Memek Mama Minta Dijilat

Savita membiarkan pahanya tetap mengangkang saat kedua tangannya menjangkau dan mulai memain-mainkan teteknya sendiri. Jari-jemarinya menelusuri teteknya yang besar dan kencang, membelai-belai daging yang kenyal dan buntal itu.
Dia memijit-mijit puting susunya yang mirip buah cherry itu sekeras dan sekencang yang dia mampu, sampai kedua puting itu jadi membengkak dan mulai berdenyut. Dia merintih-rintih saat kedua teteknya itu berada di dalam cengkraman kedua tangannya sendiri.

Larry, putranya, berlutut di samping Savita agar bisa melihat dengan lebih dekat.

Gelombang-gelombang hangat melanda tetek besar milik Savita itu dan menghangatkan tubuhnya bagian atas. Dia tersenyum bahagia saat memandang ke arah bola mata putranya.

Teteknya berdenyut-denyut di genggamannya dan terasa membakar telapak tangannya. Dia meremas kedua daging yang memonjol itu lalu menariknya ke arah mulut putranya. Dia membiarkan putranya itu untuk menjilatinya sebelum kemudian dia mengguncang-guncang teteknya itu naik turun.

Teteknya yang besar berguncang dan bergoyang-goyang dengan beratnya saat dia mengguncang-guncang tetek itu dengan ujung-ujung jarinya.

Memeknya menggembung dan memerah, dan denyutan-denyutannya yang hot menuntut perhatiannya segera. Dia menjangkau ke bawah dengan satu tangannya dan menangkup bibir memeknya yang menggembung lalu mulai memijat-mijat daging ngentot yang lembut itu.

Getaran-getaran nikmat merasuk ke dalam lobang nonoknya. Dia menggeliat tanpa malu-malu, karena merasa yakin bahwa tidak akan ada orang yang tahu.

Agar memeknya bisa kembali terlihat secara full oleh putranya, Savita terlentang diatas karpet lalu menarik lututnya ke atas. Kemudian dia jadi tertawa cekikikan saat kedua pahanya angin dingin menerpa kedua pahanya. Tapi tidak akan ada lagi angin yang sanggup mendingkan memeknya sekarang.

Savita menggerakkan jari-jemarinya dengan teliti, meremas-remas tonjolan memeknya laksana adonan donat. Dia menekan kedua bibir memeknya agar menyatu, lalu merentangkannya lagi, kemudian kembali menyatukannya, entah apa maksudnya.
Rupanya, dia melakukan itu agar putranya bisa melihat memeknya dengan lebih jelas.

Untung bagi Savita, posisinya yang amat sangat erotis itu, membuat dia bisa melihat kontol besar putranya dengan sangat jelas. Kontol itu menggelantung ke bawah, panjang dan berat, bergelayut diantara kedua pahanya putranya, dan tampak sangat menggoda bagi seorang ibu yang sedang horny.

Savita mengangkat kepalanya dan mencoba untuk menjilat kontol itu, tapi karena jaraknya tidak cukup dekat, dia tidak bisa menjangkaunya. Jadi, dia menjulurkan tangannya lalu meraih tongkat pengentot itu.

Ya ampun, benar-benar kontol yang hebat. Super sekali.

Kontol putranya, akhirnya!

Dengan menyunggingkan sebuah senyuman yang tersipu-sipu, Savita mengencangkan genggamannya pada kontol Larry dan mulai mengocok-ngocok kontol putranya itu.

Dia menggerak-gerakkan tangannya dengan begitu cepat, mulai dari biji-bijinya sampai ke ujung kepala kontolnya, lalu kembali ke bijinya, dan kepalanya lagi, terus seperti itu, bolak-balik, tanpa henti, sambil menyambut setiap tetesan air mani yang jatuh ke atas tetek dan perutnya.

Gerakan tangan Savita yang mengocok-ngocok batang kontol itu hampir tampak jadi blur, karena begitu cepatnya. Dia bisa melihat dengan jelas kontol anaknya itu semakin lama jadi semakin membesar di depan matanya.

Sambil melakukan itu, Savita tak lupa untuk meliuk-liukkan tubuhnya dengan erotis di samping putranya, hingga pantatnya jadi semakin terbenam ke karpet yang tebal itu.

Bibir-bibir memek dan pahanya sekarang jadi tampak berkilauan oleh lendir-lendir memeknya. Lobang ngentotnya berdenyut semakin kencang. Savita ingin muncrat secepat mungkin, dan ingin membuat anaknya muncrat juga, ke atas perutnya.

Agar bisa segera muncrat, Savita memasukkan dua jarinya ke dalam belahan memeknya lalu mulai menyentrum-nyetrum daging mentah itu. Kejangan demi kejangan menjalar ke seluruh bagian lobang ngentotnya hingga membuat Savita menjerit.

