Memek Ku di Jilati Bapak

Tante Sue sudah kembali berpakaian dan bergabung ke dalam pesta; meninggalkan Terry sendirian di dalam kamarnya untuk beristirahat dan memulihkan diri sehabis ngentot.
Dengan tubuh telanjang bulat terlentang mengangkang diatas kasur, Terry mendengarkan suara riuh pesta yang ada dibawah.

Pria dan wanita, cowok dan cewek, keluarga dan tetangga semuanya sedang menikmati kemeriahan pesta tersebut, semetara Terry hanya sendirian dikamarnya sambil mengasihani diri sendiri. Apa yang salah dengannya? Kenapa dia sangat tidak suka bergaul dengan lawan jenisnya!? Apa itu normal?

Dia sudah bersenang-senang dengan tantenya. Tapi dia tidak bisa menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk terus bersama dengan tantenya. Dia tahu bahwa jauh di dalam hatinya dia harus bergaul dengan kaum pria yang seumur dengannya. Dan sebenarnya dia juga ingin bersama dengan mereka.
Tapi dengan memikirkan seorang cowok atau pria saja sudah membuat tubuhnya jadi memberontak kepadanya. Dan dia tahu bahwa jika dia ikut bergabung ke dalam pesta itu sekarang, makaa tangan seseorang akan berada diatas pantatnya sebelum dia sempat memejamkan matanya.

Dia jadi bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Terry menyeka air matanya saat mencoba membayangkan dirinya tengan dientot oleh seseorang yang berlawanan jenis dengannya.
Aku rasa aku tidak akan pernah sanggup, kata Terry kepada dirinya sendiri, merasa ketakutan terhadap pemikiran seperti itu. Itu bukanlah hal yang tepat.

Tapi kenapa melakukan hubungan seks dengan seorang pria itu menjadi hal yang tidak benar? Dia jadi ingin tahu. Dia berpikir keras, mencari-cari jawaban di dalam otak dan jiwanya, mengerahkan segala daya upaya untuk menemukan jawabannya. Karena.... karena...

Karena Ayah pasti akan marah!
Apa mungkin itu jawabannya? Mungkin. Yang pasti, dia dan ayahnya itu sangat, sangat dekat sekali. Bukankah ayahnya selalu menyebutnya sebagai gadis kecilnya yang istimewa? Dan bukankah ayahnya selalu memperingatkan dia untuk menjadi gadis yang baik jika Terry ingin tetap menjadi gadis kecilnya yang spesial?

Terry merasa sangat kebingungan saat ini. Dia merasa selalu merasa bingung sepanjang hidupnya. Dan yang membuatnya semakin bingung, seseorang mulai mengetuk-ngetuk pintu kamar tidurnya.

Tante Sue! Dia pasti ingin menjilati memek ku lagi. Oh, tante Sue, aku bukan lesbian. Apa kau tidak bisa mencari wanita lain disuatu tempat?

Tapi untuk menjaga kesopanan, Terry berkata, "Masuklah, pintunya tidak dikunci."

Terry tidak berusaha untuk menutupi tubuhnya yang sedang telanjang bulat; lagi pula, tante Sue kan sudah melihat semua yang bisa dilihatnya.

Tapi saat pintu kamarnya terbuka, bukan tantenya yang masuk.

"Bapak!"

"Terry!" Bapaknya membalikkan tubuh untuk menjauh. "Ma'af, bapak ndak tau kalo koe lagi telanjang bulat."

"Ora opo-opo bopo," kata Terry dalam bahasa Jawa yang kental, sambil duduk diatas ranjang dan menarik selimutnya ke atas. "Enter lah bopo. Jangan sungkan-sungkan." Terry menahan ujung selimut itu diatas teteknya. Selimut itu hanya bisa menutup sedikit sekali.

"Opo koe yakin ndak apa-apa nduk?" kata bapaknya pura-pura enggan tapi tetap melangkah maju. "Bopo ndak ngeliat kamu dibawah, jadi bopo memutuskan untuk mencari mu di sini. Opo keo lagi gak enak badan? Koq gak pake baju?"
Bapaknya menutup pintu kamar Terry lalu masuk dan duduk ditepi ranjang Terry.

