Ngintip Mama Ngentot

Malam ini terjadi lagi. Untuk ke empat kalinya dalam minggu ini, Roni melihat dari balik lobang kunci kamarnya, Mamanya sedang berjalan mengendap-endap masuk ke kamar Toni di tengah malam yang sepi, saat semua orang sedang bermimpi.
Terkadang, Mamanya itu bahkan akan tetap berada di dalam kamar Toni sepanjang malam sampai menjelang pagi. Sehingga Roni jadi penasaran, apa kira-kira yang sebenarnya sedang Mamanya lakukan disana. Apapun itu, tampaknya mereka ingin merahasiakannya dari orang lain.

Roni pernah menanyakan hal itu kepada Toni, adiknya, tentang Mama mereka yang sering berkunjung ke kamar Toni di tengah malam. Tapi tampaknya Toni malah jadi ketakutan dan menghindar, tidak mau menjawab pertanyaan Roni, kakaknya.

Roni jadi ingin menanyakan hal itu kepada Mamanya, tapi setelah melihat reaksi Toni, Roni pun mengurungkan niatnya dan bertekad untuk mencari cara lain untuk mengetahuinya.
Roni memperhatikan adanya perubahan pada sikap Mamanya akhir-akhir ini. Nikita, Mamanya, tiba-tiba jadi tampak lebih bahagia dan lebih ramah. Dan juga, ada sesuatu yang tidak biasa dari tingkah polah Nikita dan Toni, saat mereka sedang berdua saja.

Seolah-olah mereka sedang berkomunikasi tanpa perlu saling bicara, seperti ada sebuah rahasia besar yang ingin mereka sembunyikan dari siapapun.

Roni jadi semakin penasaran, dia harus menemukan jawabannya, dan malam ini adalah saat yang paling tepat.

Roni menempelkan kupingnya ke pintu kamar, sampai dia mendengar Mamanya diam-diam masuk ke kamar Toni, adiknya. Roni menunggu beberapa menit kemudian berjalan berjingkat-jingkat menuju ke kamar Toni. Dia berlutut lalu mengintip dari lobang kunci pintu kamar Toni.

Apa yang Roni lihat dari lobang kunci itu membuatnya sangat terkejut.

Di dalam kamar itu, mereka berdua, Mamanya dan Toni, sedang berada dalam keadaan bugil, telanjang bulat-bulat, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka, alias polos, sama sekali tidak berpakaian, baik itu pakaian luar maupun pakaian dalam, tanpa merasa kedinginan, padahal saat itu kan tengah malam.
Ya, wajar saja kalau mereka tidak kedinginan, walaupun telanjang bulat di tengah malam, karena saat itu mereka sedang berdiri saling berpelukan, dengan erat dan sangat rapat.

Tubuh bugil mereka saling menekan dan menempel serta menggesek juga menggosok satu sama lain. Tangan-tangan mereka sibuk saling meraba-raba tubuh lawan mainnya.

Dan  bukan itu saja, mereka berdua juga sedang berciuman, di mulut, saling menghisap dan menjilat.

Perbuatan mereka itu sungguh menjijikkan, tidak berkemaluan, melanggar kesusilaan, dan diluar batas kesopanan.

Roni hampir jatuh pingsan saat Toni melangkah mundur sehingga kontol besarnya jadi terlihat. Itu adalah hasil perbuatan Mamanya pada Toni.

Kontol Toni yang keras itu sedang menekan-nekan paha Mamanya. Saat Mamanya meraih dan melingkarkan tangannya dengan begitu beraninya ke kontol adiknya yang sedang ngaceng itu, Roni jadi semakin merasa yakin seyakin-yakinnya, bahwasanya perbuatan itulah yang mereka selama ini ingin mereka sembunyikan.

Bocah itu jadi tidak dapat menahan dirinya untuk terus mengintip dan melihat serta memperhatikan tubuh bugil Mamanya. Teteknya besar, terlihat sangat lezat dan nikmat untuk diraba dan dikenyot. Tanpa sadar, Roni jadi ingin bisa merasakannya juga.