Clitorisnya semakin menggembung  dan mulai berdenyut. Dia mengejang-ngejangkan pantatnya berulang kali, untunglah karpet itu cukup tebal sehingga pantatnya tidak memar.

Savita merintih. Air liur menetes ke dagunya. Matanya berputar-putar.

Larry menurunkan kepalanya agar bisa melihat memek Mamanya lebih dekat. Dan Savita tetap terus mengocok-ngocok batang kontol Larry, keatas dan ke bawah. Dia memijat-mijat daging kontol Larry dengan begitu ahlinya, hingga tak ada sedikitpun bagian yang terlewat.

Dia mengguncang-guncang kontol putranya itu dan meremas-remas biji-bijinya, dalam tekadnya untuk membuat anak itu jadi muncrat.

"Gimana rasanya kontol mu di kocok-kocok oleh Mama, nak? Apa kau menikmatinya?" Dia berbicara dengan begitu semangat, dengan napas yang terengah-engah. Anaknya juga sama ngos-ngosannya sehingga tak mampu untuk menjawab.

Jari-jari Savita menghilang, menelusup masuk, jauh ke dalam lobang nonoknya yang sempit. Kemudian dia mulai memutar-mutar jarinya itu, dengan bebas, dan buas, serta lugas, lagi mengas.... kartu As.

Nafsu birahinbya begitu memuncak sehingga Savita menjerit berulang-ulang kali, mengangguk-anggukkan pantatnya, dan menyodorkan memeknya ke arah wajah anaknya, seolah-olah dia tidak ingin si bocah yang doyan ngentot itu melewatkan apapun.

Pada waktu yang hampir bersamaan, napas Larry yang hangat mulai membuatnya jadi semakin terangsang, sama merangsangnya dengan jari-jarinya yang terbenam di dalam nonoknya.

Savita menyodorkan memeknya tepat ke mulut anaknya, lalu memutar-mutar dan menusuk-nusukkan jari-jarinya yang basah kuyup.

Saat Larry mulai menjilati jari-jari Mamanya, dan paha Mamanya, dan bibir-bibir memek Mamanya, Savita merasa seperti akan pingsan karena rasa nikmat yang sangat berlebihan.

Lidah Larry membakar bibir-bibir memeknya, sementara dua jarinya menggali lendir-lendir di lobang memeknya. Savita sedang menunggangi sebuah gelombang kenikmatan. Sekujur tubuhnya, kecuali bahu dan tumitnya, berada di udara, mengejang dan meregang. Dan seperti sseorang lonte yang sedang kesurupan, dia masih saja merasa kurang.

Saat jari-jarinya semakin basah, Savita mulai menggoyangkan pinggulnya yang sedang terangkat ke udara dengan gerakan-gerakan melingkar yang lebar, menawarkan lebih banyak lagi daging memeknya kepada anaknya, sampai bibir anaknya jadi basah kuyup oleh lendir memek Savita.

Sambil melakukan itu semua, Savita tidak lupa untuk terus mengocok-ngocok kontol besar milik anaknya, menghentak-hentakan pengentot itu kesana kemari, seolah-olah dia sedang mencoba untuk membuat kontol itu jadi lebih panjang lagi agar dia bisa menjangkau kontol itu dengan mulutnya.

Tapi sayangnya, kontol Larry tidak akan bisa merentang hingga sepanjang itu, jadi Savita hanya bisa menggunakan tangannya. Dia memompa kontol anaknya dengan kecepatan yang full hinggga membuat kontol itu jadi terasa hampir terlalu panas untuk di pegang.

Dia juga masih terus menggeliat dan memutar-mutar pinggulnya, mengentot memeknya sendiri dengan kedua jarinya. Sementara Larry, anaknya, menjilati memek Mamanya, setiap kali memungkinkan. Jadi tidak heran kalau memek Mamanya itu jadi semakin basah, memerah dan merekah, tapi untunglah tidak sampai berdarah.

Savita melolong, kedua tangannya terus bekerja, berbarengan. "Mama akan segera muncrat anak ku. Mama bisa merasakannya."
Lendir-lendir memeknya jadi berbusa karena diaduk-aduk. Tidak lama kemudian, tubuh Savita gemetar dan bergetar tanpa sadar, saat kejangan demi kejangan melanda sekujur tubuh itu. Dia tahu kalau orgasmenya sudah semakin dekat.

"Ya! Ya! Seperti itu!" Savita merintih, menirukan gaya Syahrini. "Aku mncrat! Horeee! Aku muncrat!"

Memek Savita menyemprotkan lendir-lendirnya yang hangat sehingga membasahi jari-jari dan tangannya. Tubuhnya melengkung-lengkung, sementara bibirnya mengeluarkan suara-suara rintihan dan erangan, serta membasahi lidah anaknya dengan lendir memeknya.