Kasur Terry jadi ngelendot dibawah tindihan tubuh bapak Terry, sehingga pantat Terry jadi ngelongsor ke bawah lalu bersandar di paha bapaknya. Terry tidak berusaha untuk bergerak menjauh, dan bapaknya pun tampaknya oke-oke saja. Bapaknya cuma tersenyum dan menaruh tangannya di bahu Terry yang tidak ditutupi apa-apa.

"Opo koe sakit nduk?"

"Aku cuman ngerasa agak capek romo jadi yo aku pengen tidur-tiduran dulu. Tapi karna sekarang romo ada disini, aku yo sudah jadi seger lagi sekarang. Kita bisa chatting kalo romo mau." Terry duduk dengan punggung yang tegak luruh, dan selimut itu pun melorot ke bawah putingnya, tapi dia segera membenahinya.

"Okelah kalo begitu, koe pengen chatting tentang opo nduk?"

"Cowok."

"Emangnya mereka kenapa toh nduk?"

"Semua hal tentang mereka. Aku nih lagi galau bopo."

"Oh, seperti itu," kata bapaknya, sambil membersihkan tenggorokan dan menggosok-gosok dagunya. "Well, okelah kalo begitu, dari mana bapak harus memulainya?"

"Dimulai dari seks."

"Opo koe sama sekali ndak tahu tentang seks toh nduk?"

"Oh, tahu romo. Si mbok pernah ngasih tahu aku tentang ngentot."

"Oh, seperti itu, benarkah? Opo koe pernah ngentot nduk?"
"Yo belum toh romo, itulah yang membuat aku jadi bingung. Setiap kali ada seorang cowok yang pengen ngentot aku, aku yo jadi merasa jijay bahkan agak takut." Terry lagi ngejelasin tentang ketakutan dan keraguannya. Saat selesai, dia menarik napas lega, seolah-olah beban yang amat berat telah hilang dari pundaknya.

"Oh putri ku yang cantik, bapak tentunya tidak ingin koe ini jadi perawan seumur hidup. Kalo ada cowok yang pengen ngentot kamu, bopo ya ndak akan ngelarang kamu."

"Tapi apa itu hal yang benar untuk dilakuin bopo? Aku yo jadi bingung."

"Tentu saja koe jadi bingung nduk. La wong kamu itu sama sekali belum punya pengalaman. Koe itu membutuhken someone yang bisa ngajarin koe tentang cara ngentot yang baik dan benar."

"Oh seperti itu ya bopo, apa bopo mau ngajarin aku?"

"Lha, dibawahkan ada banyak cowok. Kenapa koe ndak ke bawah aja dan mencari disana, biarlah nanti semuanya akan berjalan secara alami."

"Tapi mereka membuat ku jadi jijay, romo." Gadis perawan itupun mulai bersikap manja. Kedua tangannya jadi rileks, sehingga selimut yang menutupi tubuh bugilnya jadi melorot ke bawah teteknya, yang menyembul dengan bangganya dan menunjukkan puting-putingnya yang tampak merah menantang.

Kedua bola mata bapaknya jadi terbelalak dan bergerak bebas, bukan cuma mengamati tetekya saja tapi juga seluruh lekuk liku dari tubuh putrinya yang sangat molek itu. Putrinya segera menyadari itu kemudian melorotkan lagi selimutnya ke bawah hingga ke perutnya.

"Mereka itu kan teman-teman mu di kampus. Masak nggak ada satupun yang bisa membuat mu bernafsu." Mata bapaknya jadi semakin melebar. Lidahnya mulai menjilat-jilati bibirnya sendiri.
"Nggak ada, Daddy. Mereka semua itu nggak bisa membuat ku jadi bernafsu." Terry duduk dengan punggung yang lebih lurus lagi dan membiarkan selimut itu turun hingga kepangkuannya.