Puting-puting Nikita tampak begitu lancip, menonjol, menantang, dan menjulang, di atas gunung-gunungnya yang membusung, menanti dan memohon untuk dipijit dan dihisap.
Nikita membalikkan tubuhnya sedikit ke arah pintu, sehingga Roni jadi bisa melihat bulu-bulu jembutnya yang begitu halus dan rapi. Tidak heran kalau kontol Toni jadi mengejang karenanya. Bahkan, kontol Roni yang sedang mengintip juga jadi ikut tegang karena pemandangan yang mengagumkan seperti itu.

Roni merasakan kalau kontolnya semakin lama jadi semakin membesar di dalam celana piyamanya, saat dia terus mengintip.

Dia mengintip adiknya sedang duduk di tepi ranjang, kontol besarnya sedang mengangguk-angguk diantara kedua kakinya. Nikita, Mama mereka, bergerak mendekati Toni lalu menawarkan teteknya kepada Toni, dengan cara mengangkat-angkat tetek besar yang ada di tangannya.

Roni melihat bibir Toni kemudian menghisap-hisap puting Mamanya, dan terus menghisapnya dengan rakus, baik yang sebelah kiri maupun yang kanan. Dan saat Toni sedang asyik menghisap, tangan Nikita bergerak ke selangkangannya dan mulai menggesek-gesek memeknya sendiri.
"Oh God, Mama merasa sangat hot malam ini, Toni!" kata Nikita dengan suara yang mendesah karena memeknya sangat basah. "Mama sedang sangat ingin merasakan lagi kontol besar mu itu di dalam mulut ku. Mama sedang kehausan sayang, ingin menghisap dan meminum sperma mu. Maukah kau memberikan sperma mu pada Mama mu yang sedang kehausan ini sayang?"

"Mama kan tahu, aku ini anak yang sangat berbakti. Tentu saja aku akan memberikan sperma ku sebanyak yang Mama mau. Nih, ambilah sendiri, sesuka hati Mama!" kata Toni sambil nyengir, menyodorkan kontolnya yang besar.

Roni hanya bisa mengintip saat Toni, adiknya, memberikan kontolnya yang besar dan panjang itu kepada Mamanya. Toni merentangkan kedua kakinya, lalu menyodorkan kontolnya.

Nikita, Mamanya, kemudian berlutut di hadapan Toni, mengagumi lalu memegang kontol Toni, kemudian mulai memasukkan kontol itu ke dalam mulutnya, lalu menghisapnya, mengulum-ngulum kontol Toni itu, dari ujung kepalanya, sampai ke pangkalan nya.

Roni yang sedang mengintip, ikut-ikutan merasa bernafsu jadinya. Dia belum pernah menyaksikan adegan yang sehebat itu seumur hidupnya.

Memang, kontolnya pernah dipegang dan dicium oleh Linda, pacarnya, tapi tidak sampai dihisap.

Sedangkan adiknya, sedang duduk dengan nyamannya disana, dengan kontol yang sedang dihisap-hisap oleh Mamanya, beruntung sekali dia. Roni jadi merasa seperti seorang pecundang.

Sementara, kontol Roni jadi semakin tegang, resah, gelisah dan basah di dalam celananya, mengejang-ngejang dan menerjang, seolah-olah ingin merobek dan melobangi celananya itu.

Dia jadi tidak tahan untuk tidak meraih dan menggenggamnya, kemudian mengocok-ngocok kontol itu sambil terus mengintip Mamanya yang sedang asyik menghisap-hisap dan mengulum-ngulum kontol adiknya.

Roni bisa melihat dengan jelas, saat Nikita membuka mulutnya, lalu menelan habis semua batang kontol Toni yang ada dihadapannya. Roni juga bisa mendengar Nikita yang mengeluarkan suara-suara seperti orang mengorok dan digorok saat kontol Toni yang besar dan panjang itu menyndul-nyundul tenggorokan Nikita.

Tanpa sadar, Roni jadi membayangkan betapa nikmatnya kalau bibir Mamanya itu saat sedang menghisap-hisap dan mengulum-ngulum kontolnya, dan semakin asyik dia membayangkannya, biji-biji kontolnya jadi semakin terasa kejang.

"Oh, yeah, Mama! Hisapan dan kuluman mulut besar mu itu terasa nikmat sekali di  kontol ku!" rintih Toni, berusaha memberikan semangat dan amanat kepada Mamanya yang sedang asyik menghisap.

