Nikmatnya Memek Nyonya

Tangan Nikita menuju ke selangkangannya lalu membuka bibir-bibir meeknya lebar-lebar untuk Joni. Saat dia merasakan jari-jari bocah itu meyentuh memeknya yang sensiitif, dia hampir jatuh pingsan karena keenakan.
Memek Nikita terasa berdenyut dan geli sekali saat jari jemari Joni menguusap-usap dan membuka belahan bibir memeknya.

Bocah yang sedang horny itu pun memasukkan salah satu jarinya ke dalam, kemudian menyusul jari yang kedua, jari yang ketiga ikut menyusul, lalu yang ke empat dan kelima, sampai akhirnya semua tangannya masuk ke dalam memek Nikita.

Joni meraskan daging memek Nikita itu meutup disekitar tangannya, meraaskan memek itu seperti sedang meremas-remas tangannya yang sedang berada di dalam, ajaib memang.

Sehingga bocah lugu itu pun jari mulai berpikir gimana rasanya kalau batang kontol ku yang sedang diremas-remas oleh memek Nikita itu.

"Gerakkan jari-jari mu keluar masuk, sayang! Oh sayang! Ya, ya, seperti itu! Oh Tuhan, ampunilah aku! Rasanya enak sekali Tuhan! Entot aku dengan jari-jari mu itu ya Joni. Biarlah Tuhan hanya menyaksikan saja. Entot aku ya sayang. Buat aku jadi ketagihan."

Memek Nikita sepertinya semakin lama jadi semakin becek saja. Semakin cepat Joni memasukkan dan mengeluarkan jarinya di memek itu, semakin becek jadinya, mana ga ada ojek lagi.

Jari-jari Joni itu jadi menghasilkan suara becek, kecepak-kecepok, mirip suara orang yang sedang berlari-lari di tempat yang becek.

Suara-suara becek itu membuat Joni merasa kehausan dan ingin merasakan lendir-lendir memek Nikita yang membasahi jari-jarinya. Joni pun mengeluarkan jarinya itu dari dalam memek Nikita lalu menjilatinya.
"Apa rasa memek ku ini enak, sayang?" tanya Nikita dengan suara yang serak karena nafsunya.

Nikita pun menengok ke bawah dan melihat bocah itu sedang asyik menjilati jari-jarinya sendiri. Dari situ, Nikita jadi tahu kalau sekarang Joni sudah merasa lebih siap untuk mulai menjilati memeknya, dan Nikita pun merasa sangat yakin kalau dirinya juga sudah siap untuk dijilati.

Nikita membungkukkan tubuhnya ke atas wajah Joni lalu menurunkan dan mengarahkan memeknya pelan-pelan ke mulut pemuda yang  menjadi korbannya itu. Dia menutup matanya dan menunggu kenikmnatan yang akan segera datang, saat lidah dan bibir Joni mulai menjilati dan menghisap memeknya.

Aroma yang lembab dan pengap dari memek Nikita itu membuat Joni jadi hilang kesadarannya. Dia menghirup aroma memek itu dalam-dalam lalu mengangkat kepalanya.

Saat bibir-bibir memek Nikita sudah sangat dekat dengan bibirnya, Joni menjulurkan lidahnya ke memek itu. Dia mulai menjilat-jilati memek Nikita itu, lidahnya merayap kesana kemari di memek yang basah itu, hingga membuat tubuh Nikita jadi gemetaran karena saking nikmatnya.

"Joni! Oh, Joni! Kau adalah seorang penjilat sejati! Jilatilah memek ku sesuka hati! Membuat ku jadi horny setengah mati! Oh, kekasih hati, tusukkan lidah mu laksana besi, hisapan mu bak mentari di pagi hari, terasa sangat hangat sekali!"

Karena tak tahan dengan kenikmatan yang dirasakannya, tanpa sadar dan tanpa nalar, Nikita pun jadi melantunkan ayat-ayat puisi karangannya sendiri.

