Ngintip Mama Masturbasi

Air di dalam bak itu suhunya sedikit diatas 100 derajat Fahrenheit. Sandra masuk lalu duduk di dalamnya, menikmati rasa hangat membasuh tubuhnya.
Dengan kepala yang menyandar diatas deck, dan lengan yang terangkat ke tetek, Sandra menghela napas panjang. Di sekelilingnya terdapat pohon-pohon pinus dan pegunungan yang hijau. Bahkan, terdapat sebuah air terjun kecil tidak jauh dari sana. 

Burung-burung bernyanyi dan berdendang, Sandra telanjang, memeknya lagi meriang. Seperti biasanya, Sandra sangat senang berendam di air hangat di awal musim semi, dan terutama dia sangat menikmati bisa telanjang bulat di tempat yang jarang terlihat.

Itu membuatnya jadi merasa sangat bebas, sekaligus juga merasa sangat nakal. Tidak ada orang yang bisa melihatnya disana, rumah mereka berada di puncak bukit yang jauh dari tetangga.

Tidak pernah ada orang yang datang, bahkan para pemburu sekalipun. Disana, tidak ada hal menarik yang bisa memancing orang untuk datang, yang ada hanyalah sebuah jalan yang menuju ke rumah Sandra.

Sandra mendapatkan rumah itu saat bercerai dengan suaminya, bersama dengan tunjangan selama dua tahun.  Selain itu, dia juga mendapatkan hak asuh atas anaknya. Mantan suaminya tidak berjuang dengan sangat keras sehingga Sandra merasa sangat bersyukur karenanya.

Perceraian itu diselesaikan dengan cara yang baik-baik. Tapi semua cinta yang pernah dia miliki untuk suaminya telah hilang, begitu juga sebaliknya. Seperti biasa, mereka tidak pernah belajar dari kesalahan yang pernah diperbuat.

Enam bulan tanpa kontol, adalah waktu yang panjang bagi Sandra untuk dilewati. Jika bisa memilih, dia ingin ngentot setiap hari, pagi, siang, dan malam. Akan tetapi, sayangnya, yang dia punya hanyalah tangan dan jari-jarinya.
Saat matahari sore membakar kulitnya, Sandra memasukkan tangan berserta teteknya yang besar dan kenyal ke dalam air yang hangat itu.

Kulitnya sangat mulus seperti sutra. Dia menamgkup tetekya, lalu meremas-remas daging yang kenyal itu, kemudian menggesek-gesekkan telapak tangannya ke puting-putingnya.

Rasa geli yang nikmat menjalar turun ke perut hingga ke memeknya dan Sandra bisa merasakan clitorisnya jadi menggembung.

Tangannya bergerak ke bawah, jari-jarinya membelai-belai bulu jembutnya yang lebat dan kesat. Sandra merentangkan kedua kakinya, lalu menyentuh clitorisnya, jari-jarinya menyelinap ke bawah dan masuk ke dalaam lobang memeknya yang sempit.
Sandra sangat senang mencumbu dirinya seperti itu, diluar rumah, di dalam sebuah bak air hangat, dengan sinar matahari yang cukup untuk membuatnya berkeringat. Dia sangat senang merasakan dan meraba-raba tubuhnya di tenpat-tempat yang terbuka.

Ya, tentu, jika bisa memilih, dia akan memilih tangan seorang pria yang sedang bergerak-gerak di memeknya itu. Seorang pria dengan sebuah kontol yang indah, yang bisa dia pijat, remas, dan kocok sampai mengeras; mengawasi kepala kontolnya menjadi bulat; lobang kencingnya meneteskan lendir ke telapak tangannya.

Tapi tidak ada pria disana. Satu-satunya pria yang ada disana adalah Doni, tapi dia tidak masuk hitungan. Yang pertama, Doni itu masih terlalu muda, dan yang kedua, Doni itu adalah anaknya sendiri. Itulah urutan yang Sandra berikan pada Doni--yang pertama terlalu muda, yang kedua putranya sendiri.

Tidak pernah terpikir oleh Sandra bahwa, adalah hal yang aneh untuk memikirkan tentang Doni dengan cara seperti itu , tapi tidak akan pernah terjadi apa-apa diantara mereka.

