Ngentot di Hutan

Sore itu, saat matahari masih tinggi, setelah ngentot dua kali lalu mandi, Sandra, si janda muda, dan Doni, anaknya, bersepeda melintasi pepohonan pinus.
Itu adalah kegiatan yang sering mereka lakukan bersama, setelah Sandra resmi menjadi janda. Sudah lama mereka tidak melakukannya lagi, tapi hari ini keindahan alam menarik mereka untuk masuk ke dalam hutan.

Doni masih mengenakan celana pendeknya, tapi Sandra sudah mengganti pakaiannya dengan rok mini bergaya tenis dan blouse. Dibawah rok pendeknya itu, dia mengenakan celana dalam bikini yang tipis.

Karena Doni sepertinya tidak pernah merasa puas untuk memandangi pahanya, Sandra memutuskan untuk memilih pakaian yang memperlihatkan pahanya kepada Doni.
Mereka bersepeda dengan perlahan di sepanjang jalan setapak yang di kelilingi oleh pepohonan yang tinggi, menyaring sinar matahari.

Setelah sekitar satu mil dari runah, mereka berhenti. Sandra berdiri diatas sepedanya, rok nya di bagian pantat tersangkut di tempat duduknya.

Doni sedikit berada dibelakang Mamanya dan mengamati paha Sandra itu dengan sepenuh nafsu. Sekarang, dia bukan cuma bisa melihat paha, tapi juga pantat Mamanya yang montok.

Rasa geli di selangkangan menyebabkan kontolnya jadi menggeliat lalu mengeras, dan saat Sandra melihat ke arah Doni, kontol itulah yang pertama kali dilihat Sandra.

Sebuah senyuman tersungging di wajah Sandra dan tatapan matanya semakin menghangat.
"Apa kontol mu selalu keras seperti itu, Doni anak ku?" tanya Sandra dengan suara yang serak, menjilati bibirnya.

"Cuma kalo aku sedang melihat mu, Mam," jawab Doni, sambil menggosok-gosok kontolnya yang kejang. "Apa Mama tahu kalau sekarang aku jadi bisa melihat pantat Mama?"

Sandra mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menggaruk-garuk memeknya. "Untuk itulah Mama berpakaian seperti ini sayang."

"Aku sangat suka mengintip cewek-cewek yang lagi ganti baju disekolah, Mam." kata Doni, "tapi aku lebih suka memandangi Mama."

"Kau manis sekali sayang," Sandra jadi merass tersanjung, teteknya membusung. "Terutama saat kontol mu jadi mengeras seperti itu."
Dengan bangga, Doni mengangkat celananya untuk menunjukkan kontol nya pada sang Mama.

Lidah Sandra menjilati bibirnya,  memek nya berdenyut-denyut, saat melihat kontol yang lezat itu.

Sandra lalu memutar sepedanya agar bisa memegang kontol Doni. Untuk beberapa lama, dia meremas dan mengocok-ngocok kontol Doni, matanya menatap kontol itu dengan lapar.

Kepala kontol Doni jadi kepanasan hingga mengeluarkan lendirnya. Sandra lalu memungut lendir itu dengan jari jempolnya.

Sambil mengangkat tangannya ke atas, Sandra tersenyum genit pada anaknya lalu menjulurkan lidahnya ke jari jempolnya, mencicipi lendir yang gurih dan lezat itu.

Mata Doni jadi melotot dan saat Sandra kembali memegangi kontolnya, benda itu jadi semakin berdenyut-denyut.
"Ayo nak, kita lanjutkan lagi bersepeda nya." Sandra tertawa dan mulai mengayuh sepedanya.

Doni mengikuti, kedua matanya tak bisa lepas dari paha dan pantat Sandra yang bergerak ke kanan dan ke kiri diatas bangku sepedanya.

Mereka berhenti lagi di atas sebuah bukit yang tinggi, menikmati pemandangan lembah yang indah.

Setelah menyandarkan sepedanya di pohon, Sandra duduk diatas rumput yang empuk, menekuk lututnya ke teteknya, lalu menaruh dagunya diatas lutut itu.

Doni duduk bersila di depan Sandra supaya bisa tetap mengamati paha dan celana dalam Sandra yang menempel ketat di memeknya.
Kontol Doni jadi semakin kepanasan sehingga menyelinap keluar dari dalam celana pendeknya, kepalanya yang botak tampak begitu menggoda.

