Sedapnya Memek Mama

Nikita mengangkangkan kakinya lebih lebar lagi untuk Toni. Dia mengeluarkan suara-suara desahan kenikmatan saat bibir Toni bergerak semakin dekat ke memeknya.
"Oh, Toni, anak ku sayang! Ciumilah meemek Mama itu!" Nikita merintih, mengharap, memohon, menghiba dan mengangkang semakin lebar saat dia merasakan bibir Toni menempel di memeknya yang gatal.

"Oh, Tuhan. Ampunilah kami. Berilah kenikmatan kenikmatan yang luar biasa dan tiada tara. Jauhkanlah kami dari segala gangguan sampai kami selesai, ya Tuhan!" sebelum memeknya mulai di cium, dijilat, dan dihisap, Nikita  tak lupa untuk lebih dulu berdoa kepada Tuhannya.

Kemudian Mama yang hot itu mulai memberikan pengarahan pada anaknya. "Ciumi yang sebelah sini ya sayang, baunya harum dan rasanya pasti enak, cobalah!" kata Nikita dengan terengah-engah, sambil menunjuk ke clitorisnya yang sedang menunggu dengan resah, gelisah dan basah.
Toni, anak yang sangat patuh pada Mamanya itu, tanpa merasa curiga dan tanpa harus dipaksa, mengarahkan dan mendaratkan ciuman bibirnya ke clitoris Nikita, berkali-kali.

Nikita, sebagai Mamanya, berusaha untuk membantu putranya yang sedang menjalankan tugas. Dia mengulurkan tangannya lalu menjepit dan menarik bibir-bibir memeknya ke masing-masing sisi agar terbuka lebar, sehingga Toni bisa mengakses clitorisnya dengan lebih leluasa.

Awalnya, Toni menciumi clitoris Nikita itu dengan ciuman-ciuman takut yang lembut, akan tetapi, saat tubuh Nikita, Mamanya, mulai menggeliat-geliat karena rasa nikmat yang diberikannya, Toni pun akhir semakin bersemangat dan memperkuat serta memperhangat ciuman-ciumannya.

Dia bahkan mulai mengapit clitoris Nikita itu dengan bibirnya, lalu menghisap-hisap dan menggesek-gesek pentolan daging itu dengan lidahnya, hingga membuat tubuh Nikita jadi menggigil kagelian.

"Oh, anak ku. Mama suka sekali itu! Gunkan lidah mu ya! Manfaatkan organ pemberian Tuhan itu untuk menggesek-gesek memek dan clitoris Mama mu! Apa kau menyukai rasanya nak?"

"Rasanya sedep banget Mam!" kata bocah yang masih lugu tapi sangat bernafsu itu.
"Oh seperti itu! Nah, kalo begitu, ngejilatnya yang lebih rajin dan lebih keras lagi ya sayang! Jangan lupa jilati juga bibir-bibir memek Mama mu! Ya, seperti itu! Awww! Rasanya enak banget, kau membuat Mama jadi kelabakan! Mama jadi merasa sangat hot! Belum pernah ada orang yang membuat Mama jadi begini hot, Toni!"

"Bahkan Papa sekalipun?" tanya Toni merasa bangga dan tidak sadar kalo dia sebenarnya sedang diberdayakan dan dimanfaatkan oleh Nikita.

"Nggak satu pun sayang," kata Nikita berusaha meyakinkan anaknya sambil mengerang-ngerang, melingkarkan kedua kakinya di atas bahu Toni lalu mengapit serta menahan wajah anaknya itu agar tetap menempel di memeknya yang hangat.

"Nah, sekarang, ayo masukkan lidah mu ke lobang memek Mama yang sayang! Masukkan sedalam-dalamnya! Ya, seperti itu! Mama suka sekali rasanya, Toni! Gerak-gerakkan lidah itu di dalam lobang memek Mama ya! Keraskan, gunakan dan manfaatkan lidah mu itu semirip-miripnya seperti sebuah kontol yang kecil!" setelah memberikan pengarahan itu, Nikita pun merintih-rintih.

Toni mengikuti semua petunjuk yang diberikan oleh Nikita, Mamanya yang sangat berpengalaman dalam urusan ngentot-mengentot itu. Dia mendorong masuk lidahnya ke lobang yang ada di depan mulutnya, sedalam-dalamnya.

Saat lidahnya mulai masuk ke lobang yang sempit itu, Toni merasakan lidahnya seperti sedang dijepit dan diterik agar masuk lebih dalam lagi, dan semakin dalam. Dia mendorong lidahnya sedalam yang dia bisa, dan setelah berada di tempat yang terdalam, dia memutar-mutar lidahnya itu.
Nikita, Mamanya, tampak sangat menikmati semua perbuatan anaknya yang kurang ajar dan sedang diberinya pelajaran itu, dan Toni, anaknya, juga tahu kalau Mamanya sangat menyukai apa yang sedang diperbuat olehnya.

