Mandi Bareng Nyonya

Nikita melangkah masuk ke dalam shower bersama Joni lalu menyesuaikan suhu air di spray itu hingga terasa nyaman dikulitnya. Dia menyabuni teteknya sehingga jadi licin dan berkilauan.
Joni tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh dan meraba-raba tetek Nikita itu. Rasanya sangat lembut dan kenyal. Dia menghujani belahan tetek itu dengan hisapan kemudian menghisap semua bagian dari tetek yang besar itu.

Tangannya meluncur diatas tetek Nikita yang bersabun itu. Tangan-tangan itu kemudian bergerak turun ke bawah ke paha-paha Nikita.

Nikita membuka kedua pahanya lebar-lebar dan membiarkan Joni untuk mengakses memeknya yang hot.

Joni berlutut di depan wanita yang seksi itu dan mulai menggosok-gosokkan batangan sabun ke memek Nikita. Tidak lama kemudian memek Nikita jadi tampak seperti kue pie yang terbuat dari krim.

Nikita memberikan sehelai kain lap kepada Joni dan bocah itu tampaknya tahu benar apa yang harus dilakukannya. Saat Nikita mengangkangkan kakinya lebih lebar lagi, tangan bocah itu memegang masing-masing ujung dari kain lap itu, kemudian menggosok-gosokkan kain itu maju mundur di memek Nikita.

Kelakuan bocah itu membuat Nikita jadi kelabakan. Setiap kali kain itu menggesek-gesek clitorisnya, Nikita merintih karena keenakan. Semakin digesek clitorisnya, semakin terasa enak. 

Lama-lama Nikita pun jadi tidak tahan sehingga dia pun menyerah dan berlutut di depan bocah itu lalu mulai menyabuni biji dan batang kontol Joni.

Wanita berpantat seksi itu melingkarkan jari-jemarinya di sekitar kontol yang bersabun itu lalu mulai mengocok-ngocok ke atas dan ke bawah.

Joni jadi keenakan hingga menyandarkan punggungnya ke dinding-dinding shower, tubuhnya jadi kejang-kejang. Kontolnya memehuhi tangan Nikita dengan daging-daging kenyal yang tak bertulang. 

Nikita jadi merasa berkewajiban untuk memasukkan lagi kontol itu ke dalam memeknya.

"Entot aku, nak Joni! Kita ngentot lagi yuk!" kata Nikita, merayu.

"Disini? Di dalam shower ini?" tanya Joni, agak ragu.

"Ya iya to, disini! Masak diatas genting, ntar jatoh lagi! Udah, pokoknya lu masukin aja deh kontol mu itu ke memek ku lagi! Gue udah kebelet nih, gatel banget! Ayo, masukin sekarang!" teriak Nikita.

Kemudian Nikita berlutut, air shower itu membasahi seluruh tubuhnya. Sambil berlutut salah satu tangannya bergerak ke selangkangannya lalu menggosok-gosok memeknya agar jadi hangat sambil mengundang bocah itu untuk mengisi lubang yang telah tersedia dengan kontolnya.

"Nah, nak Joni, entot aku dari belakang ya! Sekarang lo berlutut di belakang pantat ku, lalu sodokan kontol lo itu ke memek ku, oke boy? Kali ini kita akan mengentot dengan gaya doggy, atau mirip anjing! Nah, lakukanlah. Buatlah aku kembali bisa merasakan kontol besar mu itu, ya, nak Joni!"

Joni mengikuti instruksi dari Nikita, dia berlutut di belakang pantat Nikita lalu memegang kontolnya, mengarahkan dan membidikkan kepala kontolnya ke lobang nonok Nikita yang sudah terbuka.

Setelah merasa yakin bahwa bidikannya tidak bakal meleset Joni pun membenamkan kontolnya ke dalam lobang memek Nikita, mengisi lobang yang sempit dan licin itu dengan daging kenyalnya.

Saat mulai masuk, Joni merasakan memek Nikita itu seperti menghisap-hisap kontolnya agar masuk semakin dalam. Rasanya seperti ada tangan yang sedang memijat-mijat kontolnya dari dalam lobang nonok Nikita.

Joni pun kemudian mulai memompa kontolnya keluar masuk dari memek itu dengan cepat dan kuat. Biji-biji kontolnya yang menyimpan sperma itu terasa menampar-nampar bibir-bibir memek Nikita yang bersabun, dan perut Joni yang keras menghantam pantat Nikita yang bulat.