Dengan lemah lembut, Sandra meraih kontol anaknya itu lalu mulai mengocok-ngocoknya dengan perlahan dan penuh perhatian.

"Indah sekali," bisik Sandra.

"Memang indah." Doni nyengir, terus asyik mengamati selangkangan Sandra.

"Kau gila," Sandra tertawa. "Mama lagi ngomongin pemandangan itu."

"Aku juga Mam!" kata Doni.

"Mama rasa kita sedang melihat pemandangan yang berbeda." Jawab Sandra.

"Mama boleh melihat apapun yang Mama suka, dan aku juga akan melihat apa yang aku suka, Mam." kata Doni dengan tegas. "Aku rasa apa yang sedang aku lihat itu jauh lebih indah."

"Kau itu sangat doyan nonok, itulah masalah mu," kata Sandra, sambil mengocok-ngocok dan meremas kontol Doni. "Kau itu gila nonok, sayang. Tergila-gila sama nonok yang hot."

"Emangnya itu salah?"

"Sama sekali tidak," jawab Sandra. "Tidak ada yang salah dengan jadi tergila-gila sama nonok."

"Tergila-gila sama nonok yang berjembut." Doni tertawa, jari-jarinya membelai-belai celana dalam Sandra. "Tergila-gila sama nonok yang hot, basah, dan berjembut."

Sandra menatap anaknya itu dengan mata yang menyala-nyala. 

Sehari yang lalu, sebelum mereka mulai ngentot bersama, dia tidak pernah mendengar Doni mengucapkan kata-kata yang indah seperti itu, dan Sandra juga tidak pernah mengucapkan kata-kata mutiara seperti itu saat sedang ada Doni bersamanya.

Sungguh amat sangat membanggakan untuk mendengar anaknya bisa mengucapkan kata-kata bijak yang terdengar sangat indah itu. Kata-kata mutiara itu membuat tetek Sandra jadi mengejang dan memeknya jadi mengembang.
"Kalau engkau memang sangat tergila-gila pada memek Mama ini," kata Sandra dengan suara yang serak, berbisik, "lalu apa yang ingin engkau lakukan pada memek ini?"

"Apa pun dan semua pun akan aku lakukan, Mam," jawab Doni dengan tegas dan jelas, jari-jemarinya menekan-nekan celana dalam Sandra. "Aku akan melakukan apa pun untuk memek ini."

Mendengar kata-kata yang begitu tulus dari anaknya itu, Sandra jadi merasa sangat terharu dan nafsu, tangannya jadi mengocok-ngocok kontol Doni dengan lebih cepat.

"Maukah diri mu mengentotnya.... disini."

Doni melihat sekeliling. "Ndak akan ada orang yang akan melihat perbuatan kita, Mam. Posisi kita disini sangat terpencil dan jauh dari rumah manapun. Jadi, sudah pasti, Mama. Aku akan mengentot memek itu disini. Sekarang juga!"

Mendengar Doni memberikan jawaban yang diharapkannya, Sandra pun segera berbaring terlentang mengangkang di antas rumput, lututnya meregang dan merentang lebar sampai hampir menyentuh tanah.

Kemudian dia memandang ke arah anaknya dengan mata yang berbinar-binar, nafsu yang berkobar-kobar, jantung yang berdebar-debar, tetek yang bergetar, dan memek yang sudah tidak sabar.

"Nah, kalau begitu lakukanlah, Doni." Perintah Sandra dengan pasrah. "Entotlah Mama disini, ditempat yang terbuka ini, dengan disaksikan oleh matahari, pepohonan dan burung-burung! Entotlah Mama disini sayang, sekarang!"

Mata Doni memerah, kontolnya jadi semakin gerah. Dia lalu membuka celananya, tapi Sandra malah melarangnya.

"Celananya jangan dibuka, anak ku. Di sinikan panas, nanti kontol mu jadi item lho! Keluarkan saja kepala dan batangnya dari samping. Celana mu ndak perlu dibuka semuanya."

"Apa celana dalam Mama perlu dibuka?"

"Yo ndak perlu. Kan sudah Mama bilang tadi. Cuaca disini panas, nanti memek Mama jadi item." Jawab Sandra sambil menarik celana dalamnya ke samping.

"Nah, begini saja kan sudah cukup. Kontol mu bisa tetep masuk, betul?"