Dia masih merasa belum bisa percaya kalau Mamanya itu rela memberikan memeknya kepada dia, anaknya sendiri, tapi kalau memang Mamanya itu benar-benar merelakannya, maka, yang bisa dilakukannya adalah memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Aroma dan rasa hangat dari memek Mamanya itu membuat Toni jadi semakin liar. Menjilati memek adalah sebuah pengalaman terindah dan ternikmat yang pernah dia alami.

Semakin lama dia menjilati, menghisap, dan menyedot lendir memek Mamanya, nafsu birahinya semakin meningkat dengan pesat, dan semakin banyak pula lendir yang dikeluarkan oleh memek Mamanya.

"Oh, Toni, anak ku! Mama jadi ingin menghisap dan mengulum-ngulum kontol mu lagi sayang! Mama jadi sangat membutuhkan sebuah kontol yang keras di mulut Mama yang lapar ini! Mama sangat rindu untuk merasakan lagi kontol yang menyundul-nyundul kerongkongan Mama dan memenuhi mulut Mama dengan daging yang hangat! Ijinkanlah Mama untuk menghisap kontol mu sayang, sementara kau terus menjilati dan menghisap memek Mama!"

Setelah mengungkapkan isi hatinya itu, Nikita membuat posisi 69 lalu segera melingkarkan bibirnya yang hot ke kontol anaknya yang hangat. Tubuh Toni jadi mengejang-ngejang tak terkendali saat Nikita menghisap-hisap kontolnya.

Lidah Nikita, bergerak dengan lincahnya kesana-kemari di kontol Toni, membuat daging kenyal yang tak bertulang itu semakin lama jadi semakin tegang dan kejang.

Nikita pun mulai menggoyang-goyangkan kepalanya naik turun di kontol Toni yang besar dan panjang itu, memasukkan semua batang kontol itu hingga jauh ke dalam keronkongannya.

Si bocah pun tak mau kalah, dia mengencangkan otot-otot pantatnya dan mengayun-ayunkan kontolnya naik turun, keluar masuk dari mulut Mamanya yang hot.

"Hisaplah Mam! Hisaplah kontol ku sedalam-dalamnya!" bocah horny itu memberi semangat kepada Mamanya.

"Katakan pada Mama sayang, berapa banyak yang harus Mama hisap! Katakanlah Toni ku sayang!" Nikita merintih, mengeluarkan kontol Toni dari dalam mulutnya sejenak, kemudian segera memasukkannya lagi.
"Aku ingin semuanya, Mama! Hisap semuanya! Sedotlah sampai habis! Masukkan semua batangnya! Remasi juga biji-bijinya, Mam! Oh, Mama! Kau memang luar biasa! Super sekali!"

Setelah mendengar kata-kata mutiara yang membangkitkan nafsu angkara murka itu, nafsu birahi Nikita jadi semakin membara, sehingga dia pun mulai menghisapi kontol anak itu dengan sekuat tenaga.

Dia juga membiarkan anak itu untuk menjilati dan menghisapi memeknya sampai dia merasa benar-benar sudah tidak tahan lagi dan ingin segera merasakan sebuah kontol besar yang tertancap di dalam lobang nonoknya.

Dia harus mengijinkan, membolehkan, dan mengajarkan anaknya itu untuk mengentot nonoknya. Dia memang tahu kalau perbuatan itu dilarang oleh pemerintah setempat, tapi apa daya, dia terpaksa harus melakukannya, karena tidak ada orang lain yang mau melakukan itu untuknya.

Nikita merasa kalau dirinya harus melakukan perbuatan yang sangat terlaknat dan ternikmat itu, karena memeknya terus saja memohon, mengharap, dan menghiba, untuk segera di isi dan di garuk-garuk dengan kontol Toni, mendambakan lobangnya untuk segera di penuhi dan di isi dengan daging yang kenyal dan lendir yang menggumpal.

"Oh, nikmat sekali Mama! Hisap terus ya! Jangan hentikan perbuatan mu itu! Karena sebentar lagi aku akan segera menyemprot mulut mu yang bawel itu!"

Tapi Toni jadi kecewa, merana, tersiksa, menderita, karena tak bisa segera menyemprotkan spermanya, saat mulut Nikita mengeluarkan dan membebaskan kontolnya.
"Tenang sayang, Mama punya sesuatu yang lebih nikmat untuk mu, Toni. Sebagai pengganti mulut Mama yang mulai pegel ini, Mama ingin menghisap dan menyedot-nyedot kontol besar mu itu dengan memek Mama, gimana? Apa kau setuju dengan usulan Mama ini? Maukah engkau melakukannya? Tidakkah kau ingin mengentot Mama, sayang?" Nikita membujuk sambil duduk dan membungkuk walau agak ngantuk tapi tetap khusyuk untuk di cucuk.