Doni masih itu terlalu muda untuk tertarik dengan seorang cewek dan dia terlalu asyik dengan kupu-kupu koleksinya.
Sandra bisa duduk telanjang seharian di bak itu, tapi anaknya itu tidak akan pernah mau melihat tubuhnya, bahkan jika Doni berdiri disampingnya sekalipun. Titik, Sandra tidak akan mengharapkannya.

Bukannya karena dia tidak punya niat untuk melakukan sesuatu dengan anaknya itu.

Tapi jika Sandra punya kecendrungan yang kuat, mereka tentunya aman, karena berada di tempat yang cukup terpencil untuk bisa melakukan itu.

Sandra menyelipkan jarinya ke dalam memeknya dan mendesah, matanya terpejam saat dia bersandar di deck. Sambil menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk, dia berkhayal tentang seorang pria, siapapun orangnya, mendatangi dia lalu mengentotnya.

Dari sebuah jendela di lantai atas, Doni sedang mengintip Mamanya, tanpa sepengetahuan Mamanya, tentunya. Mungkin Mamanya mengira kalau dia masih terlalu muda, tidak tertarik sama cewek, tapi Sandra salah.

Sejak pertama kali merasakan nafsu birahinya, Doni selalu mengintip Mamanya. Dia sangat senang mengamati tubuh Mamanya, karena membuat kontolnya jadi keras.

Dia cuma bisa melihat bayangan tetek Mamanya dibawah air yang jernih itu, tapi kontolnya sudah mengeras dan berdenyut-denyut di dalam celananya.
Doni tidak tahu apa yang sedang Sandra lakukan dengan tangan yang berada dibawah air itu, tapi dia membayangkan Sandra sedang memasukkan jarinya ke dalam memeknya.

Dia sangat senang membayangkan Mamanya sedang masturbasi seperti itu saat dia mengintip Mamanya sedang berada di dalam bak mandi itu.

Saat Doni membayangkan tentang Mamanya yang sedang masturbasi, dia jadi tidak merasa terlalu bersalah untuk onani. Menurut pemikirannya, kalo Mamanya boleh masturbasi, maka dia juga boleh onani.

Doni belum pernah melihat Mamanya telanjang bulat. Mamanya selalu berada di dalam air sebelum dia sempat melihatnya.
Tapi dia tahu kalau Mamanya itu telanjang bulat-bulat, karena dia selalu bisa melihat teteknya yang menyembul dibawah permukaan air.

Meski sudah berjuang mati-matian, Doni belum berhasil mengintip Mamanya telanjang.

Tapi Doni sudah pernah melihat seorang cewek yang sedang telanjang. Cewek itu tinggal di sebuah rumah yang agak jauh dan terpencil, seperti rumahnya.

Si cewek merasa sangat senang saat Doni mengamati tubuhnya yang telanjang, tapi mereka tidak pernah berani untuk saling menyentuh.

Dengan hasrat untuk bisa melihat tubuh bugil Mamanya, Doni turun ke lantai bawah lalu ke luar. Dia berjalan ke sebuah meja terdekat, menatap Mamanya.

Mendengar anaknya keluar, Sandra segera menjauhkan jarinya dari memeknya yang menjepit lalu tersenyum padanya.

Doni duduk dengan kaki terbuka, pantatnya menempel diatas kursi. Sandra hampir meminta anaknya itu untuk ikut masuk ke dalam bak bersamanya, tapi dia jadi teringat kalo dia sedang telanjang.

Sudah menjadi kebiasaan Sandra untuk berbugil ria dan beberapa kali dia benar-benar jadi lupa akan hal itu.

Dia tersenyum pada Doni, matanya memandang wajah Doni yang muda dan tampan, dengan bola matanya yang berwarna coklat.
Doni adalah seorang remaja yang bertubuh tinggi dan kekar. Celana pendeknya, jenis yang lebar dibagian kaki, melorot ke bawah perutnya.

Saat Sandra memandangi Doni, dia memberanikan diri untuk melihat ke arah selangkangan Doni. Matanya jadi berbinar saat dia bisa melihat ujung kontol Doni. Dia memusatkan pandangannya, dan sebuah desahan kecil keluar dari mulutnya.