Sedangkan Joni tengah asyik sendiri, memain-mainkan lidahnya, memasukkan, mengeluarkan, membasuh dan melingkari memek Nikita dengan lidahnya yang tebal dan kasar itu. Dia juga bisa merasakan kalau memek Nikita itu juga bisa menghisap dan menjepit-jepit lidahnya.

Lendir-lendir memek Nikita jadi mengucur dan merembes dengan bebas, yang kemudian di sedot habis oleh si Joni. Kontolnya jadi manggut-manggut seperti perkutut di selangkangannya, saat si Joni sedang sibuk memainkan lidahnya.
Dia belum pernah merasakan pengalaman yang sejorok ini seumur hidupnya, menjilati dan menghisap-hisap memek seorang wanita, yang umurnya hampir sama dengan umur Mamanya.

"Clitoris ku, nak Joni! Clitoris ku itu lo, mbok ya di jilatin juga to, jangan cuma dianggurin aja, kasian dia!" Nikita memprotes, jarinya menekan biji kelentit yang berada di antara belahan memeknya itu. "Clitoris ku itu enak juga lo nak Joni buat di jilat-jilat dan di isep-isep. Monggo, dicobain, pasti nak Joni bakal ketagihan."

Joni melakukan apa yang disarankan Nikita. Ujung lidahnya menekan clitoris Nikita hingga membuat wanita yang tak berbusana itu jadi menggigil karena nikmatnya.

Tubuhnya jadi mengejang setiap kali Joni menggesekkan lidahnya ke clitoris Nikita. Kemudian Joni mengapitkan bibirnya ke benda yang kecil dan bulat itu, lalu menghisap-hisap dan membasah-basahi daging yang tumbuh di tempat tersembunyi itu.

Nikita meritih-rintih karena kenikmatan yang dia rasakan pada nonoknya yang gatal dan sedang digaruk-garuk dengan lidah dan bibir Joni.

"Oalaaaa...nak Joni, opo bener koe itu sama sekali belum pernah melakukan yang seperti ini,? Rasanya koq nikmat sekali ya! Aku jadi pingin merasakan kontol mu sekarang! Aku pengin kau mengentot ku sekrang juga nak Joni!" kata Nikita sambil berteriak dan berjingkrak-jingkrak.
Joni pun sudah siap, kontolnya sudah sekeras batu. Dia sudah ingin segera memasukkan batu... eh.... kontol itu ke dalam memek Nikita, mulai sejak pertama kali Nikita memamerkan memek itu kepadanya. 

Hanya dengan memikirkan betapa nikmat rasanya kalau kontol itu di masukkan ke nonok Nikita sajs, sudah membuat Joni jadi semakin tidak karuan.

Nikita pun bergerak ke bawah diatas tubuh kekar anak itu lalu memposisikan memeknya diatas kontol Joni. Dia membidik dan mengarahkan lobang nonoknya yang basah kuyup itu agar tepat berada di atas kepala kontol Joni. 

Setelah semuanya pas, dia menekan memeknya ke kepala kontol itu.

Kemudian, Nikita menggsek-gesekkan memeknya ke batang kontol Joni, untuk membuat kontol itu jadi basah dan licin dengan lendir memeknya, lalu dia menekan pantatnya ke bawah agar memeknya bisa melahap dan menelan habis kontol itu dengan rakusnya.

"Wadaw! Rasanya enak banget, Nyonya Nikita. Aku koq ya baru tahu kalau rasanya senikmat ini!" bocah itu mengerang, mengangkat pahanya dari atas ranjang untuk menusuk lobang nonok Nikita dengan kontolnya.

"Masukkan kontol mu lebih dalam lagi, nak Joni! Entot aku ya! Naiklah ke atas tubuh ku yang moontok ini lalu ayun-ayunkan kontol mu ke memek ku!" Nikita merintih, membalikkan tubuhnya agar terlentang kemudian membuka kedua pahanya lebar-lebar untuk Joni.

Joni merangkak ke atas tubuh molek Nikita kemudian mengarahkan kontolnya ke lobang yang basah dan licin itu.

"Ayo sini aku bantu nak Joni!" kata Nikita tidak sabaran, tangannya menjangkau ke bawah menangkap kontol Joni lalu mengarahkan ujung tongkat itu ke lobang memeknya.

