Ngentot Sekeluarga

"Memek mu sepertinya sedang kepanasan sayang! Lihatlah, lubangnya jadi banyak mengelarkan cairan," kata Mamad, sambil meraba-raba dan menggesek-gesek memek istrinya.
"Memek ku jadi hot karena mu, Mamad, sayang ku," kata Nikita, istrinya Mamad, dengan suara yang gemetar, karena sudah tak sabar.

"Kau memang tidak pernah berubah Nikita, selalu saja basah dan sedap di lidah," kata Mamad, sambil memungut lendir dari memek Nikita dengan jarinya, kemudian dicicipi nya.
"Aku juga ingin mencicipi lendir mu, Mamad, kata Nikita, lalu mencium dan mengulum kepala kontol Mamad.

"Super sekali! Sangat gurih sayang! Segurih yang pernah ku ingat. Kontol mu juga kepanasan, keringatnya sampai bercucuran. Kau pasti sudah merasa sangat tidak tahan lagi. Aku yakin kau pasti mampu mengentot ku sepanjang malam!" kata Nikita, tersenyum, kembali menjadi genit setelah sembuh dari rasa takutnya.

"Aku bahkan sanggup untuk mengentot mu sepanjang minggu, sayang! Itulah yang akan kita lakukan di akhir pekan ini. Kau memang benar tentang satu hal. Sudah sangat lama sekali aku tidak mengentot mu." Mamad menggenggam kontolnya lalu menyodorkannya ke wajah Nikita. "Hisaplah sayang, seperti yang dulu selalu kau lakukan!"
Nikita melakukan apa yang diminta Mamad, suaminya. Dia melakukannya dengan penuh perasaaan, tanpa pemaksaan. Mulutnya dibuka selebar yang dia bisa, lalu melahap kontol Mamad sampai ke biji-bijinya.

Kontol Mamad meronta-ronta di dalam mulutnya dan meregangkan tenggorokannya, saat Nikita menelannya hidup-hidup. Dengan lihainya, Nikita memutar-mutar lidahnya disekitar gulungan daging yang kenyal itu, sehingga Mamad jadi terlena dibuatnya.

"Remaslah biji-biji ku, sayang! Mainkan sesuka hati mu!" pinta Mamad, karena merasa sangat tersiksa oleh biji-biji yang kejang itu.
Saat Mamad merasakan jari-jari Nikita membelai bijinya, kontolnya hampir muncrat di mulut Nikita. Sekarang dia jadi heran, bagaimana mungkin dia bisa mengabaikan Nikita dan tidak mengentotnya untuk waktu yang sangat lama.

Mamad memejamkan mata, membiarkan Nikita mengerjakan tugasnya dengan mulut dan tanganya. Dia ingin meresapi semua sensasi dari tangan dan mulut Nikita pada biji dan batang kontolnya.

"Hisaplah kontol ku sayang, sebelum kau dihisab oleh Nya! Hisaplah semuanya, jangan ada yang tersisa, aku bisa tersiksa. Ya, seperti itu Nikita! Hisap terus sampai meletus!" Mamad membujuk, kepala Nikita mulai mengangguk-angguk, kontolnya jadi keluar masuk. Mabuk!
Mulut Nikita membengkak, tenggorokannya hampir tersedak, kontol Mamad mendeksak-desak. Dia jadi berpikir kalo Mamad terlalu kasar mengentot mulutnya, dan berharap Mamad akan mengurangi desakannya.

Tapi Nikita tahu dia tidak bisa mengeluh. Lagian, selama beberapa hari ini kan, dia emang sudah berlaku tidak adil pada Mamad. Nikita juga tahu kalau Mamad tidak pernah bermaksud menyakitinya.

Sedangkan Toni dan Roni, kedua anak mereka, berdiri melotot, menonton Papanya yang mengentot, mulut Mamanya yang sewot. Keduanya merasa kagum, mulut Mamanya mampu mengulum, kontol kontol Papanya yang sebesar pendulum, sambil tersenyum.

Nikita batuk, mengutuk, dan meliuk-liuk, kepalanya mengangguk-angguk. Toni dan Roni jadi berharap kontol mereka akan mengalami nasib yang sama. Mereka ingin Papanya benar-benar serius dengan omongannya, bahwa mereka akan mendapatkan ganjarannya juga.

