Nikmatnya Ngentot Mama

"Apa Mam? Kau ingin aku... mengentot mu? Mama ku sendiri?" tanya Toni, merasa kurang yakin dengan maksud dari perkataan Mamanya.
"Ya, seperti itu, sayang! Tidakkah itu terdengar nikmat dan sesat? Itu karena Mama sangat ingin kau menjadi tahu, melalui pengalaman mu sendiri, hal-hal yang bisa dilakukan oleh memek Mama mu yang hangat dan nikmat ini pada kontol mu yang besar dan panjang itu. Mama ingin kau melanggar semua larangan, melakukan hal-hal yang tabu, dan menikmati semua kegiatan yang terlaknat itu bersama Mama. Mama ingin kau mengentot Mama sayang, dan terus mengentot Mama sampai Mama tidak sanggup lagi, Toni, anak ku sayang!"

"Oh, yeah! Seperti itu ya Mam! Baiklah, ayo kita lakukan. Aku akan mengentot Mama sampai pagi! Tapi.... Mama tolong ajari aku ya... karena inikan pengalaman ku yang pertamax."
"Mama tahu sayang, kau belum pernah ngentot dengan siapapun. Dan Mama adalah wanita pertama yang akan memberikan memeknya untuk mu. Kau sama sekali ndak usah khawatir. Mama yakin, kau pasti akan bisa mengentot Mama layaknya seorang pria idaman. Mama tahu benar kemampuan anak-anak Mama. Nah, nikmatilah memek Mama mu ini sayang! Entotlah sesuka hati dan sepuas kontol mu!" kata Nikita dengan tenangnya lalu terlentang dan membentangkan kedua kakinya yang mengangkang, memberikan akses gratis pada anaknya yang horny.

Dengan gaya yang manja, Nikita memberikan isyarat kepada Toni untuk menaiki tubuhnya. Dia melihat kontol besar dan panjang milik anak itu jadi mengangguk-angguk di depan perutnya.

Kontol yang panjang itu tampak sedang berdiri tegak lurus dengan gagahnya, terlihat begitu kekar dengan urat-urat besar yang melilit seperti akar, di sepanjang batangnya yang begitu gemuk dan lebar, hingga membuat Nikita jadi semakin tidak sabar untuk segera merasakan betapa nikmatnya saat benda itu keluar masuk di memeknya yang terasa semakin sangat gatal.

Nikita mengulurkan tangannya lalu meraih kontol itu dengan tangannya yang hangat, dan menarik Toni agar semakin mendekat.

"Mulailah mengentot ku, Toni, bocah nakal! Tunjukkan pada Mama seberapa perkasanya kah diri mu! Mama sudah sangat rindu ingin merasakan kontol yang indah itu! Cepatlah sayang!"

Dengan semangat yang amat sangat, Toni merangkak naik ke atas tubuh Nikita. Lalu, dengan gugup dan jantung yang berdegub-degub, dia mulai mengarahkan kontolnya yang keras untuk membidik lobang memek Nikita yang sedang menunggu dengan tidak sabar.

Karena Toni belum punya pengalaman, maka wajar jika bidikan kontolnya itu selalu meleset. Kadang terlalu ke kanan, kadang juga terlalu ke kiri, atau terlalu ke bawah, dan yang berikutnya malah terlalu ke atas. Keterlaluan sekali dia.

Melihat bidikan-bidikan kontol anaknya yang selalu meleset itu, Nikita akhirnya jadi kesal dan tidak sabaran. Dengan geram dia mearaih dan mencengkram kontol Toni lalu memnadu kepala kontol itu ke lobang yang menjadi sasarannya. Dia jadi kelabakan sendiri saat mulai merasakan kepala kontol itu mulai mengintip dan memaksa masuk ke lobang nonoknya.

"Kenapa Mam? Sakit ya?" tanya Toni, merasa kebingungan dan kasihan, sekaligus keenakan.
"Nggak, sayang, malah rasanya sangat enak! Kontol mu itu rasanya hot banget di lobang memek Mama! Bukan cuma hot tapi juga keras dan kenyal sekali! Masukkan lebih dalam lagi sayang! Tanam lah jagung muda itu sedalam-dalamnya!" rintih Nikita.

