Mama Juga Butuh Kontol Papa

"Nikita? Kau dimana sayang? Nikita?" suaminya memanggil, suaranya semakin lama terdengar semakin mendekat ke kamar Toni.
"Ya, Tuhan. Itu papa mu. Cepat, Toni. Berikan baju tidur Mama yang ada dilantai itu. Cepatlah, sayang! Naiklah ke atas ranjang, Toni!" kata Nikita, buru-buru mengenakan baju tidurnya yang diberikan oleh anaknya.

"Apa yang harus aku lakukan, Mam?" tanya Roni, berbisik dengan gugupnya.

"Sembunyi di bawah ranjang, Roni!" jawab Nikita kepada anaknya yang satu lagi.

"Tapi Mam.... celana ku," kata bocah itu dengan gugup, buru-buru masuk ke bawah ranjang adiknya, masih dalam keadaan telanjang bulat dan merasa sangat ketakutan.

"Jangan berisik ya, anak-anak," kata Mama mereka, menendang celana Roni ke bawah ranjang.

Nikita menarik napas panjang dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Saat sudah merasa cukup tenang, dia membuka pintu kamar Toni dengan perlahan lalu keluar.
"Nikita, aku mencari mu kemana-mana," kata Mamad, suaminya, sambil mengucek-ngucek matanya yang terlihat masih mengantuk.

"Eng... anu Pa... Mama tadi abis dari kamar Toni," jawab Nikita dengan sigapnya.

"Mama lagi ngapain jam segini belum tidur? Apa ada masalah dengan Toni?" tanya Mamad.

"Oh, tidak ada apa-apa, sayang.... sebenernya gak ada apa-apa," jawab Nikita.

"Sebenernya? Ha? Apa maksud mu, sayang?" tanya Mamad, merasa bingung.

"Oh, bener, gak ada apa-apa koq...." jawab Nikita gelagapan. "Mama tadi seperti mendengar ada suara berisik dari kamar Toni, cuma itu."

"Tapi Mama koq sepertinya kesal. Apa Mama yakin gak ada apa-apa? Mungkin lebih baik Papa memeriksanya dulu, siapa tahu ada maling yang kesasar. Mungkin Mama benar-benar mendengar sesuatu. Lebih baik Papa periksa dulu biar yakin!" kata Mamad.
"Oh, jangan! Tidak usah! Jangan! Maksud Mama... jangan repot-repot Pa," kata Nikita, coba menghentikan suaminya agar tidak pergi ke kamar Toni.

"Papa rasa lebih baik diperiksa dulu, Ma. Mama tunggu disini saja," kata Mamad lagi, membalikkan tubuhnya lalu menuju ke kamar Toni.

Mamad agak terkejut saat mengetahui kalau ternyata lampu kamar Toni masih menyala. Dia bahkan lebih terkejut lagi saat melihat Roni merangkak keluar dari bawah ranjang Toni. Bocah itu dalam keadaan telanjang bulat dan saat dia melihat Papanya sedang berdiri dipintu, dia jadi sangat ketakutan, tidak mampu berbuat apa-apa.

"Roni, lagi ngapain kamu disini?" tanya Mamad, merasa sangat heran.

"Uh, anu.... aku... Aku cuma sedang mencari sesuatu, Pa," jawab bocah itu dengan gugup, mendadak sadar kalau dia masih telanjang bulat.
"Mencari sesuatu? Uh... baiklah... memangnya apa yang kau cari di tengah malam begini?" tanya Mamad.

"Aku.... aku cuma sedang mencari pisau lipat ku, Pa. Aku baru teringat kalau aku meninggalkannya disini saat aku menunjukkannya pada Toni. Papa tahu kan, Pa, pisau yang Papa belikan untuk ku minggu lalu. Aku tadi terbangun tengah malam dan jadi teringat lagi dengan pisau itu," kata Roni, buru-buru melarikan diri menuju ke kamarnya.

Roni berharap kalau Papanya jadi teringat dengan cerita tentang pisaunya yang hilang. Dia menutup matanya dan berdoa semoga Papanya itu tidak memintanya untuk menunjukkan pisau tersebut. Bocah itu pura-pura sedang membawa pisau itu lalu buru-buru ke luar dari kamar Toni.
Mata Nikita melihat Roni saat bocah itu berlari keluar dari kamar Toni. Dia bisa melihat bahwa Roni sangat ketakutan kalau sampai ketahuan telah mengentot Mamanya. 

Nikita mencoba menenangkan bocah itu dengan cara tersenyum. Tapi dibalik sikapnya yang tenang, Nikita juga sama cemasnya dengan Roni.