Nikita memejamkan matanya, bukan untuk berdoa, melainkan untuk mempersiapkan dirinya yang akan kemasukan benda tumpul. Dia tidak mengharap Joni untuk bersikap lembut padanya. Dia tahu kalau Joni itu masih belum punya pengalaman hingga wajar jika merasa sangat gugup dan terburu nafsu untuk menghujamkan kontolnya.

Nikita berharap agar Joni mengentotnya dengan sekuat tenaga dan secepat kilat, dan dia pun mendapatkan apa yang di doakannya. Dia merintih saat Joni menghantamkan kontolnya dengan sekuat tenaga ke nonok Nikita hingga ke biji-bijinya, hanya dalam satu kali hentakan.

"Apa aku menyakiti mu, Nyonya Nikita?" tanya Joni, merasa bersalah dan berdosa karena telah mengentot Nikita.

"Oh, ya ndak to, nak Joni! Malah, aku merasa senang sekali dientot oleh mu! Entotlah diri ku ini dengan sekuat tenaga mu! Oh, nak Joni, kontol mu itu lo, besar, panjang dan keras sekali! Aku bisa merasakannya di dalam memek ku! Bergoyanglah, gerakkan kontol mu keluar masuk! Entot aku ya, nak Joni! Monggo!" kata Nikita dalam logat Jawa yang kental dan kenyal.

Tanpa ragu dan malu lagi, Joni pun mulai mengentot Nikita dengan gagahnya. Dia menghujam-hujamkan pantatnya dengan sekuat tenaga, hingga membuat kasur diranjang Nikita itu jadi melompat-lompat. 

Biji-biji kontolnya menampar bibir memek Nikita, setiap kali Joni menghentakkan pinggulnya.

Tetek Nikita jadi bergetar dan bergelombang saat Joni sedang memompanya. Memeknya mencengkram kontol Joni seperti sebuah tangan yang kekar. Joni jadi mengalami rasa nikmat yang belum pernah dia rasakan.

"Terimalah ini, Nyonya Nikita! Terimalah persembahan kontol ku ini disana! Oh, Nyonya! Rasanya enak banget!" kata si Joni sambil terus memompa Nikita.
"Entot aku! Entotlah diri ku yang jalang ini duhai bocah yang gagah dan perkasa! Oh, Joni, sudah lama sekali aku tidak merasakan yang seperti ini. Kau membuat ku jadi merasa sangat bahagia, sayang ku! Entot terus diri ku, jangan berhenti ya! Janji ya!" Nikita mengerang, memutar-mutar pinggulnya.

Joni merasakan biji-biji kontolnya semakin lama semakin mengeras. Dia juga merasakan tekanan-tekanan yang semakin meningkat diselangkangannya. Dari situ, dia jadi tahu kalau tidak lama lagi kontolnya akan segera memuncratkan isinya ke dalam memek Nikita yang menghisap-hisap itu.

Dia merasakan kuku-kuku jari Nikita yang mencakar dan mencengkram punggungnya dengan kuat, laksana kucing yang sedang sekarat sambil manjat.

Suara-suara ngentot memenuhi kamar Nikita itu, erangan, rintihan dan desahan bersatu padu dengan suara-suara daging basah yang saling bertabrakan dan bergesekan.

Napas Joni jadi semakin ngos-ngosan saat dia mengentot Nikita dengan gerakan-gerakan secepat kilat. Sedangkan Nikita malah kehabisan napas karena rasa nikmat yang tak tertahankan, setelah bertahun-tahun tidak pernah lagi dientot.

"Oh, Tuhan! Ampunilah aku! Sebentar lagi aku akan muncrat, boleh ya Tuhan! Oh Joni, kau membuat ku jadi pingin muncrat, makasih ya, dan jangan lupa untuk terus mengentot! Pompa terus ya! Semprotkan sperma mu ke dalam lobang memek ku ya! Kosongkan biji-biji kontol mu, ya! Aku muncrat sekarang, ya!" Nikita mengejang saat memeknya mencengkram.
"Aku juga ikut muncrat ya Nyonya Nikita! Bolehkan, ya? Aku akan menyemprotkan sperma ku ke nonok mu, Nyonya Nikita! Terimalah dengan nonok yang lapang!" kata si bocah.