Toni memejamkan kedua matanya sambil mendorong pantatnya ke bawah, membenamkan kontol besarnya sedalam-dalamnya, ke lobang memek Mamanya yang berlendir.

Setelah masuk hingga ke pangkalnya, Toni merasakan kalau lobang memek itu terasa seperti sedang meremas-remas dan menjepit kontolnya yang sensitif.

Dia merasakan otot-otot memek Mamanya itu seperti sedang bekerja sama untuk memerah dan memijat-mijat kontolnya, sehingga membuat kontolnya jadi terasa sangat geli, rasa geli bercampur nyeri, yang menjalar ke seluruh urat-urat syarafnya, dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.

Tidak pernah terbayang oleh otaknya yang masih seumur jagung itu, kalau memek seorang wanita bisa punya kemampuan untuk memberikan kenikmatan yang luar biasa seperti itu. Rasanya seperti ada puluhan bahkan ratusan lidah yang sedang menjilati kontolnya, dan ratusan tangan yang memijat-mijat dan mengocok-ngocok kontolnya.
Nikita juga tak mau kalah hebohnya, dia menjerit, merintih, mendesah, dan menggeliat ke enakan, saat merasakan kontol anaknya yang sebesar kontol pria dewasa itu memaksa masuk ke dalam lobang nonoknya yang sempit, basah, licin, becek dan gak ada ojek itu.

Dia bisa merasakan kalau kontol Toni itu telah mengisi lobang nonoknya dengan daging yang kenyal sampai lobang itu menjadi penuh sesak hingga tidak ada tempat lagi untuk bergerak. Lobang memeknya itu seperti sedang di desak-desak agar melebar, meluas, merentang dan membentang.

Sudah lama sekali Nikita tidak merasakan lobang memeknya di lebarkan seperti ini. Dia melihat ke atas dan ternyata si Toni sedang asyik mengamati tetek Mamanya sambil mendorong-dorong kontolnya.

Nikita mengerti jalan pikiran jorok anaknya itu. Dia pun meraih tetek dan meremas-remas teteknya lalu memijit-mijit kedua putingnya yang keras. "Puting Mama ini jadi mengeras sayang! Mama merasa sangat hot! Apa kau menyukai puting-puting Mama sayang?"

"Sudah tentu Mama! Aku menyukai semua bagian tubuh Mama!" jawab Toni sejujurnya, sambil terus mengayun-ayunkan dan memompa pinggulnya.

"Apa kontol mu terasa enak di dalam memek Mama?" tanya Nikita penasaran, dia mengencang-ngencangkan otot memeknya.
"Oh, yeah, Mama! Rasanya hot banget dan becek sekali di dalam sana! Aku baru tahu kalau ngentot itu ternyata senikmat ini! Rasa-rasanya aku jadi ingin terus ngentot seperti ini sampai pagi!"

"Mama tahu itu sayang. Dan kau boleh melakukannya. Kita akan ngentot terus sampai pagi. Kontol mu juga rasanya enak sekali, begitu keras dan hangat! Oh, yeah! Nikmatnya! Nonok ku jadi meregang, semakin basah! Mama sangat suka sekali! Entot terus Mama mu ini ya sayang!" Nikita mengerang, mengejang dan menerawang.

"Terimalah, Mam! Terimalah hujaman-hujaman kontol ku ini! Apa aku boleh memompanya dengan lebih cepat Mama? Aku ingin mengentot mu dengan irama ayunan yang lebih cepat dan lebih dahasyat!" bocah itu meracau, rasa kejang di biji kontolnya membuat pikirannya jadi galau.

"Oh, Tuhan, ya! Tentu saja anak ku! Entot lah Mama secepat dan sekuat yang kau mau!"

Setelah mendapatkan izin dari Mamanya itu, Toni pun mulai mengayun-ayunkan dan memompa kontolnya dengan hujaman dan sentakan yang lebih cepat lagi.
Biji-biji kontolnya ikut bergoyang, berguncang dan berdendang riang, menampar-nampar selangkangan Mamanya, setiap kali kontol Toni timbul tenggelam di dalam lubang yang hitam, kelam, di gelapnya malam yang jahanam.