"Ya ampun nduuk, nduk. Bopo yo jadi bingung harus ngomong apa lagi." Si bapak mencoba untuk mengintip daging yang ada di bawah selimut itu.
"Aku tahu bapak pasti bisa ngajarin aku tentang cara ngentot. Aku merasa tidak jijik sama bapak. Dan aku juga yo ndak takut sama bapak. Tolong ya, bapak." Terry mendorong tubuhnya ke body bapaknya sambil memegang bahu bapaknya saat dia memohon pada bapaknya. Selimut itupun semakin turun hingga ke lututnya.

Kontol bapaknya jadi langsung ngaceng. Terry bisa melihat jelas tonjolan besar di selangkangan bapaknya itu dan rasa sakittampak jelas di wajah bapaknya yang malang itu, dan dia langsung tahu apa penyebab dari rasa sakit yang tampak diwajah bapaknya itu.

Dia sudah sering melihat rasa sakit seperti itu di wajah-wajah orang lain, dan dia juga sudah sering melihat kontol besar yang menegang di balik celana orang lain, jadi dia sudah terbiasa.

Kontol besar ayahnya menegang dan rasa sakit yang tampak diwajahnya itu disebabkan oleh sebuah kontol yang ngaceng serta nafsu birahi yang menggelegak untuk segera menusukkan kontol itu ke dalam memeknya.
Hal seperti itulah yang biasanya selalu membuat dia jadi ketakutan bahkan menjadi sangat horor. Tapi tatapan penuh nafsu dari bapaknya itu tidak membuatnya jadi merasa jijik, kontol bapaknya yang ngaceng juga tidak membuatnya jadi takut.

"Bapak koq ndak yakin nduk, apa bapak mu ini adalah orang yang paling tepat untuk ngajarin koe tentang ngentot. Lagian, aku ini kan bapak mu nduk, bapak mu lho." Si bapak yang pura-pura nggak mau itu menahan bahu putrinya, tapi kedua matanya masih terus menggerayangi tubuh molek putrinya itu.
"Bapak lah orang yang paling tepat untuk ngajarin aku tentang ngentot. Aku ndak mau sama orang laen. Kalo bapak ndak mau, ya sudah, aku mungkin lebih baik jadi lesbian saja." Sekali lagi gadis itu mendorng tubuhnya, menempelkan teteknya ke dada bapaknya.

"Opo itu yang bopo inginken, putri mu ini jadi seorang lesbian?"

"Yo jangan toh nduk. Satu lesbian saja di keluarga kita itu sudah cukup. Tapi ya, gimana ya...." Si bapak pura-pura mikir dulu.
"Apa bopo ndak suka sama tetek ku?" Gadis itu meraih teteknya dengan kedua tangan lalu mengangkat dan menyodorkannya. "Bukankah tetek ku ini bagus dan indah?" Dia memijit puting-putingnya sendiri kemudian menundukkan kepalanya dan menjilati teteknya.

"Rassane uenak tenan lho bopo, suangat-suangat uenak. Apa bopo ndak mau nyobain?" Dia mengangkat kepalanya lalu mengangkat teteknya lebih tinggi lagi, ke arah bibir bapaknya yang gemetaran.

Bapaknya hanyalah seorang manusia biasa, bukan manusia setengah buaya, ataupun setengah kera. Dia tak mampu lagi untuk pura-pura alim. Dia menengok ke arah pintu lalu mengulurkan tangannya dan mearih tetek hangat putrinya itu.

Putrinya, menahan napas, memasrahkan teteknya untuk di jilatin oleh bapaknya kemudian kepalanya terangkat kebelakang saat bapaknya menurunkan kepalanya.
"Mmmmmmm! Uenak tenan! Jilatin terus ya bopo. Tunjukkan pada ku gimana rasanya kalo ngentot sama laki-laki. Tunjukin semuanya ya bopo." Si putri membelai-belai kepala bapaknya saat si bapak sedang asyik ngisep-ngisep teteknya putrinya itu, satu demi satu.