Joni tahu kalau dia tidak sedang bermimpi basah saat merasakan biji-biji kontolnya membengkak. Tubuhnya jadi kejang-kejang saat gelombang-gelombang orgasmenya melanda. Karena saking lamanya, dia jadi mengira kalau orgasmenya itu tidak akan pernah berhenti.

Memek Nikita seperti sedang menghisap-hisap dan memerah kontolnya sampai semua spermanya tidak lagi tersisa.

Nikita hampir pingsan saat merasakan sperma anak itu menyembur ke dalam nonoknya, menyemprot semua dinding lobang nonoknya dan mengisi penuh dirinya dengan sperma itu.

Dia menggeliat dan meronta-ronta saat badai orgasmenya menghantam. Memeknya mencengkram kontol Joni, menahannya agar tidak pergi keluar dan meninggalkan lobang nonoknya itu kosong melompong tak berpenghuni.
Sperma Joni membanjiri memeknya hingga merembes dan membasahi pahanya. Itu adalah orgasme pertama yang dia rasakan setelah lebih dari satu tahun, dan dia berniat untuk tidak segera bertobat karena masih ingin merasakan yang seperti itu lagi bersama si Joni.

"Itu tadi super sekali, nak Joni! Kau membuat ku jadi orgasme dengan nikmatnya. Kau bisa cepat mengerti dan menguasai ilmu entot-mengentot. Kau pintar sekali!" bisik Nikita di telinga Joni yang terkulai lemas diatas tubuhnya.

"Tidak bisa dipungkiri, rasanya memang super sekali Nyonya Nikita! Apa aku boleh mencabut kontol ku dari memek mu sekarang?" tanya Joni dengan lucunya.
"Oh, ya, ma'af, tentu saja! Saking enaknya, aku jadi lupa untuk melepaskan cengkraman memek ku di kontol mu. Nah, sudah, kau bisa mencabutnya sekarang, tapi ijnkan aku untuk menghisapinya lagi supaya bisa kembali mengeras. Dan setelah itu, kita jadi bisa ngentot lagi, gimana nak Joni?" tanya Nikita dengan suara yang mendesah.

"Ngentot lagi? Kau serius?" tanya Joni kegirangan.

"Itu kalau kau masih mau dan mampu, nak Joni!"

"Oh, aku pasti mau dan mampu Nyonya Nikita! Sudah tentu aku sangat mau dan mampu mengentot mu sepanjang hari, karena rasanya sangat enak!" jawab bocah itu, menarik keluar kontolnya dari jepitan memek Nikita lalu duduk di sebelah Nikita.

"Kau hebat! Kau memang tipe anak muda yang aku butuhkan, nak Joni. Semangat mu begitu tinggi, begitu juga dengan nafsu mu. Kau memang idaman ku!" kata Nikita dengan sikap yang manja dan mesra, lalu melingkarkan bibir basahnya ke kepala kontol Joni yang basah.

Nikita menghisap semua lendir yang menempel di biji kontol Joni lalu menjilati batang kontolnya hingga membuat anak itu jadi ngaceng lagi. Dia memasukkan jarinya ke memeknya lalu mengentot dirinya sendiri sambil menghisap-hisap kontol Joni.
"Kennapa kita tidak mandi dulu bareng-bareng, nak Joni? Biar seger!" saran Nikita.

"Mandi bareng, Nyonya Nikita? Wow! Super sekali! Pasti sangat asyik!"

"Oh, dijamin. Aku akan membolehkan mu untuk menyabuni memek ku, sedangkan aku akan menyabuni kontol mu. Dengan mandi bareng, itu akan membuat nafsu kita jadi bangkit lagi, nak Joni, percaya deh," kata Nikita, lalu turun dari ranjang dan menuntun Joni ke kamar mandi.