Batang kontol Toni yang basah, licin, dan bergerak dengan sangat cepat itu tak henti-hentinya dan tak bosan-bosannya keluar masuk, menggesek-gesek, menggosok dan mengobok-obok memek Mamanya, sehingga terdengarlah suara-suara daging basah dan becek yang saling bersatu-padu, kecepak kecepok. 

Dia merasakan tubuhnya seperti sedang di setrum-setrum oleh arus listrik yang nikmat, semakin lama semakin kuat, sehingga membuatnya kejang-kejang.

Nikita yang berada di bawah tindihan tubuh Toni itu mengulurkan tangannya lalu mencengkram dan meremas-remas pantat Toni, menarik pantatnya agar lebih merapat.

Bocah itu jadi merasakan kuku-kuku Nikita yang menusuk kulit pantatnya. Dia juga merasakan kaki Nikita yang mengapit dan menjepitnya, menahannya agar kontolnya selalu merapat dengan memek Nikita.
Pada awalnya, Toni dapat menahan tubuhnya agar tidak terlalu menindih tubuh Nikita, tapi saat gairahnya semakin memuncak, dia menurunkan tubuhnya lalu memeluk tubuh montok Nikita dengan erat.

Dada Toni jadi menekan tetek besar yang menonjol dari dada Nikita yang ada dibawahnya, tetek yang dulu selalu dihisap-hisapnya saat Toni masih bayi. Napas Nikita terasa hangat dan lembab di pipi Toni.

"Lebih keras lagi, Toni," bisik Nikita dengan manja. "Mama ingin mendapatkan semuanya, setiap inchinya, beserta urat-uratnya. Isilah lobang Mama itu sampai penuh ya sayang! Ya, seperti itu! Yesss! Yesss! Yesss! Oooooh! Yeeeessssss!"

"Aku nggak tahan lagi Mama! Aku pengen muncrat sekarang juga!" bocah itu gelagapan karena sudah sangat tidak tahan. "Apa aku boleh memuncratkannya di dalam atau Mama ingin aku mencabut kontol ku dan memuncratkannya diluar?"

"Jangan! Jangan dicabut sayang! Mama ingin kau memuncratkannya di dalam saja! Di luar kan dingin! Mana gelap lagi! Inikan sudah malam sayang! Jadi, muncratkan saja di dalam lobang nonok Mama. Isilah lobang itu dengan sperma mu sampai penuh. Oh Tuhan, Mama koq jadi ikut-ikutan pengen muncrat ya. Ya Tuhan, Mama juga jadi gak tahan lagi nih! Mama muncrat duluaaaaan!"

Tubuh montok Nikita jadi kejang-kejang di bawah tindihan Toni. Dia seperti orang yang sedang tenggelam, dengan mata yang terpejam, dan rambut yang kusam, kakinya jadi kram, tapi memeknya tetap mencengkram.
Beberapa saat kemudian, Toni merasakan tubuh Nikita jadi bergetar dengan hebat. Memeknya terasa semakin mencengkram-cengkram, seperti ingin memenggal kontolnya hingga putus.

Sensasi yang sangat nikmat dari cengkraman-cengkraman memek Nikita itu semakin menghancurkan pertahanan kontol Toni yang sedang berjuang keras untuk menahan semprotannya.

Dan saat dia mendengar Nikita melepaskan suara-suara jeritan kenikmatan, dia pun jadi merasa tak sanggup lagi untuk menahan semprotannya, dia harus merelakan spermanya untuk keluar dari dalam kantung kulitnya, lalu menuju ke batang kontolnya, yang kemudian menyembur keluar dari ujung kepala kontolnya.

"Oh, Mama! Aku nyemproooooot! Terimalah semprotan sperma ku ini Mam! Akan ku isi lobang memek mu sampai penuh!" bocah horny itu jadi kejang-kejang saat sedang mengisi lobang Mamanya dengan lendir yang menggumpal dan hangat.