Threesome Sama Mama

"Mama tahu kau pasti mampu memuaskan Mama, Roni. Kedua anak Mama punya kontol yang besar-besar dan panjang," Nikita mendesah, melingkarkan tangannya ke kontol Roni yang tegang.
"Gede banget! Kontol mu ini keras sekali sayang. Kau pasti sedang merasa sangat terangsang. Anak-anak Mama semuanya sama saja, persis seperti Mamanya. Gampang sekali terangsang. Kau sedang merasa sangat terangsang, iyakan, Roni?"  tanya Nikita, sambil meremas-remas kontol Toni.

"Ya iyalah! Mana mungkin aku bisa tahan! Mama sih, main-mainin kontol aku!"

"Jadi, tidak masalahkan, kalau Mama main-mainin kontol kamu?" Nikita pura-pura bertanya, sambil mengocok-ngocok kontol Roni.

"Ya ndak lah Mam. Kalo kata Mama its oke, aku yo mongggo wae. Wong rasane uenak tenan koyo ngene koq," kata Roni, tubuhnya mengejang dari kepala sampai kaki.
"Sungguh amat disayangkan untuk menyia-nyiakan kontol yang sudah terlanjur kejang ini, sayang. Mama rasa kau tadi cuma ingin onani di depan pintu itu, lalu menyemprotkan sperma mu ke atas lantai, iyakan?"

"Iya Mam. Habisnya, aku terpaksa sih. Aku jadi tidak bisa bobok kalo lagi ngaceng begini. Jadi, ya terpaksa, harus dimuncratkan dulu!"

"Itu pasti, sayang. Kau akan memuncratkannnya, berkali-kali. Tapi bukan kau sendiri yang melakukannya. Mama ingin kamu bergabung dengan kami, Roni."

"Joinan, maksudnya Mam?" tanya Roni, agak ragu.

"Iya bodoh. Ternyata otak mu tak sebesar kontol mu ya! Maksud Mama tadi kan sudah jelas, Toni dan Mama ingin kau ikut bergabung dalam kegiatan kami, yaitu menghisap dan mengentot. Mama yakin, Toni pasti tidak merasa keberatan."

Toni tidak mengharapkan hal itu, tapi kalo memang Mamanya ingin dia berbagi dengan kakaknya, itu tidak masalah baginya. Toni merasa benar-benar tidak berdaya di bawah kekuasaan nafsu birahi Nikita, dia pasrah saja dan mengikuti semua kehendak Mamanya itu.

Sejauh ini, Nikita telah banyak memberinya kenikmatan, dan Toni masih ingin lagi dan lagi. "No problemo Mam! Ane manut wae!" kata Toni, kontolnya ikut mengangguk-angguk.

"Ikutlah dengan Mama, Roni" kata Nikita dengan sikap yang manja, menarik kontol Roni dan memandunya ke atas ranjang. "Ndak usah takut sayang, kita akan bersenang-senang malam ini, sampai pagi!"

"Emang kita mo ngapain Mam?" tanya Roni sambil duduk disamping Toni, adiknya.
"Kau akan tahu sendiri nanti, sayang! Apa kau pernah ngentot, Roni! Mama sadar, kalo yang beginian tuh paling susah buat diomongin sama Emak mu, tapi mungkin Mama jadi lebih mudah buat ngajarin kamu, kalo Mama tahu sudah seberapa berpengalaman kah diri mu dalam mengentot cewek. Paham?" tanya Nikita dengan tegas dan mengas, lalu duduk diantara kedua anaknya.

"Oh, seperti itu, aku mengerti Mam. Tapi ini sama sekali belum punya pengalaman apapun Mam," kata Roni, sambil menatap mata Nikita yang buas dan memegang memek Nikita yang panas.

"Kau harus mencobanya, bro!" kata Toni. "Kenikmatannya tiada tara. Dan Mama adalah yang paling nikmat."

"Apa kau ingin menonton Mama dan Toni dulu, Roni?" tanya Nikita, sambil meraih lalu memegangi kontol Toni. "Kami akan memberikan contoh-contohnya kepada mu, sayang."

"Okelah kalo begitu Mam. Jika itu yang terbaik menurut mu! Mama yang paling tau!"

"Baiklah, Roni. Adik mu Toni akan menunjukkan beberapa hal yang sudah Mama ajarkan kepadanya tentang cara ngentot," kata Nikita, memeknya terasa semakin hot saat membayangkan dirinya akan di entot oleh kedua anaknya, sekaligus.
"Yeah, bro, lihat dan pelajarilah aksi-aksi ku berikut ini, man, kau bisa belajar banyak dari ku," kata Toni dengan bangga, karena merasa lebih unggul dari kakaknya. "Kata Mama, aku ini sudah bisa mengentotnya dengan benar."