Kontol Doni bisa terlihat olehnya. Untuk sesaat, matanya jadi tidak fokus saat rasa geli menjalari tubuhnya. Saat pandangannya kembali jernih, Sandra menatap ke arah Doni, memperhatikan kepala kontolnya dengan lebih seksama.

Sandra jadi berpikir apakah Doni tahu apa yang bisa dilihatnya itu, apakah Doni sengaja duduk dengan cara seperti itu.

Tangan Doni berada dibelakang kepalanya dan wajahnya menatap ke arah matahari, matanya terpejam. Tapi sebenarnya mata Doni tidak tertutup semua, dia sedang mengintip Mamanya, dan dia tahu ke arah mana mata Mamanya sedang memandang.

Sandra mengamati kepala kontol Doni karena percaya mata Doni terpejam. Dia menatap secara terang-terangan, hasrat merasuki ke bola matanya. Dia mendesah lagi saat melihat kontol Doni mulai membesar.

Kepala kontol itu seperti mengintip keluar sampai Sandra bisa melihat semua bagiannya. Ada rasa geli diantara kedua pahanya dan dia kembali memasukkan tangannya ke dalam air lalu ke memeknya.

Sambil menatap kepala kontol anaknya, Sandra mulai menggosok-gosok memeknya ke atas dan ke bawah. Dia mulai merasakan orgasme yang kecil tapi sangat nikmat saat mengamati kontol Doni.

Dia juga bisa melihat salah satu dari biji kontol Doni dan ini membuat nafsu birahinya semakin memuncak. Sebuah jari menyelinap masuk ke memeknya sehingga dia harus menyembunyikan desahannya.

Setelah beberapa menit, Sandra mengira Doni tertidur. Doni memang sering tertidur disana, dan jika dilihat dari dadanya yang naik turun teratur, Sandra yakin kalau Doni sedang tidur.

Sandra ingin keluar dari bak itu tapi tidak bisa selama Doni masih ada disana. Dia tidak membawa jubahnya saat keluar, dan handuknya berada di atas meja disamping Doni. Jadi dia tidak mungkin bisa mengambilnya tanpa membuat Doni terbangun.

Tiba-tiba, dengan tawa genit yang tersembunyi, Sandra memutuskan untuk mengambil resiko. Sekalipun jika Doni tidak sedang tidur, itu tidak masalah.

Jika Doni melihat tubuhnya yang bugil, itu tidak akan ada pengaruhnya. Doni itu masih sangat kecil, pikirnya. Meskipun jika kontolnya mengeras, Doni tetap masih anak kecil bagi Sandra.

Dengan sehati-hati mungkin, tanpa menimbulkan suara riak air, Sandra bangkit dari bak mandi itu.
Dari matanya yang menyipit, Doni melihat tetek Mamanya. Tetek itu sangat full dan kencang, hampir tidak terlihat bergoyang sedikit pun. Puting-putingnya yang sangat keras dan panjang, terlihat oleh Doni. 

Saat Sandra berdiri, mata Doni yang menyipit melihat ke arah perut Sandra, kemudian menetap di bulu jembutnya yang lebat. Bulu-bulu itu tampak hitam dan keriting, dan Doni jadi kecewa karena memek Mamanya jadi tersembunyi.

Setelah mengambil handuk, Sandra membalikkan tubuhnya sebelum melilitkan handuk itu. Doni jadi bisa melihat pantat Mamanya yang montok, dan kata pertama yang muncul dikepalanya adalah "balon."

Pantat Sandra itu seperti dua balon yang indah, pikir Doni. Biji-bijinya terasa geli, batang kontolnya jadi memanjang, membesar dan mengeras, secara full.

Doni mengamati Mamanya yang sedang melilitkan handuk ke tubuhnya lalu mulai berjalan masuk ke dalam rumah. Kedua kakinya sangat panjang juga mulus, dan membuat Doni jadi semakin terangsang.

Doni memang masih muda, itu benar, tapi dia sudah tahu semua tentang memasukkan kontolnya ke memek seorang cewek. Seperti anak laki-laki umumnya, dia mempelajari itu di sekolah dari teman-temannya.

Doni jadi sangat penasaran, seperti apa rasanya kalau kontolnya dimasukkan ke dalam memek Mamanya.