Mama Ngajak Mandi Bareng

Keesokan paginya Sandra bangun dengan rasa bahagia. Dia meregangkan tubuhnya sambil menatap ke arah anaknya yang sedang tidur disampingnya.
Wajahnya tampak sangat lugu, seperti belum punya dosa, padahal neraka sudah menunggunya..

Setelah menyingkirkan selimut yang menutupiya, Sandra memandangi tubuh anaknya. Doni tampak begitu perkasa, tubuhnya kekar, seperti pendekar, dengan kontol yang besar.

Doni tidur terlentang, dengan satu kakinya yang menekuk. Kontolnya bersandar lemah tak berdaya dipahanya, dengan biji-biji yang menggantung di bawahnya.

Sandra jadi ingin menundukkan kepalanya disana dan memberikan ciuman yang hangat pada kontol Doni, tapi kemudian dia membatalkan niatnya.

Bocah malang yang berkontol panjang itu kemarin telah mengentotnya sepanjang hari, dan Sandra juga sudah menghisap habis semua spermanya.

Kasihan dia, pikir Sandra, mengamati anaknya. Doni masih perlu beristirahat, dia masih membutuhkan tidurnya.

Setelah menurunkan kaki-kakinya yang panjang ke tepi ranjang, Sandra berdiri dan kembali menatapi anaknya dengan penuh cinta kasih sayang plus agak terangsang, kemudian masuk ke kamar mandi, tentu saja untuk mandi pagi, bukan masturbasi, apalagi onani.

Siraman air membuat tubuhnya jadi kembali segar, dia berdendang dengan riang sambil menyabuni tubuhnya yang telanjang. Puting-putingnya terasa keras, sehingga Sandra jadi menyadari kalau puting-putingnya itu memang selalu keras, terutama sejak kemarin.

Dia menyabuni bulu-bulu jembutnya yang keriting, dan untuk sesaat Sandra menggoda iman nya dengan cara memasukkan sepotong jari ke dalam lobang memeknya.

Tapi kemudian dia tersadar dan merasa tidak perlu lagi untuk mengentot dirinya dengan jari, seperti yang selalu dilakukannya setiap hari, tidak akan pernah lagi.

Itu karena Sandra sudah memiliki anaknya beserta kontolnya yang besar dan panjang, ditambah lagi dengan urat-urat yang melingkari batangnya, juga biji-biji yang menampung spermanya.

Sambil memblias sabun dari tubuh montoknya, janda itu berpikir betapa beruntungnya dia karena memiliki Doni.

Sebagian bocah, Sandra rasa, mungkin akan merasa malu untuk mengentot Mama mereka, tapi pada umumnya mereka pasti pernah merasa pingin mengentot Mama mereka.

Sedangkan Doni sudah melakukannya, dan bukannya merasa malu, Doni malah tampak sangat bahagia, bahkan jadi ketagihan dan tergila-gila sama memek Sandra.

Setelah melangkahkan kakinya keluar dari shower lalu mengambil sebuah handuk yang tebal, Sandra mengeringkan tubuhnya. Dia menggulung rambutnya lalu kembali masuk ke kamarnya.

Doni masih tertidur. Saat melihat ke arah jam Sandra jadi tahu kalau saat itu sudah jam 10 pagi. Aku tidak pernah tidur sampai sesiang ini, pikir Sandra, dengan takjub.

Tapi itu adalah sebuah kesenangan yang layak dan Sandra jadi nyengir saat berjalan menuruni tangga untuk membuat sarapan.

Sandra sudah hampir selesai masak saat menyadari kalau dirinya masih telanjang bulat.

"Sandra jadi tertawa genit. "Ah, sudahlah, lagian sekarang sudah tidak ada pengaruh nya koq." kata Sandra, sambil menaruh sebuah piring.

Sarapan sudah siap, Sandra memanggil Doni dari atas tangga.

Doni turun sambil mengucek-ngucek matanya. Tapi dia sudah mengenakan celana piyamanya, seperti yang dilihat Sandra.

Saat Doni melihat Mamanya telanjang bulat, dia tertawa lalu segera membuka dan melepaskan celananya. Dia melempar celana itu ke dapur lalu duduk untuk sarapan.

"Apa kau ingin berendam di bak air hangat itu pagi ini bersama Mama, Doni?" tanya Sandra.

Dulu Doni memang pernah berendam bersama Mamanya di dalam bak itu dan mereka sama-sama mengenakan baju renang. Tapi sejak itu mereka tidak pernah lagi melakukannya.

Sekarang Sandra jadi teringat alasannya. Saat mereka duduk di dalam air yang hangat itu, kedua paha mereka melakukan kontak, dan Doni  segera bergerak menjauh, merasa malu.

Sandra sudah melupakan kejadian itu, hingga hari ini.

"Tentu." jawab Doni, tersenyum sambil melanjutkan sarapannya. "Rasanya pasti akan sangat nikmat."

Setelah sarapan, Sandra segera membersihkan dapur dengan dibantu Doni. Kedua pinggul mereka sering bersentuhan, dan Sandra sangat senang saat melihat kontol Doni jadi tegang.

Sandra tidak dapat menahan diri  dia meraih dan mengocok-ngocok kontol Doni. 

Doni memegang dan menimang tetek Sandra, menjilati puting-putingnya.

Sandra menekan tubuh bawahnya ke selangkangan Doni, menggosok-gosokkan kepala kontol Doni ke bibir memeknya yang berada di balik bulu-bulu jembutnya.

"Sebaiknya kita menghentikan perbuatan kita ini," bisik Sandra, "sebelum akhirnya kita mulai ngentot sehingga jadi lupa untuk berendam di bak itu."
"Aku lebih suka ngentot, Mam." jawab Doni sambil tertawa, tapi tetap menjauhkan kontol nya dari memek Mama nya, Sandra juga.

Sambil bergendengan tangan, dua beranak yang telanjang bulat itu pun berjalan menuju ke halaman belakang.

Sandra merangkak ke dalam bak lalu duduk, teteknya tenggelam di dalam air.

Doni menyusul masuk ke dalam air, duduk di dekat Sandra, pahanya menekan tetek Mamanya. 

Kali ini, Doni tidak lagi menjauh dan merasa malu.