Mamad hendak mematikan lampu kamar Toni saat dia melihat sesuatu dibawah ranjang Toni. Dia menyelidikinya dan ternyata itu adalah salah satu dari baju tidur Nikita. 

Dia berlutut lalu mengambil baju itu dari bawah ranjang, dan ternyata masih ada yang lainnya. Dia jadi bingung kenapa baju tidur Nikita bisa sampai ada disana.

"Wah, ternyata kau menemukan baju tidur ku, sayang," kata Nikita, memberanikan diri.

"Papa heran, koq bisa ada disini ya Ma."

"Oh, itu biasa, pasti anjing kita yang sudah menyembunyikannya disana, Pa. Kau tahu sendiri kan, anjing itu suka sekali mencuri pakaiaan," kata Nikita, mengkambing hitamkan anjingnya.

"Papa rasa pasti begitu," kata Mamad, mengikuti Nikita keluar dari kamar Toni.

Sebelum mematikan lampu, Mamad melihat ke arah ranjang Toni dan merasa heran kenapa Toni tidak jadi terbangun dengan semua kegaduhan itu. 

Sepertinya dia cuma pura-pura tidur, tapi entah kenapa.  Mamad jadi curiga, pasti ada sesuatu dibalik semua itu.

Nikita terlihat gugup seperti sedang menyembunyikan sesuatu, dan Roni terlihat sangat ketakutan seolah-olah ketahuan telah melakukan sesuatu yang sangat terlarang. 

Dan kenapa juga Roni telanjang bulat? Tidak biasanya bocah itu berkeliaran di rumah dengan bertelanjang bulat seperti itu.
Mamad memeriksa sekeliling kamar sekali lagi dan melihat apa yang tampak seperti seperti sepasang celana piyama tergeletak di lantat. 

Bahkan, bukan cuma satu, tapi dua pasang celana piyama. Mamad mengaruk-garuk kepala dengan ngantuknya lalu menutup pintu kamar  itu dengan perlahan.

"Sekarang, tidurlah sayang," kata Nikita dengan senyum yang gugup. "Ma'af, Mama tadi membangunkan Papa. Mama tahu Papa harus ke kantor pagi-pagi sekali besok."

"Ndak masalah, Mam. Sebenarnya, bukan Mama yang membangunkan Papa. Tadi Papa membalikkan tubuh tapi tidak merasakan Mama ada disebelah Papa," kata si Mamad.

"Jadi ternyata Papa bisa merasakannya," kata Nikita dengan kesal.

"Maksud Mama?" tanya Mamad, bingung.

"Ah, Papa cuma pura-pura nggak aja tahu kale," kata Nikita dengan nada bosan.

"Tapi Papa emang bener-bener nggak tahu Ma."

"Udahlah Pa, nggak usah dibahas lagi, ini sudah sangat larut malam," bisik Nikita, jengkel.

"Tapi Papa masih ingin membahasnya Ma!" Mamad bersikeras.

Nikita tahu kalau sikapnya terhadap Mamad dan ketidak nafsuan Mamad terhadapnya telah berubah semenjak Nikita menemukan cara mendapatkan perhatian dari pria-pria yang lebih muda. Dia sudah berusaha menahan diri untuk tidak mengejek Mamad karena impoten.

Tapi akhirnya Nikita tidak tahan juga. Mamad yang hampir memergoki aktivitas incest yang dilakukan Nikita, telah membuatnya jadi bersikap defensive. 

Tapi setelah memikirkannya, Nikita yakin bahwa Mamad tidak akan tahu aktivitas incest nya itu.

Nikita sendiri masih belum bisa percaya kalau dia bisa ngentot dengan anak-anaknya, apalagi Mamad, mana mungkin hal seperti itu akan terlintas di otaknya.

"Papa merasa kalau Mama mengira Mama sudah tidak dibutuhkan lagi oleh Papa. Benar kan Ma?" tanya Mamad.

"Tidak sayang. Mama tahu kalau Papa masih membutuhkan Mama. Tapi Mama cuma merasa Papa sudah tidak lagi memandang Mama sebagai seorang wanita... atau Papa itu sebagai seorang pria!" jawab Nikita sambil duduk dengan lesu dan mengikat rambutnya yang panjang.

"Ya ampun, Ma!" kata Mamad. "Mama kan tahu kalau Papa sangat mencintai Mama."

"Iya, Pa. Mama tahu itu," kata Nikita sambil menghela napas, merasa bosan.

"Lalu?" tanya Mamad. "Kalo emang Mama sudah tahu, lalu apa masalahnya?"