"Oke, sayang! Aku rasa sudah cukup kulum-mengulumnya, sekarang aku ingin memek mu, Nikita. Aku ingin tahu apa masih tetap sama seperti dulu," kata Mamad, menarik mundur kontolnya dari hisapan mulut Nikita.
"Memek ku ini masih tetap sama seperti dulu sayang! Sempit, basah, licin dan hangat! Tanya saja pada Toni dan Roni!"

"Apa itu benar anak-anak? Apa memek Mama kalian seperti yang dia katakan?" tanya Mamad kepada kedua anaknya.

"Oh yeah! Papa! Mama berkata benar! Bahkan sekarang rasanya jadi jauh lebih sedap dan nikmat!" jawab Toni.

"Mama sangat tahu cara memelihara dan menggunakan memeknya, peracayalah Papa!" Roni menambahkan.

"Papa percaya itu. Mama mu memang begitu, dia tahu benar kalo soal memeknya!" kata Mamad sambil tertawa. "Rentangkan kaki mu Nikita! Akan kutunjukkan pada mu seperti apa rasanya kontol seorang pria dewasa yang perkasa!"

"Oh, monggo, Mamad ku sayang! Sudah lama sekali aku menantikan ini! Ambillah memek ku! Gunakan! Manfaatkan! Puaskan kontol mu! Buatlah aku bisa kembali mengingat seperti apa rasa kontol mu! Masukkan, hujamkan, benamkan, lalu ayun-ayunkan!" Nikita mendesah, napasnya terengah-engah, kakinya terbelah, memeknya merekah.

Mamad menatap belahan daging yang berwarna merah di selangkangan Nikita itu. Dia mengawasi saat tangan Nikita mengutik-ngutik belahan memeknya. Dengan kejamnya, Nikita mencelupkan dua jarinya ke lobang yang ada disana, lalu menarik dan membuka lobang itu lebar-lebar untuk Mamad.

Seketika itu juga Mamad membuka sepatunya, melepaskan celananya, dan hampir merobek bajunya. Dalam hitungan detik, Mamad sudah berada diatas Nikita, menindihkan tubuhnya ke atas tubuh Nikita yang sudah tak berdaya upaya untuk menolaknya.

"Oh, Mamad! Tubuh mu sangat kuat! Kontol mu besar amat! Biji mu terasa hangat! Jembut mu juga lebat! Masukkanlah Mad! Isilah memek ku yang hangat dengan kontol mu yang berurat! Entotlah aku dengan cepat dan hebat!" Nikita merintih, saat Mamad menindih, bukan karna sedih, tapi karna memeknya mendidih.

Mamad mearih lalu menggenggam kontolnya, memandu ujungnya ke lobang yang sudah tersedia.

Awalnya dia menusuk dengan perlahan, tapi setelah kepala kontolnya merasakan kehangatan dan kelicinan memek Nikita, Mamad jadi hilang kesabarannya. Dia langsung mengayunkan pantatnya dan membenamkan seluruh batang kontolnya,  dari ujung hingga ke pangkalnya.

Nikita berteriak saat merasakan kontol Mamad mendesak, secara mendadak, hingga memeknya jadi terasa sesak. Awal, dia amat kesakitan. Kontol Mamad jauh lebih besar dibanding kontol-kontol yang diterima oleh Nikita akhir-akhir ini. Dia jadi ragu, apakah memeknya akan sanggup untuk menampungnya.
"Oh, Tuhan! Ampun! Tuhan! Ukurannya terlalu besar! Sangat keras! Rasanya sangat hot sekali Tuhan! Aku.... aku tidak sanggup menerima cobaan ini, Tuhan!" Nikita menjerit, merintih, meronta dan berdoa.

"Kau harus sanggup Nikita! Kau harus menampung dan menganggung semuanya! Dulu kau bisa, dan sekarang kau akan kembali terbiasa! Kau harus mulai membiasakannya Nikita! Karena mulai sekarang aku akan terus menggunakannya! Aku akan menggunakannya di mulut, di memek, bahkan di pantat mu, Nikita! Seperti yang sudah ku katakanb tadi, aku ingin membayar lunas semua hutang ngentot ku pada mu, sayang!" kata Mamad, sambil memompa kontolnya.