"Oh, Tuhan! Super sekali! Entot terus ya, nak Joni yang luar biasa perkasa! Kau lah yang berkuasa sekarang, sayang ku! Entot aku dengan keras! Hantamlah memek ku sampai puas! Buatlah memek ku itu jadi bergetar! Buatlah aku jadi muncrat lagi!" Nikita mendesah.
Sambil mengentot memeknya, tangan Joni tak mau diam, bergerak kesana-kemari meraba-raba seluruh tubuh montok Nikita. Napasnya jadi tersendat saat dia merasakan tangan Nikita  rupanya juga ikut bergerak ke selangkangannya lalu meraih biji-biji kontolnya.

Nikita meremas-remas bola daging yang lembut dan berjembut itu lalu menariknya saat Joni sedang mengentot memeknya dari belakang. Dia meremas biji-biji itu dengan cukup keras sehingga membuat Joni jadi kesakitan, tapi rasa nikmat yang dirasakan batang kontolnya mampu untuk membuatnya mengabaikan rasa sakit dibijinya itu.

Tidak butuh waktu lama bagi bocah itu untuk mencapai puncak kenikmatannya. Sebelumnya, dia sudah menembakkan spermanya dua kali, tapi Nikita adalah seorang wanita binal yang sangat ahli dalam merangsang pria, sehingga membuat Joni jadi merasa seperti selalu siap untuk kembali menyemburkan spermanya.

"Kau membuat ku jadi muncrat lagi, nak Joni. Oh, sayang ku! Kau telah melakukan hal-hal yang sangat nikmat kepada ku! Entotan mu jauh lebih enak dibanding entotan suami ku! Oh, Joniiiiii!" Nikita berteriak histeris saat memeknya muncrat di kontol Joni.

Joni mengerang dan merintih saat tubuhnya diserang dengan sensasi-sensai nikmat yang berasal dari orgasmenya. Dia melingkarkan tangannya yang kekar ke tubuh Nikita lau meraih tetek Nikita, meremas-remas tetek itu sambil menahan pantatnya.

"Terimalah semprotan sperma ku ini, Nyonya Nikita! Tampunglah di dalam lobang memek mu! Oh, sedaaap! Aku muncrat lagi!" Joni melolong.

"Semprotkanlah! Semburkan ke dalam memek ku! Isilah lobangnya dengan sperma mu, nak Joni! Ya, seperti itu! Aku bisa merasakan semprotan-semprotan itu dari dalam!" Nikita merintih, tubuhnya masih kejang-kejang setelah mengalami orgasmenya.

Bocah remaja dan wanita dewasa yang selalu haus sperma itu pun mengeringkan tubuh masing-masing setelah mengentot di dalam shower, masing-masing memberikan perhatian yang menyeluruh kepada alat kelamin dari lawan jenisnya.

Nikita tahu kalau Joni itu bisa mengentot lagi dan membuatnya orgasme lagi, seperti sebelumnya. Dia melingkarkan jarinya ke kontol bocah remaja itu lalu menarik dan menuntun Joni untuk keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur Nikita. Dia ingin menghisap kontol itu lagi saat mendengar suara-suara dari luar.

"Oh, tidak!' dia panik, berlari ke jendela lalu mengintip. "Suami ku Mamad dan anak-anak sudah pulang! Mobil mereka sedang masuk ke halaman rumah!"

"Tapi tadi kau bilang mereka akan pergi memancing dan tidak akan kembali untuk waktu yang lama," kata Joni dengan gugup pula.

"Itu pasti karena kita keasyikan ngentot sampai lupa waktu. Jadi tidak terasa kalau sekarang emang sudah waktunya mereka untuk pulang, nak Joni."

"Gimana kalo mereka sampai memergoki kita? Apakah yang akan engkau lakukan wahai Nyonya Nikita?"

"Makanya, kita ndak boleh sampe ketahuan, nak Joni! Ambil pakaian mu dibawah! Lari lalu berpakaianlah dengan rapi! Cepat!"
Joni hampir terjatuh saat berlari menuruni tangga yang menuju ke lantai bawah. Nikita mengambil lalu mengenakan sebuah jubah dan mengikuti Joni ke bawah. Dia menengok ke jendela dan melihat Mamad, suaminya dan kedua anaknya sedang berjalan ke arah pintu depan.

"Keluar lewat pintu belakang nak Joni! Cepatlah! Mereka sudah sampai di pintu. Ingat ya, sayang, jangan menceritakan kegiatan kita ini pada siapapun. Ini rahasia kita berdua saja," kata Nikita, lalu mencium bibir pemuda yang lugu itu.

"Apa aku boleh datang lagi?" tanya Joni sambil membuka pintu belakang.

"Aku akan menelpon mu nanti, sayang. Aku yakin kita akan punya banyak kesempatan untuk bersenang-senang lagi nanti, nak Joni!"