Roni jadi malu karena harus belajar ngentot dari adiknya, tapi dia tidak berkata apa-apa. Matanya, menjalar kesemua bagian tubuh Mamanya yang montok. Dia mengamati tetek Nikita yang naik turun seiring napasnya. Puting-putingnya tampak runcing dan mencuat. Teteknya terlihat berat, tapi ketat, terasa hangat, nikmat dan kaya akan manfaat.

Roni jadi tidak tahan ingin segera meraba-raba tubuh Nikita yang montok itu. Mulai dari gunung-gunungnya yang tinggi menjulang, hingga ke lubang sarangnya yang tertutup oleh hutan yang cukup lebat dan pekat.

Dia bisa merasakan tubuh Nikita yang hangat disebelahnya dan aroma sedap dari memeknya yang menyebar dan menusuk-nusuk hidupnya, meracuni pikirannya, membuatnya kontolnya jadi mabuk dan mengangguk-angguk ingin muntah.

Nikita pun menyadari betapa besar pengaruh tubuh montoknya yang bugil itu, terhadap kewarasan pikiran Roni. Dia tahu kalao Roni sekarang sudah jatuh ke dalam jebakan lobang memeknya, dan akan melakukan apapun yang diperintahkannya. Nikita ingin menunjukkan pada Roni, kenikmatan apa saja yang sedang menantinya.
"Roni, duduklah disitu dan kocok-kocok dulu kontol mu sambil nonton, ya sayang. Jagalah agar kontol mu itu tetap tegang untuk Mama, ya sayang. Jangan dulu muncrat ya sayang! Mama ingin kau menyimpannya dulu untuk Mama, ya sayang." Kata Nikita kemudian berlutut di depan kontol Toni.

Dengan perlahan dan penuh perasaaan, Nikita menjilati kontol Toni, dari ujung hingga ke pangkalannya. Dia melakukannya dengan sangat perlahan, agar Roni bisa melihat dan mengingat semua itu di dalam otaknya.

Setelah itu, mulut Nikita menerkam biji-biji kontol Toni, menghisap-hisap bola daging itu untuk beberapa lama, lalu melepaskan lagi biji-biji bakso mentah itu dari dalam mulutnya.

Setelah merasa yakin bahwa Roni memperhatikan semuanya dengan seksama, Nikita lalu membuka mulut selebar-lebarnya, memasukkan kepala kontol Toni ke dalam mulutnya yang terbuka itu, lalu merapatkan bibirnya dikepala kontol Toni dan menyedot kepala kontol itu sekencang-kencangnya. Wadaw!!!!
Sambil melakukan semua itu, mata Nikita tak pernah jauh dari Roni, karena ingin mengamati reaksi Roni terhadap aksi-aksinya yang brutal itu.

Menyaksikan itu semua secara live, Roni jadi amat sangat terangsang. Kontolnya semakin membengkak di tangannya yang terus mengocok-ngocok. Biji-biji kontolnya jadi semakin tegang saat Roni membayangkan bibir dan lidah Nikita itu dikontolnya.

Roni merasa sangat yakin kalau Toni sangat menikmnati semua perbuatan Nikita kepada kontolnya. Dia mengawasi dengan sepenuh hati saat tangan Nikita bergerak ke arah memeknya lalu memasukkan jari-jarinya ke belahan yang ada disana.

Nikita membebaskan kontol Toni dari hisapan mulutnya. Dengan satu tangan yang menopang dari dibelakang punggung, Nikita duduk mengangkang, memberikan akses selebar-lebarnya kepada Roni dan Toni untuk melihat dan mengamati memeknya.

Dulu, Nikita adalah seorang atlit senam di sekolahnya, dan sekarang dia sangat senang karena bisa memanfaatkan keahliannya dalam menggerak-gerakkan tubuh. Semakin lama, kakinya terbuka semakin lebar, bergerak dengan binalnya, untuk memamerkan memeknya. Dia tahu kalau mata kedua anaknya itu selalu mengikuti setiap gerakannya.
"Ayo sini, masukkan lidah mu ke dalam lobang memek Mama! Tunjukkan pada kakak mu, betapa ahlinya dirimu dalam hal jilat-menjilat memek. Jilati Mama sayang! Memek Mama sudah sangat gatal dan ingin digaruk-garuk oleh lidah mu yang panjang itu, Toni." Kata Nikita kepada Toni yang lagi bengong.