Savita menahan tubuhnya agar tetap di udara untuk beberapa detik saat orgasme melanda tubuh montoknya. Kemudian dia roboh dengan bersimbah keringat disamping anaknya.

Tapi hebatnya, dia masih tetap mampu memompa tangannya yang memegang kontol Larry. Tangannya bekerja tanpa pernah merasa lelah atupun putus asa, menarik, menyentak, dan mengguncang-guncang kontol yang gemuk itu, mencoba untuk memberikan kocokan terbaik yang pernah dirasakan oleh anaknya.
Biji-biji kontol Larry memukul-mukul tangan Mamanya yang lagi mengocok. Lobang kencingnya mengeluarkan air mani yang cukup banyak untuk membuat tangan Mamanya itu jadi licin. Dan panas yang terasa di tangan Mamanya itu cukup untuk membuat wanita lain jadi menyerah.

Tapi Savita malah mengocok kontol anaknya dengan lebih cepat lagi. Dia menyiksa kontol yang gemuk itu sampai kontol itu membengkak di genggaman tangannya dan mulai berdenyut kencang. Dia bisa merasakan sebuah ledakan sedang mendekat. Dia mempercepat kocokannya agar ledakan itu segera terlaksana.

Tubuh Larry jadi gemetar dan berguncang dengan hebatnya, maju mundur, kemudian menunduk dan meraih lalu mencengkram tetek besar emaknya agar tidak terjatuh. Sambil meremas-remas tetek Mamanya, dia mulai menggeliat tak karuan seperti orang sakit ayan.

"Ada apakah gerangan duhai anak ku sayang?" tanya Mamanya sambil tersenyum. Orgasmenya sendiri telah berlalu, dan denyutan di memeknya pun sudah reda. Tapi dia sama sekali belum merasa puas. "Apakah engkau merasakan juga seperti yang Mama rasakan tadi? Mama harap seperti itu, karena Mama sudah tidak sabar ingin segera meminum air mani mu yang hangat itu."
Savita menarik kontol anaknya itu ke wajahnya, sampai lutut anaknya menyentuh telingat Savita, dan kontol anaknya pun berputar-putar di depan wajah Savita, dengan jarak yang cukup untuk dijangkau oleh lidahnya.

Savita tidak perlu menunggu semprotan air mani anaknya itu lebih lama lagi. Tidak lama setelah dia ngomong, kontol anaknya yang malang melintang itu meledak dan memuntahkan semua spermanya yang kental dan lengket ke wajah Savita.

Awalnya, semburan sperma hangat itu membuat Savita jadi kaget. Dia masih belum terbiasa untuk disemprot dengan sperma yang begitu banyak, sekaligus. Tapi kemudian, dia mengumpulkan sperma anaknya itu dengan lidah lalu menelannya mentah-mentah, dengan rakusnya, tanpa dimasak dulu.

Tangan Savita masih terus mengocok-ngocok kontol yang sedang muncrat itu. Gumpalan-gumpalan sperma memabashi mata, hidung, dan mulutnya. Rambutnya juga tak luput dari semprotan itu. Dagu dan dahinya pun tak bisa lolos. Tangannya apalagi, penuh sesak dengan sperma, dan Savita pun bisa merasakan sperma itu di teteknya.

Merasa takjub dengan kemegahan dari orgasme putra tercintanya, Savita hanya memejamkan mata dan memerah kontol putranya sampai kering dengan tangannya sendiri.

Saat akhirnya kontol anaknya jadi lembek dan berhenti menyemprot, Savita membebaskan kontol itu dari cengkramannya dan mulai meratakan sperma ke seluruh permukaan wajahnya, sampai semuanya jadi basah.

Dia mengumpulkan sperma itu sebanyak yang dia bisa, lalu menelannya hingga kenyang. Sedangkan sisanya dia biarkan mengering, karena dia tidak akan merasa perlu untuk merasa khawatir akan penampilannya disaat-saat yang indah seperti itu.

"Oh, Mama ku sayang," kata Larry, masih gemetaran, "ini sungguh menakjubkan. Luar biasa. Rasanya jauh lebih enak dibanding kalo aku ngocok sendiri."
"Mama senang kau menikmati kocokan Mama, nak. Sekarang, kenapa kau tidak ke bawah sana dan menjilati memek Mama, seperti yang akan dilakukan oleh seorang anak yang berbakti pada Mamanya."

"Wow! Mama, aku memang berharap Mama akan memintanya." Larry merangkak diantara kedua paha Mamanya yang mengangkang lebar lalu menurunkan kepalanya ke memek Mamanya. Kemudian lidahnya menjulur dan mulai menjilati lobang memek yang pernah digunakan untuk membuat dan melahirkannya itu."