengan galaunya, karena tak mampu lagi menahan orgasmenya.

Kontol Doni terasa berdenyut-denyut di memeknya, meregang-regangkan dinding lobangnya. Clitorisnya jadi mengeras, karena digilas dengan ganas, sehingga jadi panas, minta di bilas, amblas.

"Mama akan muncrat Doni!" teriak Sandra, suaranya menggema ke seluruh penjuru hutan belantara, membuat kaget para penghuninya.

"Mama akan muncraaaaat! Keparaaaat!"

Mendengar teriakan Mamanya yang memekakkan telinga itu, Doni pun jadi mempercepat ayunan pinggulnya, memperkuat gesekan-gesekan kontolnya, hingga paha Sandra jadi merah karenanya.

Saat orgasmenya meledak, Sandra memberontak, darahnya bergolak, kakinya menghentak-hentak, napasnya tersedak, jantungnya berdetak, lendir memeknya membludak.

Memeknya meremas-remas kontol Doni dengan gemas, hingga Doni jadi cemas, was-was, hampir lemas, tak mampu lagi mempertahankan kecepatan dan kekuatan ayunan kontolnya yang panas.

Meski wajah Doni masih berada diatasnya, tapi Sandra tak mampu lagi melihatnya. Orgasmenya sungguh luar biasa, dia jadi buta karenanya.

Dia tak bisa merasakan apa-apa lagi, selain biji dan batang kontol Doni, dan orgasmenya yang meledak di dalam memeknya.

Dia bahkan tidak bisa merasakan kehangatan dari sinar matahari yang mulai terbenam, ataupun mendengar suara burung-burung yang bernyanyi dan berdendang.

Yang bisa dia rasakan hanyalah burung Doni yang terus bergoyang dan bersenang-senang.

Saat orgasmenya menyurut dan menyusut, barulah Sandra sadar kalau jembutnya kusut, dan kontol Doni yang belum menyusut, masih terus membesut.

Dia tertawa gembira, memeluk punggung Doni dengan eratnya, menyemangatinya agar mempercepat entotannya, lalu muncrat di dalam memeknya.

Rasa geli dari orgasme masih menjalarinya, menghangatkan dan menggetarkan tubuh Sandra.

Sekali lagi, Sandra jadi tersadar akan nasib anaknya. Tersadar akan nasib kontol anaknya yang sedang berdenyut-denyut di dalam memeknya, dan biji-biji kontol anaknya yang sedang menampar-nampar pantatnya.

Sandra menarik kepala Doni ke lehernya dan menahannya disana, tangannya mencengkram pantat Doni yang berayun-ayun, lalu menggesek-gesek memeknya ke kontol Doni.

"Mamaaaaaa.....a!" Tiba-tiba Doni berteriak histeris, kontolnya seperti sedang di iris, dia jadi pengen nangis. Najis!

Doni menghantam untuk terakhir kalinya, lalu menekan dan menahan kontolnya sangat rapat di memek Mamanya, biji-biji kontolnya bersemayam diantara belahan pantat Mamanya, menekan ke arah lobang pantat sang Mama.

Kontol Doni jadi terbenam sangat mendalam, berendam di lobang yang demam.
"Lakukanlah, anak ku! Kerahkan dan curahkan semua lendir mu! Semprotkan semuanya, sampai kering! Jangan ada sisa diantara kita!"

Doni merasakan memek Sandra seperti menyedot-nyedot saat kontolnya sedang menyemprot-nyemprot, sampai kempot. 

Dengan sebuah jeritan ekstasi, memek Sandra menutup disekitar kontol Doni, menahan, mencengkram, memerah dan menghisap habis lendir-lendir yang tersimpan di biji kontol Doni.

Tubuh Doni jadi kaku dan kejang-kejang diatas tubuh Sandra, jari-jari Sandra mencengkran pantat Doni, menahan dengan sekuat tenaga agar kontol Doni tetap berada di dalam memeknya.
Setiap kali kontol Doni menyemburkan lendirnya, tubuh Sandra jadi menggigil, dan setiap kali Doni berteriak, Sandra ikut menjerit, suara mereka terdengar sampai ke seluruh penjuru nusantara.

Setelah keduanya merasa puas dan lemas, barulah Doni turun dari atas tubuh Sandra, kontolnya tampak berkilau dibawah cahaya mentari senja.

Napasnya tersendat-sendat, tubuhnya terasa penat, Doni pun beristirahat, karena abis muncrat.

Sandra menurunkan pantat dan pahanya ke atas rumput, rasa geli di memeknya mulai menyusut.

Dia meraba-raba memeknya lalu menggosok-gosok clitorisnya dengan penuh kasih sayang, seolah-olah dia sedang mengungkapkan rasa syukurnya, atas anugerah yang telah diterimanya dari kontol Doni yang baru saja mengentotnya.

Setelah selesai melakukan ritualnya, Sandra berbalik lalu menciumi Doni dengan mulut dan lidahnya.