"Mamad, suami ku sayang, seorang wanita itu bukan cuma butuh cinta. Emang bener lo cinte ame gue. Lo kasih gue banyak harte. Lo selalu ade disamping gue. Tapi lo perlakuin gue kayak bantal guling aje, kagak diapa-apain, cuma di peluuuuuk aje, mane gue tahan. Ngarti kaga?" teriak Nikita, pake logat betawi asli.

"Emang, lo butuh apa lagi sih selain cinte dan harte, hai betine! Maksudnye, gue kan udah berusahe ngelakuin yang terbaek buat lo dan anak-anak gue. Emang, gue kaga kaya-kaya amat sih, tapi idup kite kan udah cukup lumayan nih, kaga susah-susah amat. Bisnis gue lagi mau berkembang, jadi besok gue mau nemuin akuntan gue. Rencanenye sih, bisnis gue bakal jadi dua kali lebih besar tahun depan. Nah, kalo udah gitukan, gue jadi bisa beli rumah baru, atau kalo perlu, kite liburan keluar negeri," jawab Mamad, juga pake logat betawi.

Nikita menatap wajah suaminya yang terlihat sangat bahagia. Wajah yang hampir sama, yang dia lihat saat si Mamad sedang orgasme setelah mengentotnya. 

Nikita jadi merasa sangat cemburu dengan bisnis si Mamad, sama cemburunya dia kalo sampe si Mamad ngentot cewek lain.

"Oh, luar biasa, super sekali," Nikita tertawa, bertepuk sebelah tangan, eh, maksudnya, bertepuk-tangan. "Liburan keluar negeri untuk tiga orang!"

"Untuk tiga orang?" si Mamad jadi bingung.

"Iya kan sayang! Kau dan aku serta bisnis mu. Kau pasti tidak akan mau meninggalkan bisnis mu itu. Bisnis mu yang sangat berharga itu! Memuakkan!" Nikita meludah, wajahnya memerah, bibirnya merekah, hidungnya berdarah, kupingnya bernanah, memeknya basah.

"Lo kenapa sih, Nikita? Kagak biasanya lo bertingkah aneh seperti ini. Lo kesurupan kali ye? Emang gue sudah ngelakuin apa?" tanya Mamad, jadi teringat film-film horor yang pernah ditontonnya.

"Nggak, lo nggak ngelakuin apa-apa koq. Justru ntulah penyebabnye, Mamad! Gue kasih tahu ya, lo tuh kaga ngelakuin ape-ape same gue!!!" Nikita berteriak histeris, mengaum layaknya seekor macan betina.

"Gue jadi kaga ngarti, Nikita."

"Itu benar sayang! Lo kaga ngarti kebutuhan gue! Kebutuhan yang sudah lama banget kaga lo kasih ke gue!"

"Kebutuhan ape maksud lo?" tanya Mamad.

"Ini lho Mamad," kata Nikita, bergerak ke arah Mamad lalu mencengkram kontolnya. "Barang ini yang udah lama banget kaga lo kasih lagi ke gue!"

Mamad melihat ke arah kontolnya dan mengawasi Nikita yang meremas-remas kontol kecilnya. Dia mencoba membebaskan kontolnya dari cengkraman Nikita, tapi sang macan betina tidak mau melepaskannya.

"Koe itu kenapo tho, kangmas? Opo iki rasane ora enak?" tanya Nikita, dengan logat Jawa, sambil meremas-remas biji-biji dan batang kontol Mamad.

"Uh.... eh... yo enak lha... tapikan.... anu..." Mamad jadi gugup dan gagap, mengap-mengap.

"Tapi kontol lo kaga bisa ngaceng lagi, gitukan, Mamad?"

"I-iya.... emang sih... Itu karna gue lagi kecapean aja kali... lo kan tahu sendiri, sekarang nih sudah hampir pagi.... dan gue..."
"Tapi kontol lo kaga bakal bisa ngaceng, Mamad. Nggak masalah, mau siang kek, mau malem kek, mau pagi kek, betulkan? Lo udah kaga bisa ngapa-ngapain gue lagi, Mamad! Lo ngarti kaga? Yang lo pikirin tuh cuman bisniiiiis mulu! Gue ini wanita, Mamad, dan gue butuh perhatian dari lo. Gue butuh ini!" Nikita mengeluarkan kontol Mamad dari celana, lalu mengocoknya. "Lo bahkan sama sekali udah kaga tertarik lagi ama gue, ya kan Mad?"

"Tentu gue masih ketarik ama lo, Nikita. Lo tahu itu," jawab Mamad, masih membela diri, walau kontolnya sudah tak lagi bisa berdiri.