"Oh, Mamad! Apa kau serius? Kau akan selalu mengentot ku seperti ini? Kau tidak akan pernah lagi membuat memek ku kelaparan dan kehausan?" Nikita mendesah, memeknya menjepit kontol Mamad dan menahannya agar tidak lepas dari dalam lobangnya.

"Mulai sekarang, memek mu tidak akan pernah merasa kosong lagi, Nikita! Mulai saat ini, aku akan lebih mementingkan kebutuhan memek mu dibanding kesuksesan bisnis ku," kata Mamad, biji-biji kontolnya menampar-nampar bibir memek Nikita, saat dia membentur-benturkan selangkangannya ke selangkangan Nikita.

"Entot aku, sayang! Entot aku sekuat nafsu mu! Ya, seperti itu! Oh, Mamad, yessss! Isilah, penuhilah, dan banjirilah memek ku dengan lendir mu!" desah Nikita.

Kedua anaknya tak sanggup lagi menahan diri. Keduanya naik ke atas ranjang bersama Mama dan Papa mereka yang sedang ngentot, lalu mereka mengocok-ngocok kontol mereka sendiri, sambil menunggu perintah untuk ikut bergabung.

"Apa aku masih boleh mengentot anak-anak ku? Sebagai selingan?" tanya Nikita, matanya berkaca-kaca, hatinya berbunga-bunga, memeknya berbusa-busa.

"Tentu saja boleh, sayang. Kau boleh melakukan apapun yang bisa membuat mu teraangsang. Aku tidak keberatan. Mulai sekarang, kau bebas melakukan apa saja yang memek mu inginkan," Mamad berujar, biji-bijinya semakin membesar, spermanya sudah tidak sabar, ingin segera menyebar.

"Kalo begitu, kemarilah anak-anak ku! Berikan kontol-kontol mu yang indah itu! Mama ingin menghisapnya sambil menunggu Papa mu selesai!" kata Nikita, meraih dan menarik kontol kedua anaknya ke arah bibirnya.

Nikita menghisapi kontol-kontol itu dengan hausnya, lidahnya yang licin mengitari kepala kontol anak-anaknya sampai dia tahu kalau mereka sudah tidak tahan dan ingin menyemprot ke dalam mulutnya, lagi.

Dia meremas-remas biji kontol mereka lalu memerah lendir-lendir yang ada di dalamnya agar menyembur ke wajahnya. Nikita meminum lendir-lendir itu sebanyak yang dia mampu, dan membiarkan sisanya menetes di bibirnya.

Saat kontol kedua anaknya telah meninggalkan bibirnya, Nikita tersenyum pada suaminya, yang sedang mengentot memeknya sekuat tenaga.

"Aku muncrat, Mamad! Oh Tuhan! Super sekali! Buatlah aku muncrat sayang! Oh, Mamad, Maaaaad! Entot akuuuuuuu!" Nikita menjerit saat orgasmenya mengorbit.

"Terimalah! Terimalah semprotan ku ini! Aku menyemprotkannya, sayang!" Mamad menggeliat, kontolnya muncrat.

Mamad seperti sekarat saat spermanya muncrat dengan hebat ke lobang memek istrinya yang sesat. Itu adalah semburan pertamanya setelah berbulan-bulan lamanya dia tidak mampu mengejangkan kontolnya.

Dia merasa seperti terlahir lagi, sebagai lelaki sejati, yang punya harga diri dan kontol sekeras kayu jati, saat dia menahan dirinya diatas tubuh istrinya, yang wajahnya terlihat sangat bahagia dan bercahaya, laksana bidadari di surga.

Mamad hampir saja kehilangan istrinya yang cantik, seksi dan doyan ngentot itu, dan dia sangat tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi.

Sejauh yang diketahui oleh kedua anaknya, akan ada banyak memek yang bisa dibagi dengan Papanya.

Nikita  sudah berhasil mendapatkan semua yang bisa di inginkannya. Dia bukan cuma mendapatkan kembali kontol suaminya, tapi juga kontol kedua anaknya, untuk membuatnya selalu merasa bahagia, selama-lamanya, sampai akhir hayatnya.

Ranjangnya, sudah tidak kosong dan dingin lagi, begitu juga dengan memeknya.