Sambil terus menghisap, tangan Nikita pun tak pernah berhenti bergerak. Telapak tangannya menggesek-gesek memeknya yang basah. Sedangkan jari-jarinya, menggaruk-garuk bibir-bibir memeknya yang terasa sangat gatal, sehingga pantat montok Nikita jadi menggelinjang dan bergoyang-goyang karena kegelian.

Roni jadi penasaran apakah Toni pernah memasukkan kontolnya ke dalam memek Mamanya itu. Roni selalu ingin melakukan itu pada seorang cewek, tapi sejauh ini belum ada cewek yang berhasil dia rayu sehingga mau menyerahkan memeknya untuk dimasuki oleh kontol Roni.

Dia jadi merasa sulit untuk percaya kalau Mamanya itu akan membiarkan Toni untuk memasukkan kontolnya ke memek Mamanya, tapi saat ini dia sedang menyaksikan sendiri hal-hal yang tadinya dia anggap mustahil.

Roni mulai mengosok-ngosok kontol yang masih terbungkus celananya, menekan-nekan kontol itu ke kakinya sehinggga membuat nafsu birahinya semakin bergolak.

Dia mengintip kepala Mamanya sedang mengangguk-angguk di kontol Toni, sehingga dia juga jadi merasa sangat ingin Mamanya itu melakukan hal yang sama kepada kontolnya. Dia merasa sangat kagum pada Mamanya, karena mampu menelan habis semua batang kontol Toni yang panjang itu, hingga lenyap ke dalam mulut dan tenggorokannya.

"Telan semua kontol ku mentah-mentah Mama! Hisaplah, sedotlah sampai kering kerontang! Oh, Mama ku, hisapan dan kuluman mu terasa sangat nikmat sekali!' kata Toni yang terdengar oleh Roni.

Mendengar suara rintihan adiknya itu, Roni pun jadi tidak sanggup lagi menahan diri, dia melorotkan celana piyamanya lalu mulai mengocok-ngocok kontolnya yang sudah sangat tegang. Adegan yang sedang diintipnya itu sungguh amat sangat erotis, sehingga kontolnya jadi iri dan sangat ingin dihisap-hisap juga.

Lama-lama kontol Roni yang sedang dikocok-kocoknya sendiri itu pun mulai mengeluarkan lendirnya, yang kemudian diolehkannya ke semua bagian kontolnya, dari ujung kepala hingga ke pangkalnya, sehingga membuat kontolnya yang panjang itu jadi licin karena lendirnya sendiri.

Roni mempercepat gerakan tangannya yang mengocok-ngocok kontolnya sendiri, sambil kedua matanya tak pernah bisa berhenti mengintip perbuatan yang sedang dilakukan oleh Toni dan Mamanya.

"Ndak lama lagi kontol ku bakal muncrat Mama. Aku akan mengisi mulut Mama itu dengan sperma ku! Sedotlah! Minumlah sperma ku sampai Mama kenyang! Biji-biji kontol ku sudah semakin tak karuan!"
Nikita yang sedang mengulum dan menyedot kontol Toni itu merasa sangat terkejut oleh jumlah sperma yang mampu disemprotkan oleh kontol Toni yang masih bocah itu. Dia mencoba dan terus mencoba untuk menelan dan terus menelan semuanya. Tapi apa daya, jumlahnya terlalu banyak, sehingga sperma Toni itu meluber keluar dari mulutnya, lalu jatuh dan membasahi dagunya.

Setelah kontol Toni selesai menyemprotkan satipatinya, Nikita mengeluarkan kontol anaknya itu dari dalam mulutnya, lalu menahan kontol itu agar tetap berada di depan mulutnya, kemudian dia menjilati kepala kontol yang masih terbalut lendir dan mulai melemas itu.

Setelah kepala kontol Toni dijilat sampai bersih, Nikita pun menjilati bibirnya sendiri sampai semua lendir yang menempel disana lenyap tak tersisa. Dia tersenyum bahagia pada Toni, anaknya yang saat itu sedang mengocok-ngocok kontolnya yang baru saja memuntahkan spermnaya, dan menunggu perintah berikutnya dari Nikita.