"Apa lo masih tertarik sama yang ini, Mamad?" Nikita melepaskan baju tidurnya dan mempersembahkan tubuh bugilnya. "Apa tetek ku membuat mu terangsang, Mamad?" tanya Nikita dengan tetek di kedua belah tangannya.

Nikita menggosok-gosok putingnya yang kecil, mungil seperti pentil, hingga menjadi kejang, tegang, dan mengundang. Dia tahu pria normal manapun pasti akan jadi terangsang kalo melihatnya.

Dia bergerak mendekati Mamad dan tersenyum menggoda. Teteknya yang hangat itu ditekan-tekan ke wajah Mamad, membenamkan wajah yang tak berdaya upaya itu ke dalam belahan dadanya.

Nikita melihat ke arah selangkangan Mamad, tapi ternyata tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.

"Ah, sudahlah, tidak ada gunanya!" kata Nikita sambil menghela naspas panjang.

"Ma'af ya Nikita, Aku...."

"Ah, sudahlah Mad. Dasar payah! Lagi pula, aku sudah menemukan cara lain untuk memuaskan nafsu ku," kata Nikita, masuk ke dalam selimut lalu menutup mata, untuk selama-lamanya.

"Cara lain? Emang ada?" tanya Mamad. "Gimana caranya?"

"Kau harusnya sudah tau, Mad! Kau tahu benar betapa besarnya.... nafsu birahi ku!"

"Maksudnya, lo selingkuh sama pria laen, gitu?" tanya Mamad, agak kaget, merasa kepepet, karna kebelet.

"Pria lain? Tidak sayang ku, bukan pria lain!" Nikita tertawa terbahak-bahak, hingga memeknya terbelalak.

Nikita tahu Mamad pasti akan jantungan kalau dikasih tahu bahwa dia telah mengentot kedua anak mereka.

"Tidulah Mad! Gue udah ngantuk banget nih! Capek tau!"

Nikita merasa senang karena telah berhasil membuat Mamad jadi penasaran. Membuat Mamad jadi pusing tujuh keliling seperti itu memberikan suatu kenikmatan tersendiri bagi Nikita, setelah lebih dari satu tahun lamanya dia harus menderita karena tidak pernah lagi dientot Mamad.

Nikita pun segera terlelap setelahnya, tidurnya malam itu, adalah yang terindah yang pernah dia rasakan sejak lama. Sedangkan Mamad sama sekali tidak bisa tidur.

Semenjak pertengkaran itu, hubungan Nikita dengan Mamad jadi semakin menegang. Mamad sudah berusaha melupakan semua ucapan Nikita malam itu, tapi tidak berhasil. Ini adalah pertama kalinya Nikita mengejek impotensi Mamad secara terang-terangan.

Selama ini, masalah seperti itu selalu dianggap tabu, tapi dalam dua minggu terakhir ini, Nikita selalu mengomentari hal itu. 

Untuk pertama kalinya, Mamad benar-benar merasa malu pada dirinya.

Akhirnya terpikir oleh Mamad bahwa itu mungkin karena dia terlalu banyak bekerja. Kemungkinan besar, itu karena Mamad terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk bersama klien dan buku-bukunya, dibanding bersama istri dan anak-anaknya.

Semakin Mamad memikirkannya, semakin sadar dia bahwa Nikita memang benar. Dan mungkin masih ada kesempatan untuknya.

Mungkin dia masih bisa menyalakan kembali api-api nafsu birahi yang telah lama padam dari kehidupan rumah tangga mereka.

Kemungkinan bahwa dia sudah kehilangan Nikita karena diambil pria lain, membuat Mamad jadi sangat menderita. 

Semakin lama, Nikita semakin bersikap seolah-olah dia sudah mendapatkan pria lain.

Dalam minggu-minggu terakhir, Mamad sudah sering bertanya kepada Nikita, apakah Nikita telah berselingkuh, tapi Nikita selalu mengingkarinya. 

Selama ini, Nikita tidak pernah membohonginya, Mamad tahu itu. Tapi kali ini, ada sesuatu yang disembunyikan Nikita, dan Mamad juga tahu itu.

Mamad jadi merasa wajib untuk mencari tahu jawabannya. Toh, tidak ada salahnya untuk menyelidiki, pikir Mamad. 

Jika ternyata Nikita memang setia padanya, maka mungkin Mamad bisa memberikan lebih banyak waktu untuk Nikita dan menyelamatkan pernikahan mereka.

Tapi jika sekalipun Nikita memang selingkuh, mungkin dengan menghadapi pria yang telah mengentot Nikita akan menunjukkan pada Nikita bahwa Mamad